<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Website Ikadi Jatim</title>
	<atom:link href="http://ikadijatim.org/?feed=rss2" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ikadijatim.org</link>
	<description>Mendakwahkan Islam Rahmatan Lil 'Alamin</description>
	<lastBuildDate>Sun, 05 Sep 2010 08:14:34 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Ikadi Jatim Selenggarakan Talkshow Keluarga Qur&#8217;ani</title>
		<link>http://ikadijatim.org/?p=720</link>
		<comments>http://ikadijatim.org/?p=720#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 05 Sep 2010 08:12:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ikadijatim.org/?p=720</guid>
		<description><![CDATA[Sabtu, 31 Juli 2010, Ikadi Jawa Timur sukses menyelenggarakan kegiatan talkshow bertema &#8216;Membentuk Keluarga Qur&#8217;ani&#8217;. Talkshow yang bertempat di Asrama Haji, Sukolilo, Surabaya itu menghadirkan H. Mutammimul Ula, SH dan istri beliau, Wiryaningsih, yang telah sukses menjadikan kesepuluh anak beliau hafal Al-Qur&#8217;an. Hadir dalam talkshow itu kurang lebih 300 keluarga dari berbagai daerah se-Jawa Timur. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://ikadijatim.org/wp-content/uploads/2010/09/talkshow_1.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-721" title="talkshow_1" src="http://ikadijatim.org/wp-content/uploads/2010/09/talkshow_1-300x199.jpg" alt="" width="300" height="199" /></a>Sabtu, 31 Juli 2010, Ikadi Jawa Timur sukses menyelenggarakan kegiatan talkshow bertema &#8216;Membentuk Keluarga Qur&#8217;ani&#8217;. Talkshow yang bertempat di Asrama Haji, Sukolilo, Surabaya itu menghadirkan H. Mutammimul Ula, SH dan istri beliau, Wiryaningsih, yang telah sukses menjadikan kesepuluh anak beliau hafal Al-Qur&#8217;an. Hadir dalam talkshow itu kurang lebih 300 keluarga dari berbagai daerah se-Jawa Timur. Kegiatan talkshow dibagi menjadi dua forum: satu forum untuk orangtua, dan forum lainnya untuk anak-anak mereka.</p>
<p>Dalam talkshow tersebut, Mutammimul Ula yang akrab disapa Bang Tamim bersama istri dan salah seorang putri beliau membeberkan panjang lebar kiat-kiat yang mereka lakukan sehingga kesepuluh anak Bang Tamim bisa hafal Al-Qur&#8217;an. Perlu diketahui, baik Bang Tamim maupun Wiryaningsih sebetulnya sama-sama orang sibuk. Bang Tamim adalah anggota DPR RI dari Fraksi PKS, sedangkan Wiryaningsih adalah Ketua Pengurus Pusat Persaudaraan Muslimah (Salimah). Tetapi, kesibukan yang luar biasa dari pasangan ini tidak menghalangi mereka untuk mendidik seluruh putra-putri mereka menjadi para penghafal Al-Qur&#8217;an.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ikadijatim.org/?feed=rss2&amp;p=720</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>3 Kunci Sukses Ramadhan</title>
		<link>http://ikadijatim.org/?p=713</link>
		<comments>http://ikadijatim.org/?p=713#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 04 Sep 2010 06:40:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Taujih]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ikadijatim.org/?p=713</guid>
		<description><![CDATA[Ramadhan adalah karunia yang luar biasa! Alhamdulillah karunia ini teramat sangat berharga. Tapi, akankah kesempatan berpuasa dapat dijalani sampai akhir? Untuk bisa meraih sukses di bulan Ramadhan ini, ada tiga kunci yang harus kita perhatikan.
Kunci pertama, Ramadhan adalah syahrul muhasabah (bulan bercermin diri).
&#8220;Bila bulan Ramadhan tiba, maka dibukalah pintu-pintu surga, pintu-pintu neraka ditutup dan syetan-syetan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://ikadijatim.org/wp-content/uploads/2010/09/ramadhan_karim.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-717" title="ramadhan_karim" src="http://ikadijatim.org/wp-content/uploads/2010/09/ramadhan_karim-150x150.jpg" alt="" width="150" height="150" /></a>Ramadhan adalah karunia yang luar biasa! Alhamdulillah karunia ini teramat sangat berharga. Tapi, akankah kesempatan berpuasa dapat dijalani sampai akhir? Untuk bisa meraih sukses di bulan Ramadhan ini, ada tiga kunci yang harus kita perhatikan.</p>
<p><strong>Kunci pertama, Ramadhan adalah <em>syahrul muhasabah</em> (bulan bercermin diri).</strong></p>
<p>&#8220;Bila bulan Ramadhan tiba, maka dibukalah pintu-pintu surga, pintu-pintu neraka ditutup dan syetan-syetan pun dibelenggu.&#8221; (HR. Muslim)</p>
<p>Ramadhan merupakan momen penting dan sangat tepat untuk melihat diri kita yang sebenarnya, apa adanya. Karena selama Ramadhan Allah dengan kuasa-Nya membelenggu syetan-syetan. Maka janganlah lagi menuduh syetan ketika kita suka melanggar tuntunan Allah dan bermaksiat kepada-Nya di bulan Ramadhan ini. Itulah kita yang sesungguhnya. Syetan sudah tidak berdaya menggoda manusia di bulan Ramadhan. Berarti pula setiap muslim sangat mungkin memperbaiki kepribadiannya dengan mudah selama bulan Ramadhan ini.<span id="more-713"></span></p>
<p><strong>Kunci kedua, Ramadhan adalah <em>syahrut tarbiyah</em> (bulan pembinaan diri).</strong></p>
<p>Selama sebulan Allah men-training hamba-Nya agar dengan pelatihan ibadah Ramadhan. Dalam pelatihan ini, seorang muslim bisa mendapat gelar agung ‘muttaqin’. Gelar ini jauh lebih tinggi dari gelar Profesor, Doktor, dokterr, insinyur dan sebagainya, karena semua gelar ini diberikan oleh manusia sedangkan gelar ‘muttaqin’ adalah gelar dari Allah Sang Pencipta dan Penguasa tunggal seluruh alam raya. Jika demikian, maka Ramadhan dengan segala jenis ibadah di dalamnya menuju pembentukan pribadi taqwa harus memiliki sentuhan hati, fisik, aqliyah, akhlak, dan juga sosial.</p>
<p>Hati orang arang yang berpuasa seharusnya merasakan nikmatnya zikrullah dan manisnya ibadah dengan ruh keikhlasan yang menyejukkan hati. Sebagaimana Rasulullah menyampaikan hadits qudsi; <em>“Semua amalan anak Adam untuknya kecuali puasa. Puasa itu untuk-Ku.”</em> Fisiknya sepertinya tidak mengenal lelah padahal ia sedang berpuasa, tidak makan dan tidak minum. Subhanallah, keajaiban tuntunan hidup dari Allah. Bukankah perang Badar yang hebat itu terjadi di bulan Ramadhan? Dan Rasulullah saw beserta para sahabat justru memenangkannya. Maka fisik orang yang sedang puasa bagi orang-orang yang soleh tidak mengenal kamus tidur melulu sepanjang hari-hari Ramadhan.</p>
<p>Akhlak yang lebih menawan juga harus terbentuk selama Ramadhan. Karena puasa sejatinya bukanlah sekadar tidak makan dan minum tapi juga menahan diri agar tidak muncul akhlak yang tercela. Subhanalah, bagaimana tidak menawan, Allah dan Rasulullah membimbing orang-orang yang berpuasa agar tidak membalas kejahatan yang dideritanya. Jika demikian mungkinkah orang yang membiasakan diri tidak membalas kejahatan orang lain akan iseng memulai kejahatan kepada orang lain? Inilah bimbingan Ilahiyah: <em>Apabila sesorang diantara kalian sedang berpuasa maka janganlah ia berkata kotor dan janganlah membuat suasana gaduh dan apabila seseorang memaki dia dan menantangnya berkelahi maka katakanlah: ‘Aku sedang berpuasa</em><em>.’</em></p>
<p>Suasana sosial kemasyarakatan juga terasa indah dan begitu damai selama Ramadhan. Dengan ringan hati setiap muslim berebut memberi takjil dan buka puasa. Para dermawan sangat peduli pada para fakir miskin dan anak yatim. Suasana persaudaraan semakin nampak. Ramadhan benar-benar bulan istimewa.</p>
<p><strong>Kunci ketiga, </strong><strong>Ramadhan adalah <em>syahrud</em></strong><strong><em> d</em></strong><strong><em>ua’</em></strong><strong> (bulan berdoa).</strong></p>
<p>وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ</p>
<p><em>“</em><em>Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku</em><em>. M</em><em>aka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.</em><em>”</em><em> (QS. Al-Baqarah</em><em>: 186</em><em>)</em><em></em></p>
<p>Ayat ini terletak persis setelah ayat tentang puasa Ramadhan. Ini menunjukkan betapa sangat pentingnya doa-doa di bulan Ramadhan khususnya pada sepertiga malam yang terakhir. Tidak ada kekecewaan sedikitpun bagi yang memohon pada Allah. Berdoa berarti yakin akan dikabulkan. Berdoa berarti ada harapan besar di masa depan. Berdoa menunjukkan kedekatan. Berdoa berarti ada kesadaran bahwa kita butuh pada Allah. Dan berdoa berarti sikap tawadhu’, jauh dari kesombongan. Juga, berdoa berarti kesuksesan sedang menanti.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ikadijatim.org/?feed=rss2&amp;p=713</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ya, Anda Akan Masuk Surga!</title>
		<link>http://ikadijatim.org/?p=707</link>
		<comments>http://ikadijatim.org/?p=707#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 04 Sep 2010 06:33:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kajian Hadits]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ikadijatim.org/?p=707</guid>
		<description><![CDATA[أَنَّ رَجُلًا سَأَلَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ أَرَأَيْتَ إِذَا صَلَّيْتُ الصَّلَوَاتِ الْمَكْتُوبَاتِ وَصُمْتُ رَمَضَانَ وَأَحْلَلْتُ الْحَلَالَ وَحَرَّمْتُ الْحَرَامَ وَلَمْ أَزِدْ عَلَى ذَلِكَ شَيْئًا أَأَدْخُلُ الْجَنَّةَ قَالَ نَعَمْ قَالَ وَاللَّهِ لَا أَزِيدُ عَلَى ذَلِكَ شَيْئًا
Seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wasallam, &#8220;Apa pendapatmu bila saya melaksanakan shalat-shalat wajib, berpuasa Ramadlan, menghalalkan yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: right;">أَنَّ رَجُلًا سَأَلَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ أَرَأَيْتَ إِذَا صَلَّيْتُ الصَّلَوَاتِ الْمَكْتُوبَاتِ وَصُمْتُ رَمَضَانَ وَأَحْلَلْتُ الْحَلَالَ وَحَرَّمْتُ الْحَرَامَ وَلَمْ أَزِدْ عَلَى ذَلِكَ شَيْئًا أَأَدْخُلُ الْجَنَّةَ قَالَ نَعَمْ قَالَ وَاللَّهِ لَا أَزِيدُ عَلَى ذَلِكَ شَيْئًا<em></em></p>
<p><strong><em><a href="http://ikadijatim.org/wp-content/uploads/2010/09/islam_prayer.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-710" title="islam_prayer" src="http://ikadijatim.org/wp-content/uploads/2010/09/islam_prayer-150x150.jpg" alt="" width="150" height="150" /></a>Seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wasallam, &#8220;Apa pendapatmu bila saya melaksanakan shalat-shalat wajib, berpuasa Ramadlan, menghalalkan yang halal, dan mengharamkan yang haram, namun aku tidak menambahkan suatu amalan pun atas hal tersebut, apakah aku akan masuk surga?&#8221; Rasulullah menjawab: &#8220;Ya.&#8221; Dia berkata, &#8220;Demi Allah, aku tidak akan menambahkan atas amalan tersebut sedikit pun.&#8221; (HR. Muslim)</em></strong></p>
<p>Hadits ini menunjukkan semangat para sahabat dalam menuntut dan memperdalam agama sekaligus semangat beribadah dan gairah yang besar agar bisa menjadi penghuni surga. Ya, semangat. Barangsiapa kehilangan semangat berarti ia siap kehilangan masa depan.<span id="more-707"></span></p>
<p>Perkara kecil saja hanya bisa diraih dengan semangat. Mana mungkin Surga bisa dicapai dengan kemalasan dan modal loyo. Karena itulah Rasulullah selalu berdoa setiap pagi dan sore berlindung dari rasa lemah dan loyo: <strong></strong></p>
<p style="text-align: right;">أَلَلهُمَ اني أَعُوْذ بِكَ مِنَ العَجزِ وَالكَسَل</p>
<p><em>“Ya Allah, sungguh aku berlindung kepada-Mu dari rasa loyo dan malas</em><em>.”</em></p>
<p>Mengapa sahabat Rasulullah saw begitu semangat? Kerinduan kepada surga telah menyulut dan membakar semangat mereka. Inilah pertanyaan-pertanyaan yang sering ditanyakan para sahabat dengan cara yang berbeda-beda. Mereka ingin mengetahui dan memastikan amalan yang bisa menghantarkan mereka ke Surga. Misalnya dalam hadits riwayat Muslim: “Tunjukkanlah kepadaku perbuatan yang bisa mendekatkanku ke Surga dan menjaukanku dari neraka?”</p>
<p><strong>Pentingnya </strong><strong>Shalat dan Puasa</strong></p>
<p>Penanya dalam hadits diatas menanyakan perihal shalat wajib. Ini menunjukkan keyakinan para sahabat dengan gamblang akan sangat pentingnya shalat itu. Ini tidak lain karena shalat itu adalah tiang agama dan tanda utama bagi keislaman seseorang. Hal ini semakin kita pahami ketika Rasulullah saw mengingatkan bahwa ibadah yang pertama kali dihisab pada Hari Kiamat adalah shalat, yang akan menentukan selamat atau celakanya seorang muslim.</p>
<p style="text-align: right;">إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ الْعَبْدُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ عَمَلِهِ صَلَاتُهُ فَإِنْ صَلُحَتْ فَقَدْ أَفْلَحَ وَأَنْجَحَ وَإِنْ فَسَدَتْ فَقَدْ خَابَ وَخَسِرَ فَإِنْ انْتَقَصَ مِنْ فَرِيضَتِه شَيْءٌ قَالَ الرَّبُّ عَزَّ وَجَلَّ انْظُرُوا هَلْ لِعَبْدِي مِنْ تَطَوُّعٍ فَيُكَمَّلَ بِهَا مَا انْتَقَصَ مِنْ الْفَرِيضَةِ ثُمَّ يَكُونُ سَائِرُ عَمَلِهِ عَلَى ذَلِك</p>
<p><em>&#8220;Pada </em><em>H</em><em>ari </em><em>K</em><em>iamat</em><em>,</em><em> pertama kali yang akan Allah hisab atas amalan seorang hamba adalah shalatnya</em><em>. J</em><em>ika shalatnya baik maka ia akan beruntung dan selamat</em><em>.</em><em> </em><em>J</em><em>ika shalatnya rusak maka ia akan rugi dan tidak beruntung. Jika pada amalan fardlunya ada yang kurang maka Rabb &#8216;</em><em>A</em><em>zza wa</em><em> J</em><em>alla berfirman: &#8220;Periksalah, apakah hamba-Ku mempunyai ibadah sunnah yang bisa menyempurnakan ibadah wajibnya yang kurang?&#8221; </em><em>L</em><em>alu setiap amal akan diperlakukan seperti itu.&#8221; (HR. Tirmidzi)</em></p>
<p>Sementara puasa merupakan salah satu rukun Islam dan sesuatu yang fundamental dalam Islam karena banyak hadits menunjukkan hal itu. Jika shalat selalu berulang lima kali sehari dalam kehidupan seorang muslim, maka puasa hanya cukup setahun sekali selama sebulan. Saat itu seorang muslim menahan diri dari rasa lapar dan dahaga, menahan munculnya sifat-sifat tercela dan melatih diri memenangkan akhlak terpuji seperti kesabaran, kemauan yang kuat untuk menggapai ridha Allah, membersihkan diri dari belenggu syahwat dan materi, dan turut merasakan penderitaan orang-orang yang tidak mampu sehingga akan tumbuh rasa kasih sayang dan sikap membantu.</p>
<p>Maka layak bila puasa bisa menghantarkan seorang hamba menuju Surga. Sangat dapat dipahami jika Rasulullah saw mengingatkan bahwa pintu Surga dibuka setiap datang Ramadhan dan pintu neraka ditutup rapat.</p>
<p><strong>Agama ini Mudah</strong></p>
<p>Jawaban Rasulullah yang menjamin Surga ketika menjawab pertanyaan sahabatnya menunjukkan kemudahan Islam dan Allah tidak akan pernah memberikan beban yang menyulitkan dan membebani hamba-Nya.</p>
<p style="text-align: right;">يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ</p>
<p><em>“</em><em>Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu</em><em>.” (QS Al-Baqarah: 185)</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ikadijatim.org/?feed=rss2&amp;p=707</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kemenangan Besar di &#8216;Ain Jalut (658 H / 1260 M)</title>
		<link>http://ikadijatim.org/?p=701</link>
		<comments>http://ikadijatim.org/?p=701#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 04 Sep 2010 06:24:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ikadijatim.org/?p=701</guid>
		<description><![CDATA[Ini adalah salah satu kisah mengenai kemenangan besar kaum muslimin di bulan Ramadhan.
Panglima Qutuz mendengar kabar bahwa Baghdad sebagi ibukota khilafah Abasiyah telah berhasil ditaklukan tentara Tartar. Dia kemudian bergegas untuk menyusun kekuatan politik dan militer menghadapi Tartar. Beberapa intelejen dikirim ke Baghdad untuk mengetahui seberapa besar kekuatan musuh.
Qutuz berhasil menghimpun kekuatan yang cukup tangguh [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://ikadijatim.org/wp-content/uploads/2010/09/ain_jalut.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-702" title="ain_jalut" src="http://ikadijatim.org/wp-content/uploads/2010/09/ain_jalut-150x150.jpg" alt="" width="150" height="150" /></a>Ini adalah salah satu kisah mengenai kemenangan besar kaum muslimin di bulan Ramadhan.</p>
<p>Panglima Qutuz mendengar kabar bahwa Baghdad sebagi ibukota khilafah Abasiyah telah berhasil ditaklukan tentara Tartar. Dia kemudian bergegas untuk menyusun kekuatan politik dan militer menghadapi Tartar. Beberapa intelejen dikirim ke Baghdad untuk mengetahui seberapa besar kekuatan musuh.</p>
<p>Qutuz berhasil menghimpun kekuatan yang cukup tangguh untuk menghadapi gempuran Tartar. Lalu berangkatlah pasukan Qutuz menyongsong pasukan Tartar. &#8220;Kemenangan atau mati syahid&#8221; demikian teriakan lantang pasukan Qutuz.<span id="more-701"></span></p>
<p>Tepat di &#8220;Ain Jalut&#8221; kedua pasukan saling berhadapan, dan peperanganpun tak terelakkan. Pasukan Tartar yang melihat kuda-kuda jantan dihiasi pernak-pernik berharga, dan persediaan bekal lengkap di tengah tentara kaum muslimin, menjadi semakin bergairah untuk merampasnya. Sementara pasukan Qutuz dengan lantangnya berteriak &#8220;wa Islamaah&#8221; (berjayalah Islam!), semakin melecut spirit mereka untuk menutup mulut besar pasukan Tartar.</p>
<p>Keimanan yang kokoh disertai semangat yang menyala-nyala terbukti tidak sia-sia, pasukan Islam berhasil mempermalukan Tartar, dan memaksa mereka menelan kekalahan yang sebelumnya tak pernah mereka mimpikan.</p>
<p>Dalam perang ini Sultan Qutuz sempat terjatuh dari kudanya. Tapi, dengan pertolongan Allah dia bisa bangkit lagi, dan tampil perkasa dangan tebasan pedangnya, yang berhasil memutus leher pimpinan perang pasukan Tartar, Jendral Katab Ghu. Kemudian kepalanya diarak di jalanan kota Kairo, sebagai tanda perayaan.</p>
<p>Sultan Qutuz memangku jabatan setelah tragedi Ain Jalut tidak sampai satu tahun. Tapi, teriakannya di medan perang &#8220;Wa Islamaah&#8221; masih akan terus terngiang di telinga sejarah. Yel sederhana, namun terbukti sanggup melecut nadi si pengecut menjadi berani, dan si lemah menjadi kuat. Akan terpahat indah dalam buku-buku sejarah.</p>
<p>Sehingga pasukan terlatih serta kaya pengalaman seperti Tartar bisa dibinasakan dan dikalahkan dengan sangat tragis. Keangkuhan dan kesombongan mereka akhirnya teredam diam dan bisu ditelan sejarah.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ikadijatim.org/?feed=rss2&amp;p=701</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tadabbur QS Al-Buruj: 10-22</title>
		<link>http://ikadijatim.org/?p=693</link>
		<comments>http://ikadijatim.org/?p=693#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 04 Sep 2010 06:10:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kajian Al-Qur'an]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ikadijatim.org/?p=693</guid>
		<description><![CDATA[إِنَّ الَّذِينَ فَتَنُوا الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ ثُمَّ لَمْ يَتُوبُوا فَلَهُمْ عَذَابُ جَهَنَّمَ وَلَهُمْ عَذَابُ الْحَرِيقِ
“Sesungguhnya orang-orang yang mendatangkan cobaan pada orang-orang yang mukmin laki-laki dan perempuan kemudian mereka tidak bertobat, maka bagi mereka azab Jahanam dan bagi mereka azab (neraka) yang membakar.” (10)

Imam Hasan al-Basyri berkata, “Perhatikanlah betapa mulia dan murahnya Allah, mereka telah membunuh wali-wali [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: right;">إِنَّ الَّذِينَ فَتَنُوا الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ ثُمَّ لَمْ يَتُوبُوا فَلَهُمْ عَذَابُ جَهَنَّمَ وَلَهُمْ عَذَابُ الْحَرِيقِ</p>
<p><em><a href="http://ikadijatim.org/wp-content/uploads/2010/09/api.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-698" title="api" src="http://ikadijatim.org/wp-content/uploads/2010/09/api-150x150.jpg" alt="" width="150" height="150" /></a>“Sesungguhnya orang-orang yang mendatangkan cobaan pada orang-orang yang mukmin laki-laki dan perempuan kemudian mereka tidak bertobat, maka bagi mereka azab Jahanam dan bagi mereka azab (neraka) yang membakar.” (10)<br />
</em></p>
<p>Imam Hasan al-Basyri berkata, “Perhatikanlah betapa mulia dan murahnya Allah, mereka telah membunuh wali-wali Allah (dalam kisah Ashabul Ukhdud), tetapi Allah tetap memberikan kesempatan kepada mereka untuk bertaubat.”<span id="more-693"></span></p>
<p>Jika seruan ini tidak diindahkan maka mereka tetap akan diadzab oleh Allah karena perbuatan mereka yang kejam dan keji, dan ketentuan Allah adalah pasti.</p>
<p style="text-align: right;">إِنَّ الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَهُمْ جَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ ذَلِكَ الْفَوْزُ الْكَبِيرُ</p>
<p><em>“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal yang shaleh bagi mereka surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; itulah keberuntungan yang besar.” (11)<br />
</em></p>
<p>Setiap kali Allah menyebutkan kata-kata iman selalu diiringi dengan kata-kata amal, karena amal merupakan bukti keimanan seseorang. Diriwayatkan dari Muhammad bin Ali, Nabi saw bersabda, “Iman dan amal dua sahabat yang tak terpisahkan, tidak akan berarti apa-apa jika salah satunya tidak ada.”</p>
<p>Dan dari Abu Hurairah, Rasulullah saw bersabda, ”Iman itu bukanlah hiasan dan bukan pula angan-angan akan tetapi iman itu adalah apa yang ditetapkan dalam hati serta dibuktikan dengan amal. Demi Dzat yang jiwaku ada ditangan-Nya, tidak akan masuk surga salah seorang diantara kita kecuali dengan amal yang <strong><em>“yutqinuhu”. </em></strong>Sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, apa yang dimaksud dengan <strong><em>“yutqinuhu”?</em></strong> Beliau saw menjawab, “Yaitu amal yang dikerjakan dengan teliti dan sempurna.” Al-Albani mengatakan hadits ini shahih, diriwayatkan oleh At-Thabrani.</p>
<p>Jadi iman yang demikianlah yang membuahkan hasil dan berdampak positif dalam kehidupan seorang hamba, yaitu kehidupannya akan lebih baik dan penuh barokah sebagaimana yang difirmankan oleh Allah SWT:</p>
<p style="text-align: right;">مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ<em> </em><em></em></p>
<p><em>“Barang siapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan”. (QS. An-Nahl: 97)</em></p>
<p>Kemudian Allah menutup ayatnya dengan firmannya: <strong><em>Dzalika al-fauz al-kabir</em></strong>. Imam At-Thabari berkata, ”Hal inilah yang dijanjikan Allah di akhirat kelak (yakni keberuntungan dan kesuksesan yang besar) kepada hamba-hamba-Nya yang beriman dan beramal sesuai dengan perintah Allah dan senantiasa mengharap surga dan ridhanya.”</p>
<p style="text-align: right;">إِنَّ بَطْشَ رَبِّكَ لَشَدِيدٌ</p>
<p><em>&#8220;Sesungguhnya siksa Tuhanmu itu benar-benar keras.&#8221; (12)</em></p>
<p>Imam At-Thabari berkata, ”Allah menegaskan kembali kepada nabi-Nya tentang azabnya yang keras terhadap kaum kafir yang menyiksa orang-orang beriman (dalam kisah Ashabul Ukhdud). Demikian juga azab akan menimpa umat nabi Muhammad saw yang mengingkari risalahnya serta yang menghalangi kaum mukminin dalam dakwahnya bahkan menyiksanya; seperti yang mereka lakukan terhadap generasi awal dalam Islam seperti Sumayyah ibu dari Yasir. Sungguh azab Tuhanmu benar-benar keras terhadap orang-orang kafir.</p>
<p>Pada ayat 13-16, Allah menjelaskan tentang beberapa nama dan sifat Allah seperti Al-Khaliq, Al-Mubdi’, Al-Ghafur, dan Al-Wadud. Allah SWT berfirman:</p>
<p style="text-align: right;">إنَّهُ هُوَ يُبْدِئُ وَيُعِيدُ (13) وَهُوَ الْغَفُورُ الْوَدُودُ (14) ذُو الْعَرْشِ الْمَجِيدُ (15) فَعَّالٌ لِمَا يُرِيدُ (16</p>
<p><em>“Sesungguhnya Dia-lah Yang menciptakan (makhluk) dari permulaan dan menghidupkannya (kembali). Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Pengasih, yang mempunyai Arsy lagi Maha Mulia, serta Maha Kuasa berbuat apa yang dikehendaki-Nya.” (13-16)<br />
</em></p>
<p>Khususnya ayat 13, para ulama berbeda pandangan dalam menafsirkannya, diantaranya Syaikhul Mufassirin Imam At-Thabari berpendapat bahwa yang dimaksud dengan <strong><em>Huwa yubdi’u</em></strong> yaitu Dialah Allah yang menciptakan adzab dan Dia juga yang mengulangi adzab terhadap orang-orang kafir. Pendapat ini bersumber dari Ibnu Abbas ra.</p>
<p>Sedangkan menurut Abdurrahman As-Sa’di dalam tafsirnya, yang dimaksud dengan <strong><em>Huwa yubdi’u</em></strong> yaitu Dialah (Allah) yang menciptakan makluknya dari awal dan Dia juga yang menghidupkan kembali setelah mati, dan hal itu sangat mudah bagi Allah.</p>
<p>Sebetulnya kedua pendapat tersebut tidak bertentangan karena Dialah Allah yang menciptakan makhluknya dan Dia juga yang berhak mengadzab atau memberi nikmat.</p>
<p>Pada ayat 14, makna dari Al-Ghafur adalah Maha Pengampun. Tiada dosa yang tak terampunkan asalkan sungguh-sungguh bertaubat, kecuali dosa syirik yang dibawa mati. Allah SWT berfirman:</p>
<p style="text-align: right;">إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْمًا عَظِيمًا</p>
<p><em>“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” (QS. An-Nisa: 48)</em></p>
<p>Pada ayat 17-22, Allah menegaskan tentang kebenaran berita-berita dalam Al-Qur’an serta kaum-kaum yang mendustakannya.</p>
<p style="text-align: right;">هَلْ أَتَاكَ حَدِيثُ الْجُنُودِ (17) فِرْعَوْنَ وَثَمُودَ (18) بَلِ الَّذِينَ كَفَرُوا فِي تَكْذِيبٍ (19) وَاللَّهُ مِنْ وَرَائِهِمْ مُحِيطٌ (20) بَلْ هُوَ قُرْآَنٌ مَجِيدٌ (21) فِي لَوْحٍ مَحْفُوظٍ (22</p>
<p><em>“Sudahkah datang kepadamu berita kaum-kaum penentang, (yaitu kaum) Fir’aun dan (kaum) Tsamud. Sesungguhnya orang-orang kafir selalu mendustakan, padahal Allah mengepung mereka dari belakang mereka. Bahkan yang didustakan mereka itu ialah Al-Qur&#8217;an yang mulia, yang (tersimpan) di Lauh Mahfuzh.” (17-22)<br />
</em></p>
<p>Berkenaan dengan informasi yang terdapat dalam Al-Qur’an, Rasulullah saw bersabda, “Sungguh akan terjadi fitnah.” Sahabat bertanya, “Bagaimana solusinya, ya Rasulullah?” Rasulullah saw menjawab, “Al-Qur’an didalamnya terdapat berita orang-orang sebelum kalian. Demikian juga ada informasi mengenai peristiwa-peristiwa yang akan terjadi setelah kalian. Al-Qur’an menjadi penengah diantara kalian. Ia memberi keputusan yang tegas dan tidak main-main. Siapa yang meninggalkannya (tidak beriman dan berhukum dengannya) maka Allah akan menyiksanya di neraka, dan siapa yang mencari hidayah selain al-Qur’an maka ia akan sesat.”</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ikadijatim.org/?feed=rss2&amp;p=693</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Berinteraksi dengan Al-Qur&#8217;an</title>
		<link>http://ikadijatim.org/?p=687</link>
		<comments>http://ikadijatim.org/?p=687#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 04 Sep 2010 05:53:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kajian Umum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ikadijatim.org/?p=687</guid>
		<description><![CDATA[Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya Allah meninggikan dengan Al-Qur’an ini derajat kaum-kaum tertentu (karena berinteraksi dengannya secara baik), dan merendahkan dengannya pula derajat kaum-kaum yang lain lagi (karena mengabaikan, menjauhi dan meninggalkannya)” (HR. Muslim).
Al-Qur’an sebagai sumber petunjuk, cahaya dan rahmat bagi kaum muttaqin, merupakan salah satu kunci utama yang paling efektif untuk membuka pintu-pintu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://ikadijatim.org/wp-content/uploads/2010/09/al-quran.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-691" title="al-quran" src="http://ikadijatim.org/wp-content/uploads/2010/09/al-quran-150x150.jpg" alt="" width="150" height="150" /></a>Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em> bersabda: “Sesungguhnya Allah meninggikan dengan Al-Qur’an ini derajat kaum-kaum tertentu (karena berinteraksi dengannya secara baik), dan merendahkan dengannya pula derajat kaum-kaum yang lain lagi (karena mengabaikan, menjauhi dan meninggalkannya)” (HR. Muslim).</p>
<p>Al-Qur’an sebagai sumber petunjuk, cahaya dan rahmat bagi kaum muttaqin, merupakan salah satu kunci utama yang paling efektif untuk membuka pintu-pintu perubahan dan perbaikan dalam diri pribadi dan kehidupan ummat serta masyarakat beriman. Dan hal itu hanya bisa terwujud melalui adanya pola interaksi dan hubungan yang baik dan harmonis dengan Kitabullah ini. Semakin dekat dan harmonis hubungan seseorang atau suatu masyarakat dengan Al-Qur’an, maka akan semakin terbukalah pintu-pintu perubahan dan perbaikan dalam kehidupan orang dan masyarakat tersebut.<span id="more-687"></span></p>
<p>Berikut ini hal-hal yang harus kita lakukan dalam berinteraksi dengan Al-Qur&#8217;an:</p>
<p><em>Pertama,</em> memperbaharui (tajdid) kualitas iman kepadanya. Beriman kepada Al-Qur’an dengan benar, jujur, dan sungguh-sungguh berarti beriman kepadanya dengan memenuhi segala konsekuensinya, yakni dengan mengikutinya, menjadikannya petunjuk dan pedoman, memenuhi larangan dan perintahnya, dan sebagainya. Tidak cukup dengan hanya mengetahui atau mengakui bahwa Al-Qur’an itu wahyu Allah yang diturunkan kepada Rasul-Nya. Sebab jika iman kepada Al-Qur’an hanya sebatas itu, tentu tidak berbeda dengan yang dilakukan oleh orang-orang kafir sejak dahulu kala, dimana mereka memang mengetahui atau mengakui bahwa Al-Qur’an adalah benar-benar wahyu Allah.</p>
<p><em>Kedua,</em> menjadikan Al-Qur’an sebagai wirid. Wirid disini berarti aktivitas yang kita lakukan secara kontinyu dan terjadwal. Sebagian wirid Qur’ani tersebut bisa jadi dilakukan setiap hari, seperti membacanya, mendengarkannya, dan menjadikannya dzikir. Bisa jadi pula beberapa wirid Qur’ani yang lain – seperti menghafalnya &#8211; tidak dilakukan setiap hari, tetapi yang jelas kontinyu dan terjadwal. Sebagaimana seseorang menjadikan baca koran sebagai ‘wirid’ hariannya, seperti itu pula minimal seseorang menjadikan Al-Qur’an sebagai wirid hariannya. Bahkan, porsi membaca Al-Qur’an semestinya lebih banyak daripada porsi membaca koran. Ada 5 jenis wirid Qur’ani yang harus kita lakukan:</p>
<p>1. Wirid membaca (wirdut-tilawah)</p>
<p>Sebagaimana telah sering disebutkan, membaca Al-Qur’an memiliki banyak sekali keutamaan. Sekedar membaca saja ayat-ayat Al-Qur’an sudah merupakan suatu ibadah tersendiri yang pahalanya dihitung huruf demi hurufnya. Dan yang lebih esensial, membaca ayat-ayat Al-Qur’an merupakan pintu masuk untuk bisa berinteraksi lebih jauh dengan Al-Qur’an. Karena itu, kita harus banyak-banyak melakukannya.</p>
<p>2. Wirid mendengarkan (wirdul-istima’)</p>
<p>Rasulullah sendiri telah mencontohkan bahwa ada saat-saat dimana beliau lebih suka mendengarkan Al-Qur’an dari bacaan orang lain. Ketika suatu saat Rasulullah meminta salah seorang sahabat membacakan Al-Qur’an untuk beliau, sahabat tersebut bahkan sampai bertanya,”Apakah saya akan membacakannya untuk engkau, wahai Rasulullah, sementara Al-Qur’an diturunkan kepada engkau?” Beliau menjawab,”Saya suka mendengarkannya dari orang lain”. Demikianlah kita juga harus gemar mendengarkan bacaan Al-Qur’an, apalagi kemajuan teknologi elektronik dan informasi saat ini sangat memungkinkan bagi kita untuk melakukannya dengan mudah.</p>
<p>Wirid mendengarkan ini juga sangat ditekankan kepada para wanita pada saat mereka sedang sangat disibukkan oleh urusan rumahnya atau pada saat sedang berhalangan sehingga – menurut pendapat jumhur ulama – tidak mungkin membacanya langsung. Dengan demikian, pada saat berhalangan pun seorang wanita tetap akan memiliki wirid yang bisa menjadi penjaga dirinya.</p>
<p>Dengan sering mendengarkan Al-Qur’an, kita akan lebih mudah menghafalnya. Sebagai contoh, dahulu ada seorang shahabiyah Nabi yang bisa menghafal Surah Qaaf karena mendengarkannya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang sering membacanya di dalam khutbah.</p>
<p>3. Wirid menghafal (wirdul-hifzh)</p>
<p>Kita harus memiliki jadwal menghafal Al-Qur’an, apakah setiap tiga hari sekali, sepekan sekali dan sebagainya. Sebagai generasi yang mencintai Al-Qur’an, sudah semestinya kita berusaha seoptimal mungkin untuk bisa menghafal ayat-ayat Al-Qur’an.</p>
<p>4. Wirid tadabbur (wirdut-tadabbur)</p>
<p>Ayat-ayat Al-Qur’an tidaklah sekedar untuk dilafalkan huruf-hurufnya. Lebih dari itu, ayat-ayat yang kita baca dengan lisan hendaknya berusaha kita pahami, kita hayati dan kita renungkan. Dengan demikian, ayat-ayat yang kita baca tidak hanya keluar dari tenggorokan dan mulut kita tetapi juga masuk kedalam hati kita, mencerahkan pikiran dan mempertebal iman yang ada dalam dada.</p>
<p>5. Wirid dzikir Qur’ani (wirdudz-dzikr al-qur’ani)</p>
<p>Meskipun keseluruhan ayat-ayat Al-Qur’an adalah dzikir, akan tetapi yang terutama dimaksudkan disini adalah melakukan wirid dengan ayat-ayat dzikir yang dikhususkan, seperti Al-Fatihah, Ayat Kursi, Al-Ikhlas, Al-Falaq, An-Naas, tiga ayat terakhir Surah Al-Baqarah, dan sebagainya. Kita melakukannya pada setiap pagi dan petang, setiap seusai shalat fardhu, dan sebagainya, sesuai dengan yang telah dituntunkan oleh Sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.</p>
<p><em>Ketiga,</em> mengikuti, mengamalkan, berakhlaq, berhujjah dan berhukum dengannya. Apapun yang diperintahkan oleh Al-Qur’an harus kita laksanakan, dan apapun yang dilarang oleh Al-Qur’an harus kita tinggalkan. Jangan sampai kita membaca Al-Qur’an akan tetapi pada saat yang sama kita menginjak-injaknya karena menyalahi apa yang dinyatakan didalamnya. Jangan pula kita mengetahui kandungannya namun kita menyembunyikan atau bahkan mengingkarinya. Terhadap Al-Qur’an sikap kita hanya satu : sami’na wa atha’na (kami mendengar dan kami mentaatinya).</p>
<p>Demikian pula hendaknya kita berakhlaq dengan akhlaq Al-Qur’an. Ketika Aisyah ditanya tentang akhlaq Rasulullah, beliau mengatakan, ”Akhlaq beliau adalah Al-Qur’an”. Ini artinya Rasulullah benar-benar mengimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari ajaran akhlaq yang dinyatakan dalam ayat-ayat Al-Qur’an. Ajaran akhlaq dalam Al-Qur’an telah terinternalisasi dalam diri beliau.</p>
<p><em>Keempat,</em> mengajarkannya dan mendakwahkan nilai-nilai dan ajaran-ajarannya. Kita tidak boleh merasa cukup dengan diri kita sendiri. Apa yang sudah kita ketahui mengenai Al-Qur’an hendaknya kita ajarkan dan kita dakwahkan kepada orang lain.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ikadijatim.org/?feed=rss2&amp;p=687</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hati-hati dengan Mata</title>
		<link>http://ikadijatim.org/?p=646</link>
		<comments>http://ikadijatim.org/?p=646#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 16 Jul 2010 09:09:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Taujih]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ikadijatim.org/?p=646</guid>
		<description><![CDATA[”Mata adalah panglima hati. Hampir semua perasaan dan perilaku awalnya dipicu oleh pandangan mata. Bila dibiarkan mata memandang yang dibenci dan dilarang, maka pemiliknya berada di tepi jurang bahaya. Meskipun ia tidak sungguh-sungguh jatuh ke dalam jurang&#8221;. Demikian potongan nasihat Imam Ghazali rahimahullah dalam kitab Ihya Ulumuddin.
Beliau memberi wasiat agar tidak menganggap ringan masalah pandangan. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://ikadijatim.org/wp-content/uploads/2010/07/mata.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-656" title="mata" src="http://ikadijatim.org/wp-content/uploads/2010/07/mata.jpg" alt="" width="127" height="85" /></a>”Mata adalah panglima hati. Hampir semua perasaan dan perilaku awalnya dipicu oleh pandangan mata. Bila dibiarkan mata memandang yang dibenci dan dilarang, maka pemiliknya berada di tepi jurang bahaya. Meskipun ia tidak sungguh-sungguh jatuh ke dalam jurang&#8221;. Demikian potongan nasihat Imam Ghazali rahimahullah dalam kitab Ihya Ulumuddin.</p>
<p>Beliau memberi wasiat agar tidak menganggap ringan masalah pandangan. Ia juga mengutip bunyi sebuah sya’ir, &#8220;Semua peristiwa besar awalnya adalah mata. Lihatlah api besar yang awalnya berasal dari percikan api.&#8221;</p>
<p>Hampir sama dengan bunyi sya’ir tersebut, sebagian salafushalih mengatakan, &#8220;Banyak makanan haram yang bisa menghalangi orang melakukan shalat tahajjud di malam hari. Banyak juga pandangan kepada yang haram sampai menghalanginya dari membaca Kitabullah.&#8221;<span id="more-646"></span></p>
<p>Semoga Allah memberi naungan barakahNya kepada kita semua. Fitnah dan ujian tak pernah berhenti. Sangat mungkin, kita kerap mendengar bahkan mengkaji masalah mata. Tapi belum tentu kita termasuk dalam kelompok orang yang bisa memelihara pandangan mata. Padahal, seperti diungkapkan oleh Imam Ghazali tadi, orang yang keliru menggunakan pandangan, berarti ia terancam bahaya besar karena mata adalah pintu paling luas yang bisa memberi banyak pengaruh pada hati.</p>
<p>Menurut Imam Ibnul Qayyim, mata adalah penuntun, sementara hati adalah pendorong dan pengikut. Yang pertama, mata, memiliki kenikmatan pandangan. Sedang yang kedua, hati, memiliki kenikmatan pencapaian. &#8220;Dalam dunia nafsu keduanya adalah sekutu yang mesra. Jika terpuruk dalam kesulitan, maka masing-masing akan saling mecela dan mencerai,&#8221; jelas Ibnul Qayyim. Pemenuhan hasrat pencapaian seringkali menjadi dasar motivasi yang menggebu-gebu untuk mendapatkan atau menikahi seseorang. Padahal siap nikah dan siap jadi suami/istri adalah dua hal yang berbeda. Yang pertama, nuansa nafsu lebih dominan; sedangkan yang kedua, sarat dengan nuansa amanah, tanggung-jawab dan kematangan.</p>
<p>Simak juga dialog imajiner yang beliau tulis dalam kitab Raudhatul Muhibbin: &#8220;Kata hati kepada mata, &#8220;Kaulah yang telah menyeretku pada kebinasaan dan mengakibatkan penyesalan karena aku mengikutimu beberapa saat saja. Kau lemparkan kerlingan matamu ke taman dan kebun yang tak sehat. Kau salahi firman Allah, &#8220;Hendaklah mereka menahan pandangannya&#8221;. Kau salahi sabda Rasulullah saw, &#8220;Memandang wanita adalah panah beracun dari berbagai macam panah iblis. Barangsiapa meninggalkannya karena takut pada Allah, maka Allah akan memberi balasan iman padanya, yang akan didapati kelezatan dalam hatinya.&#8221; (HR.Ahmad)</p>
<p>Tapi mata berkata kepada hati, &#8220;Kau zalimi aku sejak awal hingga akhir. Kau kukuhkan dosaku lahir dan batin. Padahal aku hanyalah utusanmu yang selalu taat dan mengikuti jalan yang engkau tunjukkan. Rasulullah bersabda, &#8220;Sesungguhnya dalam tubuh itu ada segumpal darah. Jika ia baik, maka seluruh tubuh akan baik pula. Dan jika ia rusak, rusak pula seluruh tubuh. Ketahuilah, segumpal darah itu adalah hati &#8221; (HR. Bukhari dan Muslim). Hati adalah raja. Dan seluruh tubuh adalah pasukannya. Jika rajanya baik maka baik pula pasukannya. Jika rajanya buruk, buruk pula pasukannya. Wahai hati, jika engkau dianugerahi pandangan, tentu engkau tahu bahwa rusaknya pengikutmu adalah karena kerusakan dirimu, dan kebaikan mereka adalah kebaikanmu . Sumber bencana yang menimpamu adalah karena engkau tidak memiliki cinta pada Allah, tidak suka dzikir kepada-Nya, tidak menyukai firman, asma dan sifat-sifatNya. Allah berfirman, &#8220;Sesungguhnya bukan mata itu yang buta, tetapi yang buta adalah hati yang ada di dalam dada&#8221;. (QS.AI-Hajj:46)</p>
<p>Banyak sekali kenikmatan yang menjadi buah memelihara mata. Coba perhatikan tingkat-tingkat manfaat yang diuraikan oleh Imam Ibnul Qayyim dalam Al-Jawabul Kafi Liman Saala Anid Dawa’i Syafi. &#8220;Memelihara pandangan mata, menjamin kebahagiaan seorang hamba di dunia dan akhirat. Memelihara pandangan, memberi nuansa kedekatan seorang hamba kepada Allah, menahan pandangan juga bisa menguatkan hati dan membuat seseorang lebih merasa bahagia, menahan pandangan juga akan menghalangi pintu masuk syaithan ke dalam hati.</p>
<p>Mengosongkan hati untuk berpikir pada sesuatu yang bermanfaat, Allah akan meliputinya dengan cahaya. Itu sebabnya, setelah firmanNya tentang perintah untuk mengendalikan pandangan mata dari yang haram, Allah segera menyambungnya dengan ayat tentang &#8220;nur&#8221;, cahaya. (Al-Jawabul Kafi, 21)</p>
<p>Perilaku mata dan hati adalah sikap tersembunyi yang sulit diketahui oleh orang lain, kedipan mata apalagi kecenderungan hati, merupakan rahasia diri yang tak diketahui oleh siapapun, kecuali Allah swt, &#8220;Dia (Allah) mengetahui (pandangan) mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh hati &#8220;. (QS. Al-Mukmin: 9). Itu artinya, memelihara pandangan mata yang akan menuntun suasana hati, sangat tergantung dengan tingkat keimanan dan kesadaran penuh akan pengetahuan Allah yang tidak ada batasnya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ikadijatim.org/?feed=rss2&amp;p=646</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Adab Bertamu</title>
		<link>http://ikadijatim.org/?p=645</link>
		<comments>http://ikadijatim.org/?p=645#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 16 Jul 2010 09:03:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Adab]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ikadijatim.org/?p=645</guid>
