Pentingnya Sehat Wal Afiat

Kita semua sering mendengarkan doa agar kita diberikan sehat wal ‘afiat. Al ‘aafiyah itu tidak sekedar sehat jasmani dan rohani,  tetapi juga terhindar dari stres dan hal hal yang menyusahkan hati dan fikiran kita. Bahkan juga terhindar dari semua penyakit yang tidak bisa di obati oleh para dokter di antaranya penyakit wabah yang belum di temukan vaksinnya. Dengan demikian setiap orang yang mendapatkan ‘al ‘aafiyah pasti dia sehat secara fisik, tapi tidak setiap orang yang sehat fisik belum tentu mendapatkan al’ aafiyah. Meskipun dalam bahasa pada umumnya di sebut semoga selalu Sehat wal ‘aafiyat. Lanjut membaca

Tahun Baru Hijriyah

Kita telah memasuki bulan Muharram tahun 1442 Hijriah. Seakan tidak terasa, waktu berjalan dengan cepat, hari berganti hari, pekan, bulan, dan tahun berlalu silih berganti seiring dengan bergantinya siang dan malam. Bagi kita, barangkali tahun baru ini tidak seberapa berkesan karena negara kita tidak menggunakan kalender Hijriah. Akan tetapi sebagai seorang muslim kita perlu untuk sejenak menghayati beberapa hal yang terkait dengan penanggalan Islam ini. Beberapa hal yang seyogyanya kita jadikan renungan: Lanjut membaca

Hakekat Rezeki

Rezki adalah sesuatu yang telah di karuniakan oleh Allah SWT berupa Harta benda dan kekayaan, anak, istri, rumah, kesehatan dan yang Lainnya. Imam At Thobari mendefinisikan rezki sebagai berikut: “Sesuatu yang di makan oleh semua yang hidup (di muka bumi ini) yang menjadi sebab dia hidup dan yang menyehatkan dan menumbuhkan jasadnya”. Rezki setiap orang itu sudah ditentukan oleh Allah SWT sejak ia berada di rahim ibunya ketika genap berusia Empat bulan atau 120 Hari di dalam Hadits Nabi saw yang artinya: “Kemudian dikirim kepadanya malaikat, kemudian malaikat itu diperintahkan untuk meniupkan ruh padanya, dan di perintahkan untuk menentukan rezekinya, ajalnya, amalnya dan apakah dia termasuk orang yang celaka atau bahagia. (HR. Bukhari & Muslim} Lanjut membaca

Dua Dimensi Pekurban

Membahas ibadah kurban tidak cukup dibahas dari aspek pekurban ditinjau dari dimensinya dengan Allah swt, tapi juga harus dibahas dari aspek pekurban dan dimensi sosialnya.Kurban adalah ibadah harta, karena faktor terbesar yang dilibatkan dalam ibadah ini adalah harta.  Ibadah harta selalu membawa dua dimensi yaitu dimensi pelaku dengan Allah dan dimensi pelaku dengan masyarakat/dimensi sosial. Keduanya memiliki tolak ukur yang berbeda.

Dimensi pekurban dengan Allah diukur dengan ketulusan dan keikhlasan hatinya dalam melaksanakan ibadah berkurban dan kesesuaiannya dengan tuntunan syariat.Rasulullah bersabda : “Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya. Setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya. Siapa yang hijrahnya karena mencari dunia atau karena wanita yang dinikahinya, maka hijrahnya kepada yang ia tuju.” (HR. Bukhari dan Muslim) Lanjut membaca

Pengorbanan

Di setiap bulan Dzulhijjah umat Islam biasanya melaksanakan ibadah haji.  Sejalan dengan pelaksanaan Ibadah Haji, umat Islam juga merayakan hari raya Idul Adha dan melaksanakan Ibadah Qurban. Qurban sebagaimana dikisahkan dalam Al-Qur’an bermula ketika Nabi Ibrahim As diminta Allah SWT untuk menyembelih anaknya sendiri Nabi Ismail As, yang mana kemudian atas kekuasaanNya Ismail diganti dengan seekor sembelihan yang besar (kibas). Disebutkan dalam Al Qur’an, Allah memberi perintah melalui mimpi kepada Nabi Ibrahim untuk mempersembahkan Ismail. Hal sebagaimana diabadikan dalam Al Quran Surat Ash Shaaffat ayat 102-107. Lanjut membaca

Memohon Rasa Syukur

Rasulullah shalallahu alaihi wasallam membimbing kita agar kita usai shalat memohon kepada Allah agar membantu kita memiliki rasa syukur ini. Dalam sebuah hadits riwayat Ahmad, Rasulullah saw pada suatu hari meraih tangan Mu’adz bin Jabal kemudian bersabda, “Hai Mu’adz, aku mencintaimu.” Mu’adz bin Jabal berkata kepada beliau, “Engkau lebih aku muliakan melebihi ayah dan ibuku, wahai Rasulullah! Saya juga mencintai Tuan.” Lalu Rasulullah saw bersabda, “Aku berwasiat kepadamu, wahai Mu’adz! Jangan kau tinggalkan setiap usai shalat untuk berdoa. Lanjut membaca

Mujahadah Bakda Ramadhan

Kita telah berada di bulan Syawwal dan bulan Ramadhan telah meninggalkan kita. Ada baiknya kita terus evaluasi beberapa hal terkait ibadah kita. Ibadah di bulan Ramadhan belum efektif tanpa adanya taubat sejati. Maka pastikan berapa bentuk dosa yang sudah ditaubatkan secara sungguh-sungguh telah ditinggalkan. Amal ibadah Ramadhan dioptimalkan bukan karena Ramadhan berakhir, lalu amal ibadah juga akan ditinggalkan. Amal ibadah itu dioptimalkan dengan niat ikhlas, agar semakin besar hasilnya untuk istiqamah setelah Ramadhan. Lanjut membaca

Raih Sukses Ramadhan

Kita semua berusaha agar Ramadhan bisa dioptimalkan sebagai bulan ibadah, bulan ketaatan, bulan kesabaran, dan bulan pengampunan dosa. Di bulan ini kita semua seolah sedang dimasukkan oleh Allah SWT dalam sebuah arena pendidikan atau pelatihan, agar nantinya ketika keluar Ramadhan, orang-orang beriman semakin meningkat kwalitasnya. Agar orang-orang beriman bisa mengambil manfaat yang besar dari hadirnya bulan Ramadhan, maka mereka memanfaatkan bulan ini sebagai bulan untuk Muhasabah (bercermin diri). Bulan Ramadhan juga bisa dimanfaatkan untuk tarbiyah (pembinaan) diri. Lanjut membaca

Mendidik Diri Di Bulan Ramadhan

Ramadhan adalah bulan yang mulia, dimana orang yang beriman diwajibkan untuk berpuasa sebulan penuh. Dianjurkan juga di bulan ini untuk memperbanyak amal kebaikan seperti sholat sunnah atau qiyamullail, sedekah, membaca Al Quran dan ibadah-ibadah lainnya. Ramadhan adalah bulan puasa dimana seseorang harus menahan lapar dan haus seharian, serta menghindari perbuatan yang bisa menrusak pahala ibadah puasa. Barangsiapa yang bisa menjalankan puasanya dengan baik maka seseorang akan memperoleh derajat orang-orang yang bertaqwa. Lanjut membaca

Menjaga Rasa Syukur

Meskipun kita tengah dihadapkan dengan beberapa ujian dari Allah, kita harus tetap bersyukur atas banyaknya nikmat yang telah Allah berikan kepada kita. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam sendiri memerintahkan kepada umatnya agar banyak bersyukur. Karena Rasa syukur akan mengurangi tekanan kecemasan dalam jiwa. Hati kian jadi lapang. Segala karunia yang ada akan selalu membawa keberkahan. Lalu wajah menjadi lebih menarik, berseri dan memancarkan ketenangan dan kedamaian. Dan rasa syukur menjadikan hati kita tidak gampang terlukai oleh pernak-pernik kehidupan yang kebanyakan manusia gampang tersakiti karenanya. Lanjut membaca