Kalau Tidak Malu

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam ingin mengajarkan bahwa malu merupakan salah satu prasyarat untuk ketakwaan. Ketika seseorang ingin melakukan suatu kesalahan atau maksiat dan perasaan malu, maka kemudian ada dalam hati mereka keinginan untuk melakukannya menjadi hilang. Karena Nabi SAW pernah mengatakan “Jika engkau tidak punya rasa malu, berbuatlah sesukamu” (HR. Bukhari), Begitu pula karena perasaan malu yang tinggi kepada Allah yang Maha Agung, maka keinginan untuk taat selalu lebih kuat daripada keinginan untuk bermaksiat kepada Allah. Malu yang dimaksud oleh Rasulullah disini bisa diartikan dua hal. Lanjut membaca

Menundukkan Pandangan

Mengumbar pandangan mata dan mengarahkan pandangan kita pada hal-hal yang diharamkan oleh Allah bisa mempengaruhi hati kita. Diantara pandangan-pandangan mata yang paling berbekas dan berbahaya adalah  memandang lawan jenis yang bukan hak kita. Memanjakan pandangan mata yang diumbar dan tidak dikendalikan akan merusak hati kita. Ia ibarat panah beracun yang dilesakkan Iblis ke arah hati kita. Imam Ahmad meriwayatkan sebuah hadits Nabi dari Anas bin Malik, bahwasanya Rasulullah saw bersabda,”Pandangan mata adalah panah beracun yang dilesakkan oleh Iblis. Barangsiapa memejamkan matanya (dari yang haram) karena Allah, maka Allah akan memberikan pada hatinya lezatnya iman, yang akan ia dapat sampai ia berjumpa dengan-Nya.” Lanjut membaca

Balasan Cinta Kepada Allah

Dari Suhaib ar-Rumi, ia berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda:“Ketika penghuni surga sudah masuk, Allah bertanya, ‘Apakah kalian menginginkan sesuatu? (Bila ingin) pasti akan kuberi lebih.’ Mereka menjawab: ‘Bukankah Engkau telah mencerahkan wajah kami? Bukankah Engkau telah memasukkan kami ke dalam surga dan menyelamatkan kami dari neraka?’ Setelah itu, hijab penutup wajah Allah disingkap. Maka tidak ada suatu anugerah apa pun yang lebih mereka cintai selain memandang wajah Allah Azza wa Jalla. Lalu Rasulullah membaca ayat: “Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada balasan yang terbaik (surga) dan tambahannya” (QS. Yunus: 26). Lanjut membaca

Luasnya Ampunan Allah

Dari Anas bin Malik, berkata: “Aku telah mendengar Rasulullah SAW bersabda: Allah Ta’ala berfirman: “Wahai Anak Adam (manusia, sesungguhnya apa yang kamu minta dan harapkan kepada-Ku, niscaya Aku akan mengampuni dosa-dosamu dan Aku tidak peduli. Wahai Anak Adam, andaikata dosa-dosamu mencapai awan di langit (sejauh mata memandang ke langit), kemudian kamu meminta ampun kepada-Ku, niscaya Aku akan mengampunimu. Wahai Anak Adam, sesungguhnya andaikata kamu datang kepada-Ku dengan membawa dosa-dosa (kecil) sepenuh isi bumi, kemudian kamu bertemu dengan-Ku (mati dengan memohon ampun dan tanpa berbuat syirik), tidak menyekutukan-Ku dengan sesuatu apapun, niscaya Aku akan mendatangkan ampunan kepadamu sepenuh isinya pula.” (HR At-Turmudzi) Lanjut membaca

Karena Rahmat Allah

Dari Aisyiyah ra, Rasulullah shalallahu alaihi wassalam bersabda, “Tingkatkanlah amalmu dengan baik, atau lebih dekatlah kepada kebaikan, dan bergembiralah, karena amal seseorang tiada dapat memasukkannya ke surga.” Tanya para sahabat, “Amal Anda juga begitu, ya Rasulullah?’ Jawab Rasulullah, “Amalku juga begitu. Tetapi Allah melimpahiku dengan rahmat-Nya. Dan ketahuilah, bahwa amal yang paling disukai Allah ialah amal yang dikerjakan secara terus-menerus walaupun sedikit.” (HR. Bukhari, Muslim dan Nasa’i). Dalam hadits ini terdapat beberapa perintah atau nasihat yang bisa dipetik dalam rangka meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah swt: Lanjut membaca

