Ashabul Ukhdud

Ditulis oleh • Mei 23rd, 2019 • Kategori: Mutiara Al-Qur'an
  • Sumo

Allah SWT berfirman: “Binasa dan terlaknatlah orang-orang yang membuat parit. Yang berapi (dinyalakan dengan) kayu bakar. Ketika mereka duduk di sekitarnya. Sedang mereka menyaksikan apa yang mereka perbuat terhadap orang-orang yang beriman. Dan mereka tidak menyiksa orang-orang mukmin itu melainkan karena orang-orang mukmin itu beriman kepada Allah yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji. Yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; dan Allah Maha menyaksikan segala sesuatu.” (QS. Al Buruuj: 4 – 9)

Terkait ayat-ayat diatas ini sebuah kisah yang diriwayatkan oleh Suhaib ra dari Nabi saw sebagai berikut.

Dahulu ada seorang raja yang mengaku sebagai tuhan. Dia memiliki tukang sihir yang sudah tua. Si tukang sihir meminta agar dicarikan seorang pemuda untuk diajari sihir untuk menjadi penggantinya kelak. Akhirnya ada seorang pemuda yang cerdas mau mengabdikan dirinya menjadi murid penyihir raja. Antara rumah pemuda tersebut dengan tempat penyihir ada seorang rahib (orang alim). Pemuda tersebut selain mempelajari sihir juga menimba ilmu kepada sang rahib hingga ia ragu-ragu dengan sihir yang ia pelajari. Suatu hari penduduk kampung tidak bisa melewati jalan karena disana ada seekor binatang besar yang menghalangi jalan. Secara kebetulan juga pemuda tersebut akan melewati jalan itu. Dengan serta merta penduduk kampung meminta bantuan kepada pemuda tersebut karena mereka tahu bahwa sang pemuda adalah murid penyihir raja. Kemudian pemuda itupun berdoa: ”Ya Allah, jika ilmu yang aku dapatkan dari rahib lebih engkau cintai maka singkirkanlah binatang itu.” Kemudian ia mengambil batu dan melempar binatang itu, maka binatang itu pun kena dan mati.   Melihat kejadian  tersebut maka penduduk kampung mengelu-elukan kehebatan sihir yang dimiliki sang pemuda. Tetapi dengan cepat pemuda itu menyangkal seraya berkata bahwa itu bukan sihir, akan tetapi itu atas bantuan Allah. Kemudian pemuda tersebut mengajak masyarakat untuk menyembah Allah yang menguasai alam semesta.

Sejak itulah tersebar di tengah-tengah masyarakat kelebihan-kelebihan yang dimiliki oleh pemuda tersebut sehingga membuat penasehat raja yang buta ingin tahu dan mencoba untuk mencari obat. Akhirnya penasehat raja bergegas menemui pemuda tersebut di rumahnya. Ia menjanjikan kepada pemuda, jika ia mampu menyembuhkan akan diberikan hadiah apa saja. Sang pemuda dengan tawadhu menjawab bahwa ia tidak bisa menyembuhkan siapapun. Yang menyembuhkan penyakit adalah Allah.

“Jika engkau beriman kepada-Nya saya akan berdo’a kepada Allah swt agar Dia menyembuhkanmu.” Maka orang buta tadi beriman dan sembuh. Namun kabar ini terdengar oleh raja yang mengaku sebagi tuhan.

“Wahai Fulan, siapa yang menyembuhkanmu?“ tanya raja kepada si buta. “Allah, tuhanku dan tuhanmu,” jawab si buta. Sang raja pun marah dan mengazab orang buta yang beriman tadi. Lalu ia bertanya kepada sang pemuda, “Wahai pemuda, sampaikanlah kepadaku bagaimana kamu menyembuhkan penyakit?” Maka sang pemuda menjawab, ”Saya tidak menyembuhkan siapa-siapa. Allahlah yang menyembuhkan.” Raja pun marah dan mengorek keterangan lebih lanjut darimana pemuda tadi belajar. Kemudian pemuda tadi  memberitahukan bahwa ia belajar kepada rahib. Akhirnya rahib pun didatangkan ke istana dan raja meminta kepada rahib itu agar kembali kepada ajaran sang raja yang mengaku dirinya sebagai tuhan. Sang pendeta tetap istiqomah pada pendiriannya, hingga raja menyiksanya sampai mati.

Giliran pemuda yang diajak kembali mengikuti keinginan raja,  akan tetapi ia tetap istiqomah dan teguh pendirian. Akhirnya raja marah dan memerintahkan kepada bala tentaranya untuk membawanya ke puncak gunung. Jika ia mau kembali ke ajaran raja maka ia akan selamat. Tetapi kalau tidak maka ia akan dijatuhkan kedalam jurang.

Saat itulah pemuda itu berdoa, “Ya Allah, aku serahkan urusan mereka kepada-Mu”. Akhirnya Allah menghancurkan mereka.

Kemudian pemuda itu kembali ke istana. Rajapun merasa heran, lalu pemuda itu dibawa ke tengah lautan untuk ditenggelamkan. Tetapi Allah justru menenggelamkan para bala tentara, sedangkan sang pemuda kembali ke istana.

Raja semakin bingung dan mencoba membunuh pemuda tersebut, tetapi tidak bisa. Akhirnya dengan besar hati sang pemuda memberitahukan cara kematiannya yaitu dengan cara memanahnya sambil mengucapkan dihadapan umum: “Dengan nama Allah, tuhan sang pemuda”. Dengan cara itu, terbunuhlah sang pemuda.

Mengetahui hal itu, rakyat menjadi beriman. Raja pun murka, dan memerintahkan agar dibuat parit yang diisi dengan api yang menyala-nyala. Lalu raja menyuruh orang-orang yang telah beriman untuk kembali murtad atau jika tidak mereka akan dilemparkan kedalam parit. Tetapi mereka memilih untuk dimasukkan kedalam parit daripada kembali murtad. Diantara mereka terdapat seorang wanita yang sedang menyusui, lalu anaknya yang masih menyusu bisa berkata-kata: “Bersabarlah, wahai ibu. Sesungguhnya kamu dalam kebenaran.” Maka semua orang yang beriman tadi pun dimasukkan ke dalam parit.

Harap mencantumkan alamat website ini jika Anda menyalin tulisan ini.
Kirim email pada penulis ini | Lihat seluruh tulisan oleh

Beri komentar