		<description><![CDATA[1. Masuklah setelah meminta izin kepada tuan rumah. Tidak masuk ke rumah orang lain walaupun pintunya terbuka, kecuali setelah meminta izin. Dari Abu Sa&#8217;id Al-Khudri ia berkata, &#8220;Abu Musa telah meminta izin tiga kali kepada Umar untuk memasuki rumahnya tetapi tidak ada yang menjawab, lalu ia pergi. Maka sahabat Umar menemuinya dan bertanya, &#8220;Mengapa kamu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://ikadijatim.org/wp-content/uploads/2010/07/bertamu.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-655" title="bertamu" src="http://ikadijatim.org/wp-content/uploads/2010/07/bertamu-150x150.jpg" alt="" width="150" height="150" /></a>1. Masuklah setelah meminta izin kepada tuan rumah. Tidak masuk ke rumah orang lain walaupun pintunya terbuka, kecuali setelah meminta izin. Dari Abu Sa&#8217;id Al-Khudri ia berkata, &#8220;Abu Musa telah meminta izin tiga kali kepada Umar untuk memasuki rumahnya tetapi tidak ada yang menjawab, lalu ia pergi. Maka sahabat Umar menemuinya dan bertanya, &#8220;Mengapa kamu kembali?&#8221; Dia menjawab, &#8220;Saya mendengar Rasulullah saw bersabda, Barangsiapa meminta izin tiga kali lalu tidak diizinkan, maka hendaklah kembali.&#8221;</p>
<p>2. Tidak menghadap ke arah pintu masuk. Ketika bertamu, hendaknya kita tidak berdiri menghadap ke arah pintu masuk, namun berdiri di sebelah pintu, baik itu di sebelah kanan maupun kiri. Hal ini dicontohkan Rasulullah saw, dalam hadits yang berbunyi: Dari Absullah bin Bisyer ia berkata, &#8220;Adalah Rasulullah saw apabila mendatangi pintu suatu kaum, beliau tidak menghadapkan wajahnya ke depan pintu, tetapi berada di sebelah kanan atau kirinya dan mengucapkan Assalaamu&#8217;alaykum&#8230;. Assalaamu&#8217;alaykum&#8230;&#8221;<span id="more-645"></span></p>
<p>3. Hendaknya menyebut nama yang jelas. Ketika tuan rumah menanyakan nama, kita tidak boleh menjawab dengan jawaban &#8220;saya&#8221; tetapi lebih baik jika menyebutkan nama kita.</p>
<p>4. Tidak mengintai ke dalam bilik. Dari Abu Hurairah ra. ia berkata, &#8220;Abul Qasim saw bersabda, ‘Andaikan ada orang melihatmu di rumah tanpa izin, lalu engkau melemparnya dengan batu kecil lalu kamu cungkil matanya, maka tidak ada dosa bagimu.&#8221; Hadits ini menunjukkan ancaman yang keras untuk orang yang mengintip ke dalam rumah orang lain, karena di dalam setiap rumah itu ada aurat yang harus dijaga dari pandangan orang lain. Maka janganlah sekali-kali kita sebagai tamu tidak memperdulikan hal tersebut.</p>
<p>5. Persingkatlah, jangan lama-lama bertamu karena bisa memberatkan tuan rumah, dan janganlah bertamu lebih dari tiga hari, namun bila tuan rumah memaksa untuk tetap tinggal maka tidaklah mengapa. Juga jangan datang dengan tergesa-gesa atau mengejutkan karena membuat tuan rumah terkejut tak mampu menyiapkan diri.</p>
<p>6. Hendaknya memenuhi undangan dan tidak terlambat darinya kecuali ada udzur/halangan, dan tidak membeda-bedakan antara undangan orang fakir dengan undangan orang yang kaya. &#8220;Barangsiapa yang diundang kepada walimah atau yang serupa, hendaklah ia memenuhinya.&#8221; (HR. Muslim) Dan sekalipun kita sedang berpuasa, tetap diharapkan untuk hadir. Dari Jabir ra menyebutkan bahwasanya Rasulullah saw bersabda, &#8220;Barangsiapa yang diundang untuk jamuan sedangkan ia berpuasa, maka hendaklah ia menghadirinya. Jika ia suka makanlah dan jika tidak, tidaklah mengapa.&#8221; (HR. Ibnu Majah dan dishahihkan oleh Al-Albani)</p>
<p>7. Hendaknya mendo&#8217;akan orang yang mengundangnya seusai menyantap hidangannya. Diantara do&#8217;a yang ma&#8217;tsur adalah : &#8220;Ya Allah, ampunilah mereka, belas kasihilah mereka, berkahilah bagi mereka apa yang telah Engkau karuniakan kepada mereka. Ya Allah, berilah makan orang yang telah memberi kami makan, dan berilah minum orang yang memberi kami minum.&#8221; Atau: “Orang yang berpuasa telah berbuka puasa padamu. Orang-orang yang baik telah memakan makananmu. Dan para malaikat telah bershalawat untukmu.” (HR. Abu Daud, dishahihkan Al-Albani).</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ikadijatim.org/?feed=rss2&amp;p=645</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Takut Miskin? Bersedekahlah!</title>
		<link>http://ikadijatim.org/?p=644</link>
		<comments>http://ikadijatim.org/?p=644#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 16 Jul 2010 09:02:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kajian Hadits]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ikadijatim.org/?p=644</guid>
		<description><![CDATA[Salah seorang sahabat bertanya kepada Nabi shallallahu &#8216;alaihi wasallam; “Wahai Rasulullah, sedekah apakah yang paling utama?” Beliau berkata: &#8220;Engkau bersedekah dalam keadaan sehat, bersemangat dan mengharapkan tetap ada (pada dirimu), serta khawatir mengalami kekurangan, dan engkau tidak menunda hingga setelah nyawa telah sampai di tenggorokan engkau mengatakan; untuk Fulan sekian dan untuk Fulan sekian. Dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em><a href="http://ikadijatim.org/wp-content/uploads/2010/07/bersedekah.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-654" title="bersedekah" src="http://ikadijatim.org/wp-content/uploads/2010/07/bersedekah-150x150.jpg" alt="" width="150" height="150" /></a>Salah seorang sahabat bertanya kepada Nabi shallallahu &#8216;alaihi wasallam; </em><em>“W</em><em>ahai Rasulullah, sedekah apakah yang paling utama?</em><em>”</em><em> Beliau berkata: &#8220;Engkau bersedekah dalam keadaan sehat, bersemangat dan mengharapkan tetap ada</em><em> </em><em>(pada dirimu), serta khawatir mengalami kekurangan, dan engkau tidak menunda hingga setelah nyawa telah sampai di tenggorokan engkau mengatakan;</em><em> </em><em>untuk Fulan sekian dan untuk Fulan sekian. Dan sungguh harta tersebut telah menjadi milik Fulan.&#8221; (HR. Abu Dawud)</em></p>
<p>Dalam Al-Quran, Allah SWT juga berfirman, &#8221;Engkau tak akan mendapatkan kebaikan apa pun hingga kalian menyedekahkan sebagian harta yang paling kalian cintai. Ketahuilah, apa pun yang kalian infakkan, Allah pasti mengetahuinya.&#8221; (Ali &#8216;Imran: 92). <span id="more-644"></span></p>
<p>Setiap manusia memiliki kecenderungan mencintai harta benda. Karena cinta inilah, mereka lalu berusaha mempertahankannya selama mungkin, bahkan kalau perlu, berusaha menambahnya terus-menerus. Namun, mencintai harta tidak selamanya dapat membuat orang bahagia. Tak jarang, harta justru membuatnya tidak tenang dan resah. Karena itulah, sedekah yang Nabi SAW anjurkan sebetulnya, selain untuk mendapatkan pahala di sisi Allah SWT, juga untuk membuat manusia itu tenang dan tenteram.</p>
