Beranda | Hubungi Kami | RSS | Facebook |

Website Ikadi Jawa Timur

Kabar Ikadi

Kursus Agama Islam Di Kantor

Agar menjadi umat yang maju, umat Islam harus mengerti  dan berilmu. Dan ilmu yang pertama yang harus diketahui oleh setiap muslim adalah ilmu tentang agama Islam. Karena ini sangat terkait bagaimana seorang muslim dalam menjalani kehidupan dan ibadahnya sehari-hari  yang sesuai dengan ajaran Islam. Tidak hanya mengetahui tata cara ibadah dan kehidupan, umat Islam harus mengetahui juga bagaimana harus membangun keyakinan dan keimanan agar tidak terjebak dalam pemahaman yang tidak diajarkan dalam Islam. Karena dengan keyakinan yang benar, sesorang akan membangun pondasi  kehidupannya dengan cara yang benar pula. Oleh karena setiap muslim mestinya harus belajar dan berilmu agar kehidupannya tidak tersesat dan keliru mengambil jalan. [...]


Lainnya:

Kajian Al-Qur’an

Surat Al ‘Ashr

Allah SWT berfirman yang artinya: Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.

Surat ini termasuk dalam golongan surat Makkiyah, dan surat ini terdiri dari 3 ayat. Di dalamnya terdapat sumpah bahwa manusia berada dalam kerugian dan kesesatan. Kecuali orang yang dipelihara Allah, mereka adalah orang-orang yang beriman dan beramal shalih serta saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran. [...]

Lainnya:

Kajian Hadits

Pembatal Pahala Puasa

Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, ”Siapa yang tidak meninggalkan ucapan dan perbuatan batil, serta perilaku bodoh, maka Allah tidak butuh dia meninggalkan makanan dan minumannya.” (HR. Bukhari dan Abu Daud).  Hadits ini memberikan isyarat tentang pembatal puasa yang bersifat maknawi, yaitu pembatal yang membatalkan nilai dan pahala puasa, apakah sebagiannya atau seluruhnya, tapi tidak membatalkan hukum puasa.  Seseorang yang berpuasa, namun melakukan perbuatan yang diharaman, baik ucapan, perbuatan maupun tingkah laku, maka pahala puasanya akan berkurang ataupun gugur, namun puasanya tetap sah dan tidak diwajibkan mengqadhanya. Berbeda dengan pembatal puasa yang bersifat hukum, jika dilakukan maka puasanya batal, dan dia harus mengqadha di kemudian hari. [...]

Lainnya:

Kajian Umum

Berlomba-Lomba Dalam Kebaikan

Di dalam Al-Qur’an, baik atau kebaikan menggunakan kata ihsan, birr, dan ishlah. Kata ihsan (ahsan dan muhsin) bisa dilihat pada firman Allah: “Dan siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia pun mengerjakan kebaikan dan mengikuti agama Ibrahim yang lurus? Dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayangan-Nya.” (QS 4: 125)

Bila dikaitkan dengan definisi ihsan dalam hadits kedatangan Jibril kepada Nabi Muhammad SAW, maka ihsan adalah perbuatan baik yang dilakukan oleh seseorang karena merasakan kehadiran Allah dalam dirinya atau dia merasa diawasi oleh Allah SWT yang membuatnya tidak berani menyimpang dari segala ketentuan-Nya. [...]

Lainnya:

Ufuk

Palestina Dan Kita

Masjid Al-Aqsha adalah kiblat pertama Ummat Islam, sekaligus masjid termulia ketiga sesudah Masjidil Haram dan Masjid Nabawi, dimana shalat sekali di dalamnya dinilai lebih baik, lebih afdhal dan lebih besar pahalanya daripada 500 kali shalat di masjid lain. Sedangkan Palestina adalah tanah kelahiran para Nabi dan Rasul ‘alaihimussalam.  Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda (yang artinya): Tidak boleh dilakukan perjalanan (dengan niat dan motivasi ibadah ritual khusus) kecuali ke 3 masjid saja: Masjidil Haram, Masjidku ini (Masjid Nabawi di Medinah) dan Masjidil Aqsha (HR. Al-Bukhari dan Muslim). [...]

