Agar Khusyu’ Sholat Kita

Ditulis oleh • Jul 25th, 2018 • Kategori: Taujih
  • Sumo

Ibadah shalat adalah awal kewajiban yang diperintahkan Allah SWT kepada umat ini pada saat peristiwa Isra dan Mi’raj oleh Nabi Muhammad SAW. Ibadah shalat merupakan simbol dan tiang agama, “Pokok urusan adalah Islam, tiangnya adalah shalat dan puncaknya adalah jihad di jalan Allah.” (HR Muslim). Dan ibadah shalat akan dijadikan Allah SWT sebagai barometer perhitungan (hisab) amal hamba-hamba-Nya ketika nanti di akhirat, “Awal hisab seorang hamba pada hari kiamat adalah shalat. Apabila shalatnya baik maka seluruh amalnya baik, dan apabila buruk maka seluruh amalnya buruk.” (HR At-Thabrani). Ibadah shalat juga merupakan wasiat Nabi SAW yang terakhir kepada umat ini agar selalu dijaganya. Shalat juga merupakan  ikatan Islam yang paling terakhir yang akan dihapus oleh Allah SWT.Ibadah shalat merupakan penyejuk mata. Saat melakukannya adalah saat rehatnya sang jiwa. Saat dimana kebahagiaan hati dan kedamaian jiwa bersemayam disana. Dan ia menjadi sarana komunikasi antara hamba dan Rabbnya. Tetapi ibadah yang memiliki kedudukan yang agung ini tidak akan hadir maknanya dalam kehidupan kita, tatkala kita lalai menjaga syarat rukun dan sunah-sunah yang melekat dengan ibadah ini. Tatkala kita tidak mampu menghadirkan hati, merajut benang kekhusukan dan keikhlasan dalam melaksanakan ibadah ini maka kita tidak akan mampu menangkap untaian makna yang terkandung di dalamnya. Kita tidak akan mampu memahami sinyal-sinyal rahasia yang ada di balik ibadah ini.

Ibadah shalat akan mampu melahirkan hikmah pencegahan dari perbuatan keji dan kemungkaran, hikmah pensucian jiwa dan ketentraman, jika dilakukan dengan penuh kekhusyukan, menghayati gerakan dan ucapan yang terkandung di dalamnya, penuh ketenangan dan dengan perenungan yang sesungguhnya. Maka ia akan keluar dari ibadah dengan merasakan kenikmatannya, perilakunya juga akan terwarnai dengan nilai-nilai keta’atan dan ia akan mendapatkan pancaran cahaya Ilahiyah. Rasulullah SAW bersabda: “Tidak seorangpun yang melaksanakan shalat maktubah (fardlu), lalu ia memperbaiki wudlunya, khusyuk dan rukuknya kecuali shalat ini akan menjadi pelebur dosa-dosa sebelumnya selama tidak melakukan dosa besar. Dan ini berlaku sepanjang tahun.” (H.R. Muslim)

Ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan di saat melaksanakan ibadah shalat agar hikmah di dalamnya selalu terjaga; Pertama, menjaga semua rukun, wajib dan sunah dalam shalat. Rasulullah SAW bersabda: “Shalatlah kamu sebagaimana kamu melihatku shalat.” Kedua, ikhlas, khusyuk dan menghadirkan hati. “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan keta’atan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.” (Q.S. 98/Al-Bayyinah:5). Ketiga, memahami dan mentadabburi ayat, do’a dan makna shalat. “Maka kecelakaanlah bagi orangorang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya.” (Q.S. 107/Al-Maa’uun: :4-5). Keempat, mengagungkan Allah SWT dan merasakan haibatullah. Rasulullah SAW bersabda, “…Kamu mengabdi kepada Allah seolah-olah kamu melihatNya dan apabila kamu tidak melihat-Nya, maka (yakinlah) bahwasanya Allah melihat kamu…” (H.R. Muslim).

 

Di-tag sebagai:

Harap mencantumkan alamat website ini jika Anda menyalin tulisan ini.
Kirim email pada penulis ini | Lihat seluruh tulisan oleh

Beri komentar