Amalan Pembersih Jiwa

Ditulis oleh • Jan 3rd, 2018 • Kategori: Mutiara Al-Qur'an
  • Sumo

Untuk menuju jiwa yang bersih, manusia harus beribadah kepada Allah secara ikhlas, dengan cara melaksanakan berbagai amalan wajib atau sunnah. Hal ini dilakukan dengan pengertian bahwa manfaatnya bukan untuk Allah, tetapi untuk dirinya sendiri. Banyak orang mengira tatkala ia melakukan satu perintah, semisal shalat atau infak, maka ia menganggap bahwa ibadah tersebut adalah untuk Allah. Maha Suci Allah, dari pengetian seperti itu. Dia adalah Dzat yang tidak memerlukan bantuan siapa pun, atau membutuhkan sesuatu. Dia Maha Kaya lagi Maha Terpuji, tidak butuh kepada makhluk, bahkan makhluklah yang membutuhkan-Nya. Ketika seseorang hendak beramal, lalu mengira bahwa amal itu adalah untuk Allah—sebab Allah membutuhkannya, tentulah manusia akan melakukan ibadahnya sekadarnya saja. Ia akan malas, sebab tabiat manusia itu bakhil, alias pelit.

Ketika berbagai amalan dilakukan dengan setting jiwa seperti itu, maka dampaknya adalah ibadahnya hanya sekadar melepas kewajiban, dan akhirnya tidak sampai sebagai pembersih bagi jiwanya. Karena itu, pegertian tersebut harus dibalik. Manusialah yang mendapatkan kemanfaatan dari ibadahnya. Bahkan, dia dapat melakukan ibadah tersebut karena Allah sedang membersihkan jiwanya. Karena itu, jangan ada anggapan bahwa diri sudah bersih, sebab jika bukan karena Allah, maka tidak ada seorang pun yang mampu untuk membersihkan jiwanya. Sebagimana firman Allah: “…Sekiranya tidaklah karena kurnia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorang pun dari kamu bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (an-Nuur (24) : 21)

Agar jiwa menjadi bersi, seseorang semestinya memperbanyak amalan sunnah baik itu shalat, puasa, infak, sedekah, dan lain sebagainya. Karena apabila seseorang yang baru melaksanakan perintah-perintah wajib, sesungguhnya baru sekadar menggugurkan kewajiban saja dan belum mendapat keuntungannya. Namun  bila dia melaksakan amalan-amalan sunnah, semisal shalat sunnah qabliyah dan ba’diyah, itulah keuntungannya. Selain itu, ibadah tersebut akan berdampak pada kejiwaannya yang semakin mantap, bersih, dan  segar.

Kemudian senantiasa mengingat Allah SWT, baik dalam keadaan berdiri, duduk, atau pun berbaring; dalam keadaan sunyi atau pun ramai. Hal ini dikarenakan perintah mengingat Allah SWT tidak hanya ketika sedang melakukan shalat fardhu lima kali sehari, namun bahkan sesudahnya, sebagaimana disebutkan di bawah ini.

“Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalat(mu), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring. Kemudian apabila kamu telah merasa aman, maka dirikanlah shalat itu (sebagaimana biasa). Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” (an-Nisaa (4) : 103)

Perintah mengingat Allah setelah melaksanakan shalat Jum’at
“Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum’at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.” (al-Jumu’ah (62) : 9-10)

Perintah mengingat Allah setelah menunaikan ibadah haji
“Apabila kamu telah menyelesaikan ibadah hajimu, maka berdzikirlah dengan menyebut Allah, sebagaimana kamu menyebut-nyebut (membangga-banggakan) nenek moyangmu  atau (bahkan) berdzikirlah lebih banyak dari itu….”  (al-Baqarah (2) : 200)

Perintah berdzikir dalam keadaan apa pun juga
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya  malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), ‘Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.’” (Ali Imran (3) : 190-191)

Orang yang banyak mengingat Allah SWT akan mempunyai jiwa yang sehat, segar, dan bersemangat. Hati serta jiwanya hidup dan penuh bergelora dalam menghadapi hidup dan tantangannya. Sebaliknya, orang yang tidak mengingat Allah dan bakhil untuk melakukannya, hatinya akan menjadi sempit, jiwanya lesu dan lemah, dan akhirnya mati. Manusia mati ini terbawa arus dunia yang cenderung menyesatkannya. Rasulullah saw. memberi gambaran ini dalam sabdanya: “Perumpamaan orang yang mengingat Tuhannya dan yang tidak pernah mengingat-Nya adalah seperti orang yang hidup dan mati.”