Waktu Fajar

Rasulullah shalallahu alaihi wassalam bersabda: “Shalat yang paling berat pelaksanaannya bagi orang-orang munafik ialah shalat isya’ dan shalat Shubuh. Andai mereka tahu kebaikan pada keduanya, tentu mereka mengerjakannya kendati dengan merangkak”. (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Waktu Fajar adalah simbol terpacarnya semua kebaikan. Lambang kehidupan. Bukti gerak dan dinamisme. Deklarasi kemenangan. Fajar terjadi pada waktu sangat hening. Fajar moment pembagian rizki, Shalat Shubuh  bukti nyata kekuatan iman dan kesucian dari kemunafikan, sebab waktu itu saat yang cukup berat bagi jiwa manusia. Lanjut membaca

Kebahagiaan Sejati

Rasulullah shalallahu alaihi wassalam bersabda: “Saat paling dekat antara hamba dengan Rabbnya adalah ketika sujud, maka perbanyaklah doa.” (HR: Muslim, Ahmad, Nasai, Baihaqi dan Abu Dawud) . Shalat adalah kesenangan para shalihin di dunia ini, karena ia menjadi wahana untuk bermunajat kepada Dzat yang tidak akan ditemukan ditemukan kebahagiaan kecuali dengan-Nya. Di dalamnya ada kenikmatan dengan mengingat-Nya, kegembiraan dalam bermunajat kepada-Nya, berdiri di hadapan-Nya, kelezatannya mendekatkan diri di hadapan-Nya dan tunduk di hadapan-Nya. Teristimewa dikala sujud yang menjadi saat yang paling dekat, mesra antara hamba dan Rabbnya. Lanjut membaca

Jangan Marah

Seseorang datang meminta nasehat kepada Rasulullah sholalallahu alaihi wasallam dan berkata, “Berikanlah nasehat kepadaku.” Rasulullah SAW menjawab : “Janganlah engkau marah.” Orang itu pun mengulang-ulang pertanyaan yang sama dan Nabi SAW (tetap) menjawabnya, “Janganlah engkau marah.” (HR. Bukhori). Hadits ini adalah salah satu nasehat penting yang melarang sikap marah dan menganjurkan sikap kesabaran dan pengendalian diri. Karenanya Rasulullah SAW bersabda, “Orang yang kuat itu bukanlah orang yang pandai bergulat, tetapi orang yang mampu mengendalikan dirinya ketika ia sedang marah.” Lanjut membaca

Kehebatan Waktu Fajar

Rasulullah shalalllahu alaihi wasallam bersabda: “Shalat yang paling berat pelaksanaannya bagi orang-orang munafik ialah shalat isya’ dan shalat Shubuh. Andai mereka tahu kebaikan pada keduanya, tentu mereka mengerjakannya kendati dengan merangkak”. ( HR. Al-Bukhari dan Muslim). Fajar biasanya disimbolkan terpacarnya semua kebaikan. Lambang kehidupan. Bukti gerak dan dinamisme. Ungkapan kemenangan. Fajar terjadi pada waktu sangat hening. Fajar moment pembagian rizki, Shalat Shubuh bukti nyata kekuatan iman dan kesucian dari kemunafikan, sebab waktu itu saat yang cukup berat bagi jiwa manusia. Lanjut membaca

Keragu-raguan

Dari Abu Muhammad Al-Hasan bin Ali bin Abi Thalib ra, cucu dan kesayangan Rasulullah shalallahu alaihi wassalalm, ia berkata,” Aku menghafal pesan Rasulullah saw yang berbunyi ‘Tinggalkan perkara yang meragukanmu dan ambillah perkara yang tidak meragukanmu” (HR Nasai dan Tirmidzi. Imam Tirmidzi berkata,”Hadits hasan shahih.”). Hadits ini termasuk dalam apa yang disebut para ulama sebagai ‘jawami’ul kalim’ yaitu hadits-hadits yang lafadz-nya pendek namum memiliki arti dam makna yang sangat dalam dan luas sehingga menjadi landasan nilai dan moral dalam menyikapi berbagai persoalan. Lanjut membaca