Bahagia Dengan Berdzikir

  • Sumo

Allah subhanu wata’alah berfirman yang artinya: “Hai orang-orang yang beriman, berdzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, dengan dzikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang hari”.(QS. Al Ahzab: 41). Dalam ayat ini Allah SWT memerintahkan kepada kita untuk banyak bedzikir kepada-Nya; karena pada hakikatnya seorang hamba memang sangat perlu berdzikir mengingat Allah. Bahkan merupakan kebutuhan yang sangat urgen. Orang yang selalu berdzikir insya Allah aman dari gangguan syetan dan dijaga dari mengikuti hawa nafsu yang tidak baik, bukankah ia berada dibenteng yang kokoh yaitu penjagaan Allah SWT.

Pengertian dzikir bisa berarti mengingat Allah SWT dengan banyak menyebut nama-Nya, baik secara lisan maupun di dalam hati. Seperti banyak menyebut Subhanallah wabi hamdihi subhanallah al ‘azim. Dua kalimat in seperti yang disabdakan Rasulullah saw merupakan kalimat yang ringan di ucapkan oleh lisan tapi sangat berat timbangan dan sangat dicintai oleh Allah.  Sebagaimana Nabi bersabda: “Dua kalimat yang begitu ringan diucapkan lisan dan sangat berat ditimbangan serta dangat disukai oleh Allah SWT yang Maha Pengasih, adalah Subhanallah wabihamdihi subhanallah hil adzim”. 

Dan berdzikir juga bisa berarti mengingat Allah dalam berbagai keadaan,  bagaimanapun keadaannya ia tetap mengingat Allah. Ia selalu merasa dilihat dan diawasi segala gerak geriknya oleh Allah. Sehingga dimanapun berada ia tidak berani melakukan hal yang dilarang oleh Allah. Contoh : Puasa, ketika kita berpuasa kita menahan lapar dan haus serta  menahan dari perkataan dan perbuatan yang tidak baik. Hal ini kita lakukan setiap hari sampai satu hulan di bulan Ramadhan. Puasa melatih  pikiran dan hati kita untuk memahami  bahwa Allah mengetahui segala perbuatan yang kita lakukan. Dengan demikian kita  tidak berani melakukan hal-hal yang dilarang oleh Allah.  Inilah makna dzikir kepada Allah .

Dzikir dan seluruh amal shalih sangat erat kaitannya dengan ketenangan bathin. Dan ketenangan bathin itu sangat erat hubungannya dengan kebahagiaan hidup. Seorang salafushalih yang tinggal sendirian di tengah padang pasir pernah ditanya, “Apakah engkau tidak merasa terancam? Ia mengatakan, “Apakah ada orang yang merasa terancam dan khawatir bersama Allah?” jawabnya. Tak jauh maknanya dengan apa yang diungkapkan oleh Muslim bin Yasar, yang mengatakan, “Tak ada kenikmatan yang melebihi kenikmatan sendiri menghadap Allah dalam sepi (berkhalwat).”

Rumah orang yang melakukan dzikrullah akan bercahaya bak bintang. Seperti disebutkan dalam sebuah hadits, Abu Hurairah menyampaikan sabda Rasulullah saw bahwa Allah akan menerangi rumah orang yang berdzikir hingga rumah itu akan terllihat oleh penduduk langit. “Sesungguhnya penghuni langit melihat rumah-rumah ahli dzikir yang diterangi oleh dzikir mereka. Sinar itu bercahaya seperti bintang bagi penduduk bumi,” ucap Rasulullah saw. Tepatlah jawaban imam Hasan al Bashri saat ditanya seorang pemuda, “Kenapa orang yang gemar melakukan shalat tahajjud wajahnya enak dipandang?” Ia mengatakan, “Bagaimana tidak, mereka telah berkhalwat dengan yang Maha Pengasih kemudian Allah pasti memberikan cahaya-Nya pada orang tersebut.”

Sebaik-baik perbuatan yang dapat dilakukan seseorang dalam nafas hidupnya, paling bermanfaat waktu yang diluangkan adalah berdzikir kepada Allah SWT, apalagi di iringi dengan berdoa kepada-Nya, karena yang demikianlah hidup menjadi bermakna dan waktu menjadi berharga, jiwa yang kian hari beretambah menjadi berbobot, bahkan memiliki aspek kebahagiaan, ketenangan, ketentraman dan kelapangan dalam setiap gerak dan aktivisnya, dzikir merupakan kunci segala kebaikan hamba didunia dan diakhirat.

Tidak dipungkiri bahwa Nabi saw sebagai pemberi nasehat umatnya, memberikan warisan yang baik,, jalan yang jelas dalam menuntun pengikutnya untuk berdzikir dan berdoa, menuntun segala kebaikan di dunia dan akhirat, tidak ada yang baik kecuali beliau telah memberikan dalil (petunjuk) nya, memotivasi untuk bermulazamah dengannya. Allah berfirman : Telah datang kepada kalian seorang Rasul dari golongan kalian sendiri, sangat belas kasih terhadap penderitaan kalian, bersemangat atas kalian untuk beriman, pemaaf dan kasih sayang”. (At-Taubah : 128)

“Dialah (Allah) yang telah mengutus ditengah umat yang ummi seorang Rasul dari kalian, membacakan kepada kalian ayat-ayat-Nya, membersihkan jiwa kalian dan mengajarkan kitab dan hikmah, padahal sebelumnya mereka sebelumnya dalam keadaan sesat yang nyata”. (Al-Jumu’ah : 2)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.