Mentadaburkan Al-Qur’an, yakni membaca, mengkaji, memahami, dan menghayati serta berusaha untuk mengamalkan ayat-ayat Allah yang sifatnya tersurat (Al-Qur’anul Karim). Hal ini dikarenakan ada hubungan yang kuat antara hati manusia dengan tadabur, yaitu hati manusia terbuka untuk menerima hidayah dan petunjuk, seperti dinyatakan dalam  firman Allah Ta’ala.: “Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Quran ataukah hati mereka terkunci?” (Muhammad (47) : 24)

Peranan hati dalam kehidupan manusia sangat penting, karena  hatilah yang akhirnya menentukan status pemiliknya: mukmin, kafir, atau munafik  Namun, hati adalah  sesuatu yang tidak pernah mapan dan ajeg. Ia senantiasa berubah-ubah. Inilah yang menyebabkan ia disebut hati atau qalbu. Fenomena perubahan hati ini  sangat jelas terasa, yaitu melemahnya iman. Diantara indikasinya adalah suka melakukan dosa dan maksiat, memiliki hati yang keras dan kaku, malas beribadah, meremehkan ketaatan, jiwanya sempit, lupa kepada Allah, mendahului kehidupan dunia daripada akhirat, rasa pembelaan dan ghirahnya terhadap Islam lemah, bakhil dan materialis, serta melanggar larangan Allah saat sendirian.

Dengan senantiasa mentadaburkan Al-Qur’an, diharapkan hati dan jiwa manusia akan mendapatkan cahaya dan hidayah sehingga menjadi lembut dan sensitif terhadap kebaikan dan kebajikan. Namun sebaliknya, hati akan menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi, karena terbungkus oleh berbagai kotoran dosa dan maksiat. Hal ini menjadikan pemiliknya menjadi orang yang keras kepala, penentang, fasik, dan kufur kepada Penciptanya.

“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al-Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik.” (al-Hadiid (57) : 16)

Memperbanyak zikrul maut, yaitu dengan senantiasa membayangkannya hingga lahirlah rasa was-was di dalam hatinya. Perasaan tersebut akan mendorong seseorang berbuat sebaik-baiknya dan waspada agar tidak tergelincir dalam pebuatan dosa dan maksiat. Sebab, ia menyadari datangnya kematian tidak diketahui, tetapi dia pasti datang. Sebagaimana dinyatakan dalam firman-Nya.

“Katakanlah, “Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (al-Jumu’ah (62) : 8)

Dengan senantiasa mengingat kematian, hati akan hidup dan jauh dari kecintaan yang berlebihan terhadap dunia dan kesenangannya. Hati akan menjadi zuhud, yakni lebih mendahului kepentingan dan kehidupan akhirat, sehingga ia menjadi orang yang selalu mempunyai respon yang tinggi terhadap seruan Allah SWT. Sebaliknya, orang yang merasa hidupnya masih panjang dan kematiannya masih jauh akan terpedaya oleh kesenangan hawa nafsu, serta enggan bertaubat dan taat pada rambu-rambu ajaran Allah SWT. Ketika akhirnya sakratul maut datang dan kematian sudah dihadapan matanya, barulah ia menyesal dan ingin beramal soleh, padahal sudah tiada kesempatan lagi baginya.

“Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang merugi. Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata, “Ya Rabb-ku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang soleh?” Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila telah datang waktu kematiannya. Dan Allah Maha Mengenal apa yang kamu kerjakan.” (al-Munaafiquun (63) : 9-11)

Berkawan dengan orang-orang yang soleh. Mereka akan menularkan sifat-sifat kesolehannya kepada siapa pun yang ada di dekatnya, dan diantara sifat tersebut adalah kebersihan hati dan ketenangan jiwa. Sebab, seseorang yang walaupun pada awalnya tidak soleh, namun bila terus menerus berkawan dengan orang-orang yang soleh, lama kelamaan akan menjadi saloh. Karena itu, Rasulullah saw. mengatakan, “Seseorang itu tergantung agama temannya.” Dari sini jelaslah pengaruh teman dan lingkungan pada keadaan hati dan jiwa seseorang. Itulah sebabnya Al-Qur’an berpesan kepada kita agar senantiasa bersama orang-orang yang benar.

“Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar.” (at-Taubah (9) : 119)

(H. Agung Cahyadi)

Di-tag sebagai:

Harap mencantumkan alamat website ini jika Anda menyalin tulisan ini.
Kirim email pada penulis ini | Lihat seluruh tulisan oleh

Beri komentar