Doa Buruk

Dari Jabir bin Abdillah ra, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda (yang artinya): “Janganlah kalian berdoa buruk untuk diri kalian. Janganlah kalian berdoa buruk untuk anak-anak kalian. Dan janganlah kalian berdoa buruk untuk harta kalian. Jangan sampai (saat berdoa buruk itu) kalian justru menepati suatu saat (mustajab) dimana begitu Allah diminta padanya dengan satu permintaan, Dia langsung mengabulkannya untuk kalian” (HR. Muslim). Dan menurut riwayat lain dalam Sunan Abu Dawud, ada tambahan: “Dan janganlah kalian berdoa buruk untuk pembantu-pembantu kalian”. Lanjut membaca

Puasa Di Bulan Syawal

Mengapa kita baru saja selesai puasa di bulan Ramadhan selama tigapuluh hari penuh di bulan Ramadhan, kemudian dianjurkan untuk berpuasa lagi selama enam hari di bulan Syawal.  Karena prinsip ibadah itu bersifat kontinyu sepanjang kehidupan. Sehingga sudah selayaknya  untuk menyempurnakan dan melengkapi ibadah wajib maka dibarengi dengan ibadah yang sunnah sunnah. Itu salah satu makna yang terkandung di dalam firman Allah SWT: “Ketika kamu telah selesai (hai Muhammad) berbuat yang wajib,  maka kuatkanlah olehmu dengan amal amal yang sunnah,  dan hanya kepada Tuhanku maka bersenanglah untuk menggapai pahala dan ridhoNya (QS. Al insyirah: 7-8) Lanjut membaca

Jalan Ke Surga

Suatu saat ada seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “Apa pendapatmu bila saya melaksanakan shalat-shalat wajib, berpuasa Ramadlan, menghalalkan yang halal, dan mengharamkan yang haram, namun aku tidak menambahkan suatu amalan pun atas hal tersebut, apakah aku akan masuk surga?” Rasulullah menjawab: “Ya.” Dia berkata, “Demi Allah, aku tidak akan menambahkan atas amalan tersebut sedikit pun.” (HR. Muslim) Lanjut membaca

Rindu Puasa Ramadhan

Bulan Ramadhan yang mulia akan segera datang. Setiap orang beriman pasti sudah lama merindukan kedatangannya. Hal ini disebabkan keutamaan yang ada di bulan Ramadhan. Rasulullah shalallah alaihi wasallam bersabda; Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: “Seluruh perbuatan anak Adam menjadi haknya, kecuali puasa adalah hak-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya. Puasa adalah perisai. Karