Allah Maha Pengampun

Ditulis oleh • Nov 7th, 2017 • Kategori: Mutiara Hadits
  • SumoMe

Dari Anas bin Malik, dia berkata, “Aku telah mendengar Rasulullah SAW bersabda, ‘Allah Ta’ala berfirman, ‘Wahai Anak Adam (manusia)! Sesungguhnya apa yang kamu minta dan harapkan kepada-Ku, niscaya Aku akan mengampuni dosa-dosamu dan Aku tidak peduli. Wahai Anak Adam! Andaikata dosa-dosamu mencapai awan di langit (sejauh mata memandang ke langit), kemudian kamu meminta ampun kepada-Ku, niscaya Aku akan mengampunimu. Wahai Anak Adam! Sesungguhnya andaikata kamu datang kepada-Ku dengan membawa dosa-dosa (kecil) sepenuh isi bumi, kemudian kamu bertemu dengan-Ku (mati dengan memohon ampun dan tanpa berbuat syirik), tidak menyekutukan-Ku dengan sesuatu apapun, niscaya Aku akan mendatangkan ampunan kepadamu sepenuh isinya pula.” (HR At-Turmudzi).

Dalam hadits di atas disebutkan beberapa sebab untuk mendapatkan ampunan dari Allah, diantaranya adalah tiga hal berikut ini. Pertama, berdoa dan berharap kepada Allah. Mengenai hal ini, terdapat banyak sekali hadits-hadits yang menunjukkan urgensi dan keniscayaan berdoa kepada Allah Ta’ala, diantaranya firman-Nya (artinya), “Dan Rabb kamu berfirman, ‘Mintalah (berdoalah) kepada-Ku, niscaya Aku akan mengabulkan bagimu.” (QS. Ghafir: 60) Hal yang paling penting untuk diperhatikan di dalam berdoa adalah: 1) Ikhlas semata karena Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. 2) Khusyu’, tunduk, menampakkan kehinadinaan dan kebutuhan diri. 3) Tidak memakan hal yang haram dan bermu’amalat dengannya. 4) Ngotot dan terus berharap dikabulkan ketika berdoa. 5) Tidak terburu-buru minta dikabulkan.

Kedua, istighfar dan melakukannya secara kontinyu. Sebab, bila seorang hamba berbuat dosa dan meminta ampun, pasti Allah akan mengampuninya betapapun banyak dan besar dosanya. Dalam hal ini, Allah Ta’ala berfirman (artinya), “Dan minta ampunlah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS Al-Baqarah:199). Dalam ayat lain Allah berfirman: “Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, kemudian ia mohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS An-Nisa`:110). Di antara hal-hal yang perlu diperhatikan di dalam memohon ampun (beristighfar) adalah: 1) Niat yang tulus, 2) Menghadirkan istighfar tersebut ketika akan melakukannya, 3) Merasakan keagungan Allah Ta’ala saat beristighfar, 4) Melakukannya secara kontinyu dan memperbanyak frekuensinya, 5) Merasakan akan dikabulkannya istighfar tersebut oleh Allah Ta’ala.

Ketiga, bertauhid dan tidak berbuat syirik kepada Allah. Ini merupakan faktor paling penting diampuninya dosa-dosa, sebab Allah tidak menciptakan makhluk dan mengutus para Rasul serta menurunkan kitab-kitab kecuali agar melakukan kewajiban bertauhid sebagaimana firman Allah (yang artinya): “Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): ‘Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah thaghut itu.” (QS An-Nahl:36). Di ayat yang lain Allah berfirman: “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” (QS Adz-Dzariyat:56)

Tauhid artinya menerapkan persaksian bahwa Tiada Tuhan – yang haq – selain Allah dan Muhammad adalah Rasul Allah. Siapa saja yang mati dalam kondisi bertauhid tersebut, maka dia berhak mendapatkan keselamatan dan masuk surga. Mengenai hal ini, terdapat hadits yang shahih dari Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi Wa Sallam bahwa beliau bersabda, “Barangsiapa yang akhir ucapannya di dunia (ketika mati) adalah ‘Lâ ilâha Illallâh’ maka wajahnya diharamkan atas api neraka (untuk disentuh).” Hadits ini menunjukkan betapa besar ampunan Allah dan betapa luas rahmat-Nya. Oleh karena itu, yang diminta dari seorang hamba hanyalah melakukan sebab-sebab pengampunan tersebut sehingga Allah mengampuninya.

Konsekuensi dari berbuat syirik, dan mati dalam keadaan itu apapun jenisnya, adalah mendapatkan kemurkaan dan kemarahan dari Allah Ta’ala serta tidak mendapatkan ampunan-Nya.

Allah benar-benar saying kepada kita dengan kesiapan-Nya setiap saat menunggu kedangan kita untuk minta ampu, tapi apakah kita benar-benar menyayangi diri kita dengan terus menurus bangga dengan dosa-dosa dan enggan bertaubat?

Harap mencantumkan alamat website ini jika Anda menyalin tulisan ini.
Kirim email pada penulis ini | Lihat seluruh tulisan oleh

Beri komentar