Karena Rahmat Allah

Dari Aisyiyah ra, Rasulullah shalallahu alaihi wassalam bersabda, “Tingkatkanlah amalmu dengan baik, atau lebih dekatlah kepada kebaikan, dan bergembiralah, karena amal seseorang tiada dapat memasukkannya ke surga.” Tanya para sahabat, “Amal Anda juga begitu, ya Rasulullah?’ Jawab Rasulullah, “Amalku juga begitu. Tetapi Allah melimpahiku dengan rahmat-Nya. Dan ketahuilah, bahwa amal yang paling disukai Allah ialah amal yang dikerjakan secara terus-menerus walaupun sedikit.” (HR. Bukhari, Muslim dan Nasa’i). Dalam hadits ini terdapat beberapa perintah atau nasihat yang bisa dipetik dalam rangka meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah swt: Lanjut membaca

Waktu Fajar

Rasulullah shalallahu alaihi wassalam bersabda: “Shalat yang paling berat pelaksanaannya bagi orang-orang munafik ialah shalat isya’ dan shalat Shubuh. Andai mereka tahu kebaikan pada keduanya, tentu mereka mengerjakannya kendati dengan merangkak”. (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Waktu Fajar adalah simbol terpacarnya semua kebaikan. Lambang kehidupan. Bukti gerak dan dinamisme. Deklarasi kemenangan. Fajar terjadi pada waktu sangat hening. Fajar moment pembagian rizki, Shalat Shubuh  bukti nyata kekuatan iman dan kesucian dari kemunafikan, sebab waktu itu saat yang cukup berat bagi jiwa manusia. Lanjut membaca

Kebahagiaan Sejati

Rasulullah shalallahu alaihi wassalam bersabda: “Saat paling dekat antara hamba dengan Rabbnya adalah ketika sujud, maka perbanyaklah doa.” (HR: Muslim, Ahmad, Nasai, Baihaqi dan Abu Dawud) . Shalat adalah kesenangan para shalihin di dunia ini, karena ia menjadi wahana untuk bermunajat kepada Dzat yang tidak akan ditemukan ditemukan kebahagiaan kecuali dengan-Nya. Di dalamnya ada kenikmatan dengan mengingat-Nya, kegembiraan dalam bermunajat kepada-Nya, berdiri di hadapan-Nya, kelezatannya mendekatkan diri di hadapan-Nya dan tunduk di hadapan-Nya. Teristimewa dikala sujud yang menjadi saat yang paling dekat, mesra antara hamba dan Rabbnya. Lanjut membaca

Jangan Marah

Seseorang datang meminta nasehat kepada Rasulullah sholalallahu alaihi wasallam dan berkata, “Berikanlah nasehat kepadaku.” Rasulullah SAW menjawab : “Janganlah engkau marah.” Orang itu pun mengulang-ulang pertanyaan yang sama dan Nabi SAW (tetap) menjawabnya, “Janganlah engkau marah.” (HR. Bukhori). Hadits ini adalah salah satu nasehat penting yang melarang sikap marah dan menganjurkan sikap kesabaran dan pengendalian diri. Karenanya Rasulullah SAW bersabda, “Orang yang kuat itu bukanlah orang yang pandai bergulat, tetapi orang yang mampu mengendalikan dirinya ketika ia sedang marah.” Lanjut membaca

Kehebatan Waktu Fajar

Rasulullah shalalllahu alaihi wasallam bersabda: “Shalat yang paling berat pelaksanaannya bagi orang-orang munafik ialah shalat isya’ dan shalat Shubuh. Andai mereka tahu kebaikan pada keduanya, tentu mereka mengerjakannya kendati dengan merangkak”. ( HR. Al-Bukhari dan Muslim). Fajar biasanya disimbolkan terpacarnya semua kebaikan. Lambang kehidupan. Bukti gerak dan dinamisme. Ungkapan kemenangan. Fajar terjadi pada waktu sangat hening. Fajar moment pembagian rizki, Shalat Shubuh bukti nyata kekuatan iman dan kesucian dari kemunafikan, sebab waktu itu saat yang cukup berat bagi jiwa manusia. Lanjut membaca