<p>Kondisi sehat dan cinta terhadap harta, bisa menjadi penghambat seseorang untuk mengeluarkan sedekahnya. Padahal, menurut Nabi SAW justru pada saat-saat itulah, sedekah memiliki nilai yang utama di sisi Allah SWT. Pertama, kondisi sehat pada hakikatnya adalah nikmat dan karunia yang Allah SWT berikan kepada manusia. Karena itu, manusia mesti mensyukurinya dalam bentuk amaliah bermanfaat untuk dirinya dan orang lain. Seorang yang mensyukuri karunia sehat, akan menyadari kondisi sehat itu sebetulnya adalah kesempatan untuk berbuat baik.</p>
<p>Kedua, karunia sehat juga sekaligus menjadi ujian berat manusia. Karena terkadang, dalam keadaan ini, manusia sering lalai berbuat kebaikan. Sedekah pada saat-saat ini terasa begitu berat, karena selain keinginan untuk menikmatinya di kala sehat, ada keinginan kuat agar harta itu jangan dulu diberikan kepada orang lain. Dalam arti lain, menunda hingga waktu tertentu. Padahal, salah satu akhlak mulia Nabi SAW dalam masalah sedekah adalah mempercepat dalam memberikan sedekah itu. Pernah suatu ketika, Nabi SAW mempercepat shalatnya hingga membuat para sahabatnya bertanya-tanya. Setelah ditanya, beliau menjawab, &#8221;Ketika shalat, aku teringat ada harta bendaku yang belum aku sedekahkan.&#8221; (HR Bukhari).</p>
<p>Harta bukan untuk ditumpuk, kemudian dinikmati sendiri. Ada kewajiban yang mesti dilakukan terhadap harta itu, agar harta yang diberikan Allah tidak sia-sia. Yakni, bisa menjadi bekal hidup, baik dunia maupun di akhirat. Keseimbangan dalam mengelola harta itulah yang ditekankan Rasulullah SAW. Harta memang miliknya, tapi di dalamnya juga ada milik orang lain yang mesti diberikan. Inilah yang terkadang berat dilakukan, karena menganggap harta benda yang dimiliki adalah hasil kerja keras yang harus dinikmati sendiri. Padahal, dalam harta seseorang sejatinya ada campur tangan dari Allah SWT. Karena itu, harta mesti dikelola sesuai dengan petunjuk Allah juga.</p>
<p>Rugi besar orang yang sudah dalam kesulitan tapi tidak bersedekah apalagi yang kaya&#8230;apalagi dia konglomerat. Masa depan suram bagi yang mampu tapi bergaya tidak mampu dengan tidak bersedekah. Tidak ada keuntungan bagi yang bergaya miskin dengan hanya menumpuk harta kekayaan tanpa infak dan shadaqah. Perhatikanlah peringatan dari Allah Sang Pemilik seluruh harta manusia dalam QS Ali Imran: 180: “Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karuniaNya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat. Dan kepunyaan Allah-lah segala warisan (yang ada) di langit dan di bumi. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.”</p>
<p>Selamat dan sukseslah bagi anda yang tidak dikuasai oleh kebakhilan diri sebagaimana firman Allah dalam surah Al Hasyr ayat 9: “Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang orang yang beruntung “</p>
<p>Surga menunggu anda saudaraku yang hobi bershodaqoh. “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema&#8217;afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. (QS Ali ‘Imran: 133-134)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ikadijatim.org/?feed=rss2&amp;p=644</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kekuatan Sholat</title>
		<link>http://ikadijatim.org/?p=643</link>
		<comments>http://ikadijatim.org/?p=643#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 16 Jul 2010 09:00:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ikadijatim.org/?p=643</guid>
		<description><![CDATA[Ada seorang lelaki yang merayu-rayu seorang wanita agar mau melakukan zina dengannya. Segala jurus tipu daya ia lakukan untuk meruntuhkan keteguhan iman sang wanita. Memang, lelaki itu ganteng sekali, ditambah lagi ia sangat kaya di kampungnya.
Wanita tersebut sebetulnya sudah bersuami. Ia adalah seorang istri yang taat kepada suaminya. Suaminya sendiri adalah seorang yang taat pula. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://ikadijatim.org/wp-content/uploads/2010/07/sholat-jamaah.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-658" title="sholat-jamaah" src="http://ikadijatim.org/wp-content/uploads/2010/07/sholat-jamaah-150x150.jpg" alt="" width="150" height="150" /></a>Ada seorang lelaki yang merayu-rayu seorang wanita agar mau melakukan zina dengannya. Segala jurus tipu daya ia lakukan untuk meruntuhkan keteguhan iman sang wanita. Memang, lelaki itu ganteng sekali, ditambah lagi ia sangat kaya di kampungnya.</p>
<p>Wanita tersebut sebetulnya sudah bersuami. Ia adalah seorang istri yang taat kepada suaminya. Suaminya sendiri adalah seorang yang taat pula. Perihal rayuan lelaki itu ia adukan kepada suaminya. Sang suami menanggapi istrinya dengan tenang-tenang saja. ”Katakan kepada laki-laki itu bahwa engkau akan mau menuruti godaannya, yaitu berzina dengannya. Cuma, dia mesti memenuhi satu persyaratan dahulu”. Dengan patuh istrinya kemudian mendengarkan terus apa yang dikatakan oleh suami tercintanya. Setelah itu pergilah ia menemui laki-laki yang sering mengganggunya itu.<span id="more-643"></span></p>
<p>“Aku akan bercinta denganmu sebagaimana yang selalu engkau katakan kepadaku dalam rayuan-rayuanmu selama ini !” Mendengar kesediaan wanita itu, lelaki tersebut langsung berseri-seri wajahnya.</p>
<p>“Apapun akan kupenuhi demi kamu. Seandainya engkau punya permintaan, katakan. Aku akan memenuhi apa saja yang engkau inginkan dariku “.</p>
<p>”Baiklah, Aku tak meminta uang atau materi apapun. Permintaanku sederhana dan mudah saja. Sebelum kita sama-sama melakukan perbuatan itu, aku minta agar kamu mau melakukan sholat berjamaah bersama suamiku. Tidak banyak, hanya empat puluh subuh saja secara terus menerus. Tidak boleh terputus.” Mengetahui cuma itu permintaan si wanita, maka dengan bersemangat si laki-laki tersebut menyatakan kesangggupannya.</p>
<p>Hingga pada sholat subuh yang keempat puluh berlangsung, yakni setelah janji itu terpenuhi, maka si wanita telah bersiap-siap untuk memenuhi janjinya. Pergilah si wanita menemui laki-laki tersebut. Begitu mereka bertemu, apa yang terjadi ?</p>
<p>“Aku kini sudah bertaubat kepada Allah SWT, wahai perempuan ! Aku tidak mau lagi melakukan perbuatan terkutuk seperti itu ,” kata laki-laki itu. Mendengar cerita sang istri, perihal jawaban si laki-laki yang tempo hari menggodanya, sang suami wanita itu memanjatkan doa` kepada Allah SWT . “Maha Benar Allah SWT ! Firman-Nya adalah benar. Bahwa sholat dapat mencegah perbuatan keji dan mungkar.” (Diceritakan oleh Imam Naisaburi ra)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ikadijatim.org/?feed=rss2&amp;p=643</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