Lainnya:

Hikmah

Pasca Ramadhan Adalah Pembuktian

Pasca Ramadhan adalah pembuktian, apakah kita termasuk yang benar-benar telah sukses dalam berpuasa Ramadhan yang baru berlalu, ataukah belum dan masih harus introspeksi diri, mujahadah serta banyak belajar lagi dan lagi? Pasca Ramadhan adalah pembuktian, apakah kita telah tergolong para ahli ibadah sejati, ataukah baru sekadar penggembira amal dadakan dan musiman saja? Pasca Ramadhan adalah pembuktian, apakah amal ibadah istimewa sebulan penuh kemaren itu hanya karena faktor bulan Ramadhan sebagai musim amal ibadah, yang serta merta usai dan “bubar” seiring berlalu dan “bubar”-nya bulan teristimewa? Ataukah telah benar-benar demi Tuhan-nya Ramadhan, yang berarti juga Tuhan-nya Syawwal, Tuhan-nya Dzulqa’dah, Tuhan-nya Dzulhijjah, dan seterusnya? [...]

Lainnya:

Kisah

Meneladani Generasi Tabi’in

 Pasca generasi sahabat, datanglah generasi tabi’in. mereka (generasi tabi’in) meniru generasi sebelum mereka dan menjalani hidupnya berdasar sabda Rasulullah Shallallahu Alaihis wa Sallam dan perkataan generasi sahabat. Keteladanan Nabi shalallahu ‘alaihi wassalam dan para sahabat tersebut seakan telah menjadi pelita yang menyinari jalan kehidupan mereka. Sehingga mereka tidak salah dalam menempuh jalan kehidupannya. Ia juga menjadi panduan abadi yang mengatur semua urusan mereka. Sehingga mereka mendapati hidupnya diliputi kebahagiaan dan keberkahan. [...]

Lainnya:

Taujih

Fiqih I’tikaf

Secara bahasa kata i’tikaf berarti tetap pada sesuatu dan menahan diri untuknya, baik yang bersifat positif maupun negatif (QS Al-Anbiya’ [21]: 52). Dan dalam terminologi syar’i didefinisikan sebagai: menetap dan tinggal (berada) di masjid dengan niat taqarrub ilallah (mendekatkan diri pada Allah Ta’ala). Telah terjadi ijma’ (konsensus) diantara para ulama bahwa i’tikaf merupakan salah satu bentuk ketaatan dan cara pendekatan diri (taqarrub) kepada Allah yang sangat dianjurkan dalam Islam, khususnya selama bulan Ramadhan (QS Al-Baqarah [2]: 187) ; HR Al-Bukhari, Abu Dawud, dan Ibnu Majah). Hal itu baik bagi laki-laki maupun perempuan. [...]

Lainnya:

Adab

Al-’Iffah (Kehormatan Diri)

 ‘Iffah ialah: menjaga kehormatan, kemuliaan, martabat dan harga diri dari segala sesuatu yang bisa merusaknya, melecehkannya, merendahkannya, menghinakannya, atau menjatuhkannya, baik di mata diri sendiri, dalam pandangan manusia, maupun khususnya dalam timbangan syariah agama.

Bentuk-Bentuk ‘Iffah

Pertama: Meninggalkan, menjauhkan dan menghindarkan diri dari segala yang dilarang dan diharamkan di dalam syariah agama. Karena kaidahnya adalah bahwa, setiap yang dilarang dan diharamkan di dalam syariah Islam adalah kehinaan. Maka melakukan yang diharamkan adalah tindakan menghinakan dan menjatuhkan kehormatan diri, khususnya di mata Allah lalu di mata diri sendiri dan dalam pandangan orang lain. [...]

Lainnya: