Mengatasi Marah

Renungkan dan camkanlah firman Allah dan beberapa pesan Rasul kita Muhammad saw berikut, barangkali bermanfaat bagi anda. Dalam Al Qur’an surat Ali Imron (3) ayat ke 134, disebutkan kareakter orang bertaqwa penghuni surga, yang diantaranya ialah ” … dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain, Dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan ” Rasulullah bersabda saw yang artinya “Bukanlah orang yang kuat itu yang menang dalam berkelai, tetapi orang yang kuat ialah orang yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah” Rasulullah saw bersabda yang artinya “Janganlah marah, maka bagimu surga” Lanjut membaca

Yang Dicintai Allah

Jika Allah mencintai hambanya maka ada beberapa ciri-ciri yang menunjukkan cinta Allah kepadanya. Berikut beberapa ciri hamba yang dicinta Allah: Hamba itu dicintai dan diterima keberadaanya oleh banyak orang dengan tulus. Cinta mereka kepadanya bukan karena adanya kepentingan duniawi . Rasulullah bersabda: “Bila Allah mencintai seorang hamba maka Dia menyeru Jibril: Sesungguhnya Allah mencintai fulan maka cintailah ia, maka Jibrilpun mencintainya, lalu Jibril menyeru penduduk langit: Sesungguhnya Allah mencintai si fulan maka cintailah ia, maka merekapun mencintainya, lalu ditentukan baginya sikap menerima (dan cinta dari penduduk) dibumi”. (HR Bukhari) Lanjut membaca

Meraih Beribu Kebaikan Dengan Dzikir

Perihal keutamaan Dzikir, Allah Subhanahu wa Ta’ala ber-firman yang artinya:  Laki-laki dan perempuan yang banyak berdzikir ( menyebut nama Allah), Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar” (QS. 33 :35). Diantara dzikir yang menjadi kebiasaan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah dzikir pagi dan sore. Karena pentingnya dzikir ini, Allah perintahkan agar orang-orang beriman merutinkannya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman yang artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, perbanyaklah berdzikir kepada Allah. Dan bertasbihlah untuknya di waktu pagi dan sore.” (QS. 33:41-42).
Imam Nawawi rahimahullah berkata : “Barang siapa yang diberi taufiq untuk bisa mengerjakan dzikir-dzikir pagi dan sore, maka itu adalah nikmat dan karunia dari Allah Ta’ala, berbahagialah dia. Dan barang siapa yang tidak mampu dari melakukan semuanya, hendaklah dia mencukupkan dengan yang ringkas-ringkas atas apa yang dia kehendaki walau hanya satu dzikir saja.” (Al-Adzkar : 76).

Lanjut membaca

Jangan Bangga

Saudaraku, Saat kita bisa melakukan kebaikan, pada hakekatnya bukan disebabkan karena kita yang hebat, tetapi karena Allah-lah yang telah berkenan memberikan kemudahan dan taufiq-Nya kepada kita. Karenanya, janganlah berbangga diri dengan kebaikan yang telah kita lakukan apalagi sombong,  ber-mohonlah agar Allah senantiasa memberikan kemudahan dan taufiq-Nya. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam  bersabda: Apabila Allah menghendaki kebaikan pada hambanya, maka Allah mempekerjakannya. Para sahabat bertanya: ”Bagaimana Allah akan mempekerjakannya?” Rasulullah menjawab: Allah akan memberinya taufiq untuk beramal shalih sebelum dia meninggal. (HR Imam Ahmad, Tirmidzi dan al Hakim) Lanjut membaca

Puasa Asyuro

Ibnu Qoyyim dalam kitab Zaadul Ma’aad, berdasarkan riwayat-riwayat yang ada, menjelaskan terkait dengan puasa sunnah Asyuro: Urutan pertama, dan ini yang paling sempurna adalah puasa tiga hari, yaitu puasa tanggal sepuluh ditambah sehari sebelum dan sesudahnya (9,10,11). Urutan kedua, puasa tanggal 9 dan 10. Inilah yang disebutkan dalam banyak hadits. Urutan ketiga, puasa tanggal 10 saja. Puasa sebanyak tiga hari (9,10 dan 11) dikuatkan para para ulama dengan dua alasan: Sebagai kehati-hatian, yaitu kemungkinan penetapan awal bulannya tidak tepat, maka puasa tanggal sebelasnya akan dapat memastikan bahwa seseorang mendapatkan puasa Tasu’a (tanggal 9) dan Asyuro (tanggal 10). Dan ini bisa dimasukkan dalam puasa tiga hari pertengahan bulan (Ayyamul bidh).
Lanjut membaca

Waspadalah Terhadap Pujian

Saudaraku, Jauhkanlah diri dari mencampurkan ketaatan kepada ALLAH dengan rasa senang terhadap pujian orang lain, karena hal itu akan berpotensi  menghilangkan pahala amal. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

قَالَ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرْكِ مَنْ عَمِلَ عَمَلاً أَشْرَكَ فِيهِ مَعِى غَيْرِى تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ

“Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman : ’Aku tidaklah butuh adanya tandingan-tandingan. Barangsiapa yang mengerjakan suatu amal dalam keadaan menyekutukan Aku dengan selain Aku, maka Aku akan meninggalkan dia dan sekutunya itu.’” (HR. Muslim) Lanjut membaca

Manakah Bekal Kita

Saudaraku, sungguh hidup di dunia ini tidak lama..Rasulullah shallallahu alaihi wasallam- menggambarkan bahwa umur umatnya berkisar antara 60 tahun hingga 70 tahun. Dan sedikit orang yang bisa melampui umur tersebut. Dan ternyata dalam waktu yang sebentar itu, kita memerlukan bekal yang banyak. Bahkan kadang kita harus BANTING TULANG demi mencari bekal untuk kehidupan ini yang hanya sebentar tersebut.

Saudaraku, jika untuk waktu kurang lebih 70 tahun saja kita harus BANTING TULANG untuk mencari bekalnya, lalu sudahkah kita juga telah banting tulang untuk menghimpun bekal kehidupan di alam barzakh yang bisa jadi sampai RIBUAN TAHUN lamanya dan untuk kehidupan di akhirat yang abadi, yang satu harinya sama dengan seribu tahun kehidupan dunia? sebagaimana yang Allah Ta’ala sebutkan: “Sesungguhnya sehari disisi Tuhanmu adalah seperti seribu tahun menurut perhitunganmu.”  (QS. 22:47). Lanjut membaca

Jalan Mencari Ilmu

Dalam mencari ilmu, seseorang harus mengikhlaskan niat semata-mata karena Allah. “Janganlah mempelajari ilmu untuk berbangga-bangga dihadapan para ulama, atau untuk berdebat dengan orang-orang bodoh, atau untuk memilih majelis yang terbaik (demi mendapat pujian orang). Siapa melakukan hal itu maka nerakalah tempatnya (HR Ibnu Hibban).” “Siapa yang mempelajari satu ilmu yang sepatutnya dilakukan karena mencari ridha Allah, namun dia tidak mempelajarinya kecuali untuk mendapatkan keuntungan duniawi, maka dia tidak akan mencium bau syurga pada Hari Kiamat (HR Ibnu Hibban).” Lanjut membaca

Adab Berpakaian

Adab berpakaian dalam Islam. Menutup aurat. Untuk wanita, menutup seluruh bagian tubuhnya kecuali wajah dan kedua telapak tangannya. Sedangkan untuk laki-laki, paling tidak menutup bagian antara pusat dan lutut. Menjaga kebersihan pakaian, karena kebersihan adalah sebagian dari iman. Berpakaian bagus tanpa diiringi rasa sombong. Seorang sahabat pernah berkata kepada Nabi saw,”Sesungguhnya Fulan suka berpakaian bagus dan bersandal bagus.” Maka Nabi saw bersabda,”Sesungguhnya Allah itu indah, dan Dia menyukai keindahan. Adapun sombong itu adalah menolak kebenaran dan menganggap rendah orang lain.” (HR Muslim). Lanjut membaca

Ketika Menguap

Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda, ”Bersin itu dari Allah dan menguap itu dari syaitan. Jika salah seorang kalian menguap, maka tutuplah mulutnya dengan tangannya dan jika ia mengatakan `aaah…’, maka syaitan tertawa di dalam perutnya. Sesungguhnya Allah menyukai bersin dan membenci menguap.” (HR. At-Tirmidzi dan ia menshahihkanya, al-Hakim dan ia menshahihkannya serta disetujui oleh adz-Dzahabi, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Sunni dalam ‘Amalul Yaum wal Lailah dari Abu Hurairah. Hadits ini terdapat dalam kitab Shahiihul Jaami’) Lanjut membaca