Menjaga Rasa Syukur

Meskipun kita tengah dihadapkan dengan beberapa ujian dari Allah, kita harus tetap bersyukur atas banyaknya nikmat yang telah Allah berikan kepada kita. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam sendiri memerintahkan kepada umatnya agar banyak bersyukur. Karena Rasa syukur akan mengurangi tekanan kecemasan dalam jiwa. Hati kian jadi lapang. Segala karunia yang ada akan selalu membawa keberkahan. Lalu wajah menjadi lebih menarik, berseri dan memancarkan ketenangan dan kedamaian. Dan rasa syukur menjadikan hati kita tidak gampang terlukai oleh pernak-pernik kehidupan yang kebanyakan manusia gampang tersakiti karenanya. Lanjut membaca

Isra’ Mi’raj Dan Solusi Langit

Kaum muslimin memperingati peristiwa Isra’ Mi’raj setiap tanggal 27 Rajab. Dari peringatan isra’ mi’raj tersebut umat Islam bisa mengambil ibrah, hikmah, pelajaran, makna, pesan, misi dan semacamnya, bagi keimanan, keislaman, perjuangan dakwah, dan kehidupan kita secara umum. Isra’ Mi’raj terjadi pada saat beban tekanan perjuangan dakwah terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan juga para sahabat, telah benar-benar sampai dan mencapai puncaknya pada periode Mekkah. Khususnya dengan wafatnya dua orang pendukung dakwah Beliau yaitu Ummul Mukminin Khadijah radhiyallahu ‘anha dan pamanda Beliau Abu Thalib, yang kemudian dinamakan dengan ‘amul huzn. Lanjut membaca

Rajab Jembatan Menuju Ramadhan

Bulan Rajab adalah bulan ketujuh dalam hitungan bulan-bulan tahun Hijriyah . Pergantian bulan termasuk diantara tanda-tanda kekuasaan Allah. Setiap bulan berganti, seyogyanya ada hikmah dan pelajaran yang bisa kita renungi. Rasulullah saw sendiri mengajarkan kepada kita untuk berdoa pada setiap pergantian bulan dalam penanggalan qomariyah, terutama ketika melihat hilal (bulan baru) pada malam harinya. Doa tersebut adalah: “Ya Allah, Jadikanlah bulan ini kepada kami dalam kondisi aman dan hati kami penuh dengan keimanan, dan jadikanlah pula bulan ini kepada kami dengan kondisi selamat dan hati kami penuh dengan keislaman. Rabb-ku dan Rabb-mu Allah. Bulan petunjuk dan bulan kebaikan.” (HR At-Turmudzi) Lanjut membaca

Senang Bersedekah

Setiap manusia memiliki kecenderungan mencintai harta benda. Karena cinta inilah, mereka lalu berusaha mempertahankannya selama mungkin, bahkan kalau perlu, berusaha menambahnya terus-menerus. Namun, mencintai harta tidak selamanya dapat membuat orang bahagia. Tak jarang, harta justru membuatnya tidak tenang dan resah. Karena itulah, sedekah yang Nabi SAW anjurkan sebetulnya, selain untuk mendapatkan pahala di sisi Allah SWT, juga untuk membuat manusia itu tenang dan tenteram. Lanjut membaca

Nikmatnya Mengingat Allah

Orang-orang yang selalu berdzikir mengingat Allah dan beramal shalih dengan ikhlas, mereka akan mendapatkan  ketenangan jiwa. Dan ketenangan jiwa itu sangat erat hubungannya dengan kebahagiaan hidup. Seorang salafushalih yang tinggal sendirian di tengah padang pasir pernah ditanya, “Apakah engkau tidak merasa terancam? Ia mengatakan, “Apakah ada orang yang merasa terancam dan khawatir bersama Allah?” jawabnya. Tak jauh maknanya dengan apa yang diungkapkan oleh Muslim bin Yasar, yang mengatakan, “Tak ada kenikmatan yang melebihi kenikmatan sendiri menghadap Allah dalam sepi (berkhalwat).” Lanjut membaca

Hari Teristimewa Sepanjang Usia

Lelaki itu tidak pernah tahu bahwa, hari saat ia menyingkirkan duri dari jalan orang, ternyata merupakan hari termulia dalam hidupnya. Karena berkat amal itulah Allah mengampunkannya! (Lihat: HR. Muttafaq ‘alaih dari Abu Hurairah ra). Begitu pula dengan si wanita pelacur dari Bani Israil itu. Diapun tidak pernah menduga bahwa, hari terbahagia hidupnya, ialah hari ketika ia memberi minum pada anjing yang sengsara gegara dahaga. Sehingga Allah-pun berterima kasih padanya atas tindakannya, dan mengampunkan dosanya karenanya! (Lihat: HR. Muttafaq ‘alaih dari Abu Hurairah ra). Lanjut membaca

Dibalik Ketaatan

Ahli Hikmah berkata:”Janganlah bergembira karena ketaatanmu muncul dari dirimu. Namun bergembiralah karena ketaatan itu muncul dari Allah Ta’ala sebagai anugerah kepadamu.”. Ketaatan atau kepatuhan kita kepada Allah merupakan salah satu intisari dari ubudiyah yang dicintai Allah, dan kegembiraan terhadap kepatuhan itu merupakan persoalan yang naluriah. Namun kenapa kita dilarang oleh Ibnu Athaillah untuk merasa bergembira atas ketaatan kita? Yang dilarang adalah manakala, bahwa kita bergembira karena kita merasa semuanya semata-mata dari diri kita sendiri yaitu merasa mampu, merasa bisa dan bahwa taat itu adalah prestasi dan usaha kita. Lanjut membaca

Yang Paling Baik

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda (yang artinya): “Orang paling baik diantara kalian adalah orang yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya” (HR. Al-Bukhari). “Orang-orang paling baik diantara kalian adalah mereka yang paling baik akhlaknya” (HR. Al-Bukhari). “Orang paling baik adalah orang yang paling manfaat untuk orang lain” (HR. Ahmad). “Orang paling baik diantara kalian (para suami) adalah (suami) yang paling baik untuk keluarganya (istrinya)” (HR. Ibnu Hibban). “Orang paling baik adalah orang yang panjang usianya sekaligus baik amalnya. Sedangkan orang paling buruk adalah yang panjang umurnya namun buruk amalnya” (HR. At-Tirmidzi). Lanjut membaca

Memilih Teman

Banyak manfaat yang akan didapatkan jika gemar berteman dengan orang yang baik. Sebaliknya banyak kerugian yang akan didapatkan jika berteman dengan orang yang buruk perangainya.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, Perumpamaan teman yang baik dan teman yang buruk adalah seperti penjual minyak wangi dan tukang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberikan hadiah minyak wangi kepadamu, atau engkau akan membeli minyak wangi darinya, atau setidak-tidaknya engkau akan mendapatkan bau semerbak wangi (dari minyak wangi yang ia jual). Adapun bersama tukang pandai besi, engkau bisa terbakar karena apinya, atau jika tidak engkau pasti akan mendapati bau angus. Lanjut membaca

Mengingat Kematian

Rasulullah sholallahu alaihi wasllam bersabda: “Perbanyaklah mengingat pemutus segala kesenangan (yakni) maut.” (HR. At-Tirmidzi dan Nasai). Rasulullah SAW yang teramat sayang kepada ummatnya memberikan bimbingan, bukan sekedar mengingat mati, tetapi memperbanyak ingat mati. Ini menunjukkan bukan sekedar penting atau berharga namun sangat penting atau teramat berharganya mengingat kematian itu. Mengapa demikian? Bukankah kematian merupakan saat yang paling menentukan sejauh mana kwalitas seorang manusia itu? Bukankah kematian adalah akhir kehidupan seseorang, tidak peduli model apa kehidupan yang dilakoni sebelumnya? Bukankah kematian merupakan satu-satunya masa depan yang pasti dirasakan oleh setian manusia, siapapun dia? Lanjut membaca