Menceritakan Aib Masa Lalu

Ada sesorang yang bertanya: Assalamualaikum ustadz, bolehkah saya menceritakan dosa masa lalu saya, yakni saya pernah terpapar video porno, kepada orang tua saya? Tetapi saya sudah taubat. Saya ingin menceritakannya supaya mereka memberi arahan untuk saya. Apakah ini sama halnya dengan konsultasi kepada ustadz, ulama dan lain-lain? karena tujuan saya menceritakan kepada orang tua adalah untuk diberi arahan dan bimbingan. Apakah hal ini menjadikan dosa saya susah untuk diampuni karena saya menceritakannya? Mohon penjelasannya, terimakasih wassalamualaikum. Lanjut membaca

Was-Was Dalam Sholat

Ada seseorang yang bertanya: assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Ustadz saya mau konsultasi. Saya tadi baru saja selesai sholat dhuha, pada saat saya sampai pada gerakan sujud saya mencium bau, saya khawatir kalau itu kentut, tapi saya tak merasakan sedikit pun angin yang keluar dari dubur saya, itu sering tejadi, bahkan saat saya sedang dalam keadaan membaca alfatihah dalam sholat. Itu bagaimana ya ustad? Lanjut membaca

Upah Guru Ngaji

Ada seseorang yang bertanya: assalaamu’alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh. Pak Ustadz saya mau bertanya, apakah kalau jadi guru ngaji, kemudian diberi uang setiap bulan semisal karena jadi guru ngaji tersebut, uangnya apa boleh untuk dibelikan barang-barang yang diinginkan seperti baju, sepatu, makanan dan sebagainya? Atau harus digunakan untuk berdakwah juga uang tersebut? Terimakasih pak Ustadz. Lanjut membaca

Apa Harus Diulang Sholatnya

Ada yang bertanya: assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Jika seseorang tidak tahu bahwa tuma’ninah itu harus dikerjakan dalam sholat, dan ketika tidak dikerjakan sholatnya tidak sah, apakah orang tersebut wajib mengulang sholatnya ? Sedangkan orang tersebut baru mengetahuinya setelah sholat selesai dikerjakan, namun masih ada waktu untuk mengulang sholat. Dan apakah jika sholatnya tersebut tidak diulang dia akan berdosa ? Jika telah berdosa apa yang harus dia lakukan ? Lanjut membaca

Jatuhkan Talaq Tiga

Ada yang konsultasi: assalamualaikum, mohon pencerahannya, saya berumah tangga sudah hampir 6 tahun, suami saya sangat temperamen. Kami masih tinggal serumah dengan orang tua saya. Suatu ketika terjadi pertengkaran dan menyulut emosi suami saya sehingga menjatuhkan talak 3 pada saya dan mengembalikan saya kepada orang tua saya. Setelah emosi reda suami menyesal dan tidak bermaksud menceraikan saya.Apakah talak itu sudah jatuh? Secara suami saya tidak paham dengan hukum talak. Dan jika ingin rujuk gimana caranya? Lanjut membaca

Menentukan Jodoh

Pertanyaan: Assalamualaikum wr wb. saya mau tanya, saya mempunyai kenalan lelaki yang berniat ingin menikahi saya secepatnya, tapi karena kondisi keluarga saya yang serba terbatas saya disuruh ortu untuk tdk menikah dulu, lelaki ini mau menunggu saya. sebenarnya, keluarga saya tidak 100% mendukung saya dengan dia karena pendapatan saya lebih besar dari dia, keluarga saya berekspektasi tinggi terhadap suami saya. saya menyetujui tawaran dia untuk menikahi saya karena agamanya bagus, akhlaknya bagus juga, dan pekerja keras. saya juga terus berdoa dan shalat untuk minta petunjuk ke Allah. tetapi semakin lama saya kok merasa ragu dengan dia, setiap saya liat postingan media teman saya, mereka hidup bahagia dan berkecukupan, saya takut dan khawatir jika saya hidup dengan dia apakah saya bahagia, atau saya malah menyakiti dia karena terus menuntut banyak ke dia. sedangkan jika saya mengutarakan unek unek saya ini dia selalu bilang kalau memang dirinya seperti itu, dia bukan tipe orang yg mengukur segala sesuatu dengan uang. mohon penjelasan atas kekhawatiran saya ini… Lanjut membaca

Masa Iddah Gugat Cerai

Assalamu’alaikum Ustadz, berapa lamakah masa iddah untuk istri yang menggugat cerai di pengadilan, dan telah diputuskan cerai oleh hakim pengadilan tanpa kehadiran mantan suami. Karena ada 2 pendapat, 1 kali haid dan 3 kali haid. Kok saya merasa khawatir karena sudah menikah kembali 5 tahun yang lalu dan sudah dikaruniai anak perempuan dengan pengetahuan dan berkeyakinan masa idah 1 kali haid saja (putusan pengadilan tanggal 28 Mei dan menikah pada tanggal 8 Agustus). Beliau sekarang ragu-ragu tentang status pernikahan karena setelah baca-baca kok ada 2 perbedaan. Apa yang harus dilakukan ustadz? Lanjut membaca

Jual Makanan Bayar Seikhlasnya

Ada pertanyaan: assalamualaikum wr. wb. Bagaimana hukum jual makanan (nasi untuk makan siang) dengan akad “makan secukupnya bayar seikhlasnya “. Karena memang itu program dari perusahaan untuk membantu kaum dhuafa atau musafir. Prosesnya: pembeli makan dahulu bayar setelah selesai dan diperbolehkan bayar berapapun bahkan kalau memang tidak bayar juga tidak apa. Tapi buat mereka yang mau sedekah juga boleh bayar lebih. Konsepnya adalah tidak mencari untung. (Saya pernah mendengar ada pendapat bahwa itu tidak diperbolehkan karena ada unsur ghoror) mohon pencerahannya. Jazakumullah khairan katsira. Lanjut membaca

Kafarah Nazar

Ada seseorang yang bertanya: Adik saya berniat berhenti merokok jika anaknya lahir laki-laki. Ternyata betul lahir laki-laki tapi dia tidak bisa berhenti merokok. Akhirnya dia membayar kafarah nazarnya. pertanyaan: apakah nazar tersebut gugur setelah dibayar kafarahnya atau nazar tersebut tetap berlaku tapi setiap dilanggar harus dibayar kafarahnya. Terimakasih. Jawaban: Menunaikan nazar adalah wajib, meskipun pada asalnya mengucapkan nazar ini hukumnya makruh, bahkan sebagian ulama memandangnya haram. Dasarnya adalah sabda Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam, “Sungguh nazar itu tidak dapat menolak takdir. Sungguh nazar itu keluar dari sifat kikir.” (HR. Bukhori dan Muslim)

Lanjut membaca

Memilih Pendidikan

Ada pertanyaan: assalammualaikum. Saya perempuan usia 28 tahun. Baru tiga tahun menjalani rumah tangga. Alhamdulillah sudah dikaruniai seorang putra usia 2 tahun. Saat ini saya ingin sekolah lagi mengambil gelar master karena saya rasa putra saya sudah mulai besar. Saya ingin melanjutkan cita cita saya untuk bisa menjadi dosen. Suami saya mendukung. Masalahnya adalah apakah saya harus keluar negeri atau di dalam negeri, karena saya mendapat beasiswa keluar negeri, sementara kondisi saya, saya tidak bisa jauh dari anak dan suami saya, karena beasiswa hanya untuk saya sendiri. Jika saya ambil di dalam negeri saya harus bayar sendiri karena belum ada beasiswa. Bagaimana seharusnya sikap saya? Terimakasih Lanjut membaca