Bukti Yang Nyata

Ditulis oleh • Des 14th, 2018 • Kategori: Mutiara Al-Qur'an
  • Sumo

Tersebut dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Arras bin Malik, bahwa Rasulullah s.a.w. pernah berkata kepada sahabatnya Ubay bin Ka’ab r.a.: “Sesungguhnya Allah mewahyukan kepadaku, supaya membacakan kepadamu Surat Lam yakunil-ladziina kafaruu. Lalu Ubay ber­tanya: “Apakah Tuhan menyebut namaku?” Rasulullah menjawab: “Memang! (namamu disebut). Mendengar itu menangislah Ubay. Menurut keterangan Al-Qurthubi dalam tafsirnya, mengapa sampai Allah menyuruhbacakan surat ini kepada Ubay bin Ka’ab adalah karena Ubay sangat kuat ingatannya, sehingga apa saja yang didengarnya dari Rasulullah s.a.w., dengan segera dapat ditangkapnya dan diajarkannya kepada orang lain. Kekuatan ingatannya dan kesungguhannya menghafal dan mengajarkan kepada orang lain itulah yang. mendapat penghargaan dari langit. Kandungan Surat

Firman Allah SWT: (1)  Orang-orang kafir yakni ahli Kitab dan orang-orang musyrik (mengatakan bahwa mereka) tidak akan meninggalkan (agamanya) sebelum datang kepada mereka bukti yang nyata, (2)  (yaitu) seorang Rasul dari Allah (Muhammad) yang membacakan lembaran-lembaran yang disucikan (Al Quran), (3) Di dalamnya terdapat (isi) kitab-kitab yang lurus. (4) Dan tidaklah berpecah belah orang-orang yang didatangkan Al-Kitab (kepada mereka) melainkan sesudah datang kepada mereka bukti yang nyata. (5) Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus. (6) Sesungguhnya orang-orang yang kafir yakni ahli kitab dan orang-orang yang musyrik (akan masuk) ke neraka jahannam; mereka kekal di dalamnya; mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk. (7) Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk. (8) Balasan mereka di sisi Tuhan mereka ialah syurga ‘Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha terhadap mereka dan merekapun ridha kepada-Nya. yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Tuhannya.

 

Ayat pertama sampai empat menjelaskan tentang  pernyataan ahli kitab dan orang-orang musyrik bahwa mereka akan tetap dalam agamanya masing-masing sampai datang nabi yang telah dijanjikan oleh Tuhan.

Imam At-Thabari berkata, ”Tidaklah sekali-kali golongan orang-orang kafir dari kalangan ahli kitab (Yahudi dan Nashrani) dan orang-orang musyrik, berbeda dalam menyikapi kehadiran Nabi Muhammad sebelum beliau diutus. Bahkan mereka (ahli Kitab) berharap-harap agar kelahirannya disegerakan, karena diyakini dapat menyelesaikan semua perkara yang terjadi diantara mereka sehingga tidak ada lagi fitnah. “Dan setelah datang kepada mereka Al-Quran dari Allah yang membenarkan apa yang ada pada mereka, padahal sebelumnya mereka biasa memohon (kedatangan Nabi) untuk mendapat kemenangan atas orang-orang kafir, maka setelah datang kepada mereka apa yang telah mereka ketahui, mereka lalu ingkar kepadanya. Maka laknat Allah-lah atas orang-orang yang ingkar itu.” (QS.Al-Baqarah: 89).

Ketika nabi yang mereka tunggu-tunggu lahir namun tidak sesuai harapan (yakni dari kalangan bani Israil) maka dengan cepat mereka berubah. Bahkan memusuhi Nabi Muhammad saw, padahal Nabi yang datang itu sifat-sifatnya sesuai dengan sifat-sifat yang mereka kenal pada kitab-kitab mereka dan membawa ajaran yang benar yaitu ikhlas dalam beribadah, mendirikan sembahyang, menunaikan zakat.

Selain itu ia juga membawa kitab suci yaitu Al-Qur’an yang didalamnya juga termuat isi kandungan kitab-kitab suci terdahulu seperti Zabur, Taurat dan Injil. Akan tetapi ada diantara ahli kitab yang beriman namun jumlahnya sedikit dan kebanyakan diantara mereka fasiq dan ingkar. “Sekiranya ahli kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.” (QS.Ali Imran: 110).

Pada ayat lain Allah telah mengisyaratkan kedengkian mereka terhadap Nabi Muhammad saw setelah datang kepada mereka bukti yang nyata. “Sebagian besar ahli kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran. Maka ma’afkanlah dan biarkanlah mereka, sampai Allah mendatangkan perintah-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. Al-Baqarah: 109)

Golongan ahli kitab yang beriman dan beramal sholeh akan mendapat kemulian diakhirat kelak. Sedangkan golongan yang kafir dan mengingkari risalah Nabi Muhammad saw adalah termasuk sejelek-jelek makhluk Allah dan akan menjadi penghuni neraka. Jadi klaim yang mereka pertahankan yaitu  tidaklah masuk surga kecuali Yahudi dan Nasrani hanyalah angan-angan belaka tanpa bukti. “Dan mereka (Yahudi dan Nasrani) berkata: ‘Sekali-kali tidak akan masuk surga kecuali orang-orang (yang beragama) Yahudi atau Nasrani”. Yang demikian itu (hanya) angan-angan mereka yang kosong belaka. Katakanlah: ‘Tunjukkanlah bukti kebenaranmu jika kamu adalah orang yang benar”. (QS.Al-Baqarah: 111)

Apakah Yahudi dan Nasrani di zaman sekarang termasuk ahli kitab? Ya, mereka termasuk ahli kitab, akan tetapi ahli kitab yang kafir, karena sebagian besar diantara mereka meyakini bahwa Yesus (Isa) adalah putra Allah. Maha suci Allah atas segala tuduhan keji mereka terhadap Allah. Lam yalid walam yulad; Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan (QS Al-Ikhlas: 3). Dan perhatikanlah firman Allah: ”Telah kafir mereka yang mengatakan sesungguhnya Allah itu tiga” (QS.Al-Maidah: 73)

Pada ayat yang kelima dijelaskan tentang inti seluruh ajaran para nabi yaitu ikhlas mentauhidkan Allah, mendirikan shalat dan membayar zakat. Mereka mengajak kaumnya untuk beribadah dengan ikhlas, hal ini sejalan dengan tujuan diciptakannya jin dan manusia yaitu untuk mengabdi kepada-Nya (QS Adz-Dzariyat: 56). Dan perlu diketahui, ikhlas dan mengikuti (mutabaah) Rasulullah saw dalam beribadah merupakan dua syarat muthlaq diterimanya amal. “Katakanlah: ‘Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. “ (QS. Ali Imran: 31)

Pada ayat yang ketujuh dan kedelapan Allah menjelaskan bahwa ganjaran orang yang beriman adalah surga. Jadi keimanan yang diiringi amal sholeh akan mengantarkan orang-orang mukmin kedalam kehidupan abadi di surga Adn yang didalamnya mengalir sungai-sungai dengan berbagai macam mata air; air yang jernih, susu, madu dan khamr (QS.Muhammad:15).  Mereka itulah sebaik-baik makhluk ciptaan Allah, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah.

Harap mencantumkan alamat website ini jika Anda menyalin tulisan ini.
Kirim email pada penulis ini | Lihat seluruh tulisan oleh

Komentar ditutup.