Keragu-raguan

Dari Abu Muhammad Al-Hasan bin Ali bin Abi Thalib ra, cucu dan kesayangan Rasulullah shalallahu alaihi wassalalm, ia berkata,” Aku menghafal pesan Rasulullah saw yang berbunyi ‘Tinggalkan perkara yang meragukanmu dan ambillah perkara yang tidak meragukanmu” (HR Nasai dan Tirmidzi. Imam Tirmidzi berkata,”Hadits hasan shahih.”). Hadits ini termasuk dalam apa yang disebut para ulama sebagai ‘jawami’ul kalim’ yaitu hadits-hadits yang lafadz-nya pendek namum memiliki arti dam makna yang sangat dalam dan luas sehingga menjadi landasan nilai dan moral dalam menyikapi berbagai persoalan. Lanjut membaca

Mencintai Nabi

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ”Tidaklah beriman seseorang sehingga ia mencintaiku lebih dari keluarganya, hartanya dan siapapun juga.” Dalam riwayat lain: “lebih dari anaknya, orangtuanya dan siapapun juga”. (HR. Muslim). Hadits ini mengingatkan kita akan pentingnya meluruskan keimanan agar kita memiliki daya tahan yang memadai dalam menghadapi gelombang besar arus kehidupan. Hadits ini juga menekankan kembali akan keharusan kita menjadikan figur fenomenal dan abadi sepanjang masa yaitu Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam sebagai sosok yang paling kita utamakan dan kita muliakan. Bagaimanapun juga, kehadiran beliaulah yang telah menyadarkan manusia, membuka mata sejarah, dan menyinari dunia yang gelap dengan Nur Ilahi nan abadi. Lanjut membaca

Tawakal Kepada Allah

Kehidupan seringkali memaksa kita harus menempuh suasana lingkungan yang berbeda-beda. Berinteraksi dengan berbagai tipe manusia. Menghdapi dan menelusuri beraneka macam masalah dengan segala kemungkinan-kemngkinan di balik semuanya. Merasakan pahit getirnya segala keadaan dan situasi. Mengarungi samudra kehidupan yang penuh dengan tantangan seperti itu, hati kita harus terus tertambat kepada Allah SWT. Iman dan tawakkal kita kepada Allah SWT harus tetap kokoh. Iman kita harus menjadi sandaran dan pemandu kita dalam memutuskan segala persoalan. Iman kita harus menjadi penolong di saat-saat kita membutuhkan pertolongan. Lanjut membaca

Muttafaqun ‘Alaihi

Kata-kata “muttafaqun ‘alaih” secara bahasa bermakna: “yang disepakati”. Sedangkan dalam bidang hadits, yang dimaksudkan dengan hadits “muttafaqun ‘alaih”, adalah sebuah hadits yang sepakat diriwayatkan oleh dua imam pakar hadits paling terkemuka, yakni Imam Abu Abdillah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim Al-Bukhari dalam kitab Shahih-nya dan Imam Abul-Husain Muslim bin Al-Hjjaj bin Muslim An-Naisaburi juga dalam kitab Shahih-nya. Jadi bukan hadits yang disepakati oleh seluruh imam perawi hadits. Meskipun, seperti kata Imam Ibnush-Shalah, hadits-hadits yang disepakati periwayatannya oleh kedua imam agung tersebut, akhirnya juga disepakati keshahihannya oleh seluruh ummat Islam sepanjang sejarah. Lanjut membaca

Pentingnya Nasehat

Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha Mengetahui akan kelemahan dan kelebihan yang ada pada diri hamba-Nya. Oleh karenanya Allah menurunkan Islam sebagai nasehat bagi siapapun yang menginginkan kebahagiaan yang hakiki. Siapapun yang meyakini, memahami, menjalankan dan berkomitmen pada nilai, ajaran dan nasehat Islam, ia pasti akan menggapai kebahagiaan itu. Dari Abu Ruqayyah Tamim bin Aus Ad-Dari radhiyallhu ‘anhu, bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,”Agama adalah nasehat.” Kami (para sahabat) bertanya,”Bagi siapa, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab,”Bagi Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya, para pemimpin kaum muslimin serta segenap umat Islam.” (HR. Muslim). Lanjut membaca