Dua Dimensi Pekurban

Membahas ibadah kurban tidak cukup dibahas dari aspek pekurban ditinjau dari dimensinya dengan Allah swt, tapi juga harus dibahas dari aspek pekurban dan dimensi sosialnya.Kurban adalah ibadah harta, karena faktor terbesar yang dilibatkan dalam ibadah ini adalah harta.  Ibadah harta selalu membawa dua dimensi yaitu dimensi pelaku dengan Allah dan dimensi pelaku dengan masyarakat/dimensi sosial. Keduanya memiliki tolak ukur yang berbeda.

Dimensi pekurban dengan Allah diukur dengan ketulusan dan keikhlasan hatinya dalam melaksanakan ibadah berkurban dan kesesuaiannya dengan tuntunan syariat.Rasulullah bersabda : “Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya. Setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya. Siapa yang hijrahnya karena mencari dunia atau karena wanita yang dinikahinya, maka hijrahnya kepada yang ia tuju.” (HR. Bukhari dan Muslim) Lanjut membaca

Pengorbanan

Di setiap bulan Dzulhijjah umat Islam biasanya melaksanakan ibadah haji.  Sejalan dengan pelaksanaan Ibadah Haji, umat Islam juga merayakan hari raya Idul Adha dan melaksanakan Ibadah Qurban. Qurban sebagaimana dikisahkan dalam Al-Qur’an bermula ketika Nabi Ibrahim As diminta Allah SWT untuk menyembelih anaknya sendiri Nabi Ismail As, yang mana kemudian atas kekuasaanNya Ismail diganti dengan seekor sembelihan yang besar (kibas). Disebutkan dalam Al Qur’an, Allah memberi perintah melalui mimpi kepada Nabi Ibrahim untuk mempersembahkan Ismail. Hal sebagaimana diabadikan dalam Al Quran Surat Ash Shaaffat ayat 102-107. Lanjut membaca

Memohon Rasa Syukur

Rasulullah shalallahu alaihi wasallam membimbing kita agar kita usai shalat memohon kepada Allah agar membantu kita memiliki rasa syukur ini. Dalam sebuah hadits riwayat Ahmad, Rasulullah saw pada suatu hari meraih tangan Mu’adz bin Jabal kemudian bersabda, “Hai Mu’adz, aku mencintaimu.” Mu’adz bin Jabal berkata kepada beliau, “Engkau lebih aku muliakan melebihi ayah dan ibuku, wahai Rasulullah! Saya juga mencintai Tuan.” Lalu Rasulullah saw bersabda, “Aku berwasiat kepadamu, wahai Mu’adz! Jangan kau tinggalkan setiap usai shalat untuk berdoa. Lanjut membaca

Mujahadah Bakda Ramadhan

Kita telah berada di bulan Syawwal dan bulan Ramadhan telah meninggalkan kita. Ada baiknya kita terus evaluasi beberapa hal terkait ibadah kita. Ibadah di bulan Ramadhan belum efektif tanpa adanya taubat sejati. Maka pastikan berapa bentuk dosa yang sudah ditaubatkan secara sungguh-sungguh telah ditinggalkan. Amal ibadah Ramadhan dioptimalkan bukan karena Ramadhan berakhir, lalu amal ibadah juga akan ditinggalkan. Amal ibadah itu dioptimalkan dengan niat ikhlas, agar semakin besar hasilnya untuk istiqamah setelah Ramadhan. Lanjut membaca

Raih Sukses Ramadhan

Kita semua berusaha agar Ramadhan bisa dioptimalkan sebagai bulan ibadah, bulan ketaatan, bulan kesabaran, dan bulan pengampunan dosa. Di bulan ini kita semua seolah sedang dimasukkan oleh Allah SWT dalam sebuah arena pendidikan atau pelatihan, agar nantinya ketika keluar Ramadhan, orang-orang beriman semakin meningkat kwalitasnya. Agar orang-orang beriman bisa mengambil manfaat yang besar dari hadirnya bulan Ramadhan, maka mereka memanfaatkan bulan ini sebagai bulan untuk Muhasabah (bercermin diri). Bulan Ramadhan juga bisa dimanfaatkan untuk tarbiyah (pembinaan) diri. Lanjut membaca

Mendidik Diri Di Bulan Ramadhan

Ramadhan adalah bulan yang mulia, dimana orang yang beriman diwajibkan untuk berpuasa sebulan penuh. Dianjurkan juga di bulan ini untuk memperbanyak amal kebaikan seperti sholat sunnah atau qiyamullail, sedekah, membaca Al Quran dan ibadah-ibadah lainnya. Ramadhan adalah bulan puasa dimana seseorang harus menahan lapar dan haus seharian, serta menghindari perbuatan yang bisa menrusak pahala ibadah puasa. Barangsiapa yang bisa menjalankan puasanya dengan baik maka seseorang akan memperoleh derajat orang-orang yang bertaqwa. Lanjut membaca

Menjaga Rasa Syukur

Meskipun kita tengah dihadapkan dengan beberapa ujian dari Allah, kita harus tetap bersyukur atas banyaknya nikmat yang telah Allah berikan kepada kita. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam sendiri memerintahkan kepada umatnya agar banyak bersyukur. Karena Rasa syukur akan mengurangi tekanan kecemasan dalam jiwa. Hati kian jadi lapang. Segala karunia yang ada akan selalu membawa keberkahan. Lalu wajah menjadi lebih menarik, berseri dan memancarkan ketenangan dan kedamaian. Dan rasa syukur menjadikan hati kita tidak gampang terlukai oleh pernak-pernik kehidupan yang kebanyakan manusia gampang tersakiti karenanya. Lanjut membaca

Isra’ Mi’raj Dan Solusi Langit

Kaum muslimin memperingati peristiwa Isra’ Mi’raj setiap tanggal 27 Rajab. Dari peringatan isra’ mi’raj tersebut umat Islam bisa mengambil ibrah, hikmah, pelajaran, makna, pesan, misi dan semacamnya, bagi keimanan, keislaman, perjuangan dakwah, dan kehidupan kita secara umum. Isra’ Mi’raj terjadi pada saat beban tekanan perjuangan dakwah terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan juga para sahabat, telah benar-benar sampai dan mencapai puncaknya pada periode Mekkah. Khususnya dengan wafatnya dua orang pendukung dakwah Beliau yaitu Ummul Mukminin Khadijah radhiyallahu ‘anha dan pamanda Beliau Abu Thalib, yang kemudian dinamakan dengan ‘amul huzn. Lanjut membaca

Rajab Jembatan Menuju Ramadhan

Bulan Rajab adalah bulan ketujuh dalam hitungan bulan-bulan tahun Hijriyah . Pergantian bulan termasuk diantara tanda-tanda kekuasaan Allah. Setiap bulan berganti, seyogyanya ada hikmah dan pelajaran yang bisa kita renungi. Rasulullah saw sendiri mengajarkan kepada kita untuk berdoa pada setiap pergantian bulan dalam penanggalan qomariyah, terutama ketika melihat hilal (bulan baru) pada malam harinya. Doa tersebut adalah: “Ya Allah, Jadikanlah bulan ini kepada kami dalam kondisi aman dan hati kami penuh dengan keimanan, dan jadikanlah pula bulan ini kepada kami dengan kondisi selamat dan hati kami penuh dengan keislaman. Rabb-ku dan Rabb-mu Allah. Bulan petunjuk dan bulan kebaikan.” (HR At-Turmudzi) Lanjut membaca

Senang Bersedekah

Setiap manusia memiliki kecenderungan mencintai harta benda. Karena cinta inilah, mereka lalu berusaha mempertahankannya selama mungkin, bahkan kalau perlu, berusaha menambahnya terus-menerus. Namun, mencintai harta tidak selamanya dapat membuat orang bahagia. Tak jarang, harta justru membuatnya tidak tenang dan resah. Karena itulah, sedekah yang Nabi SAW anjurkan sebetulnya, selain untuk mendapatkan pahala di sisi Allah SWT, juga untuk membuat manusia itu tenang dan tenteram. Lanjut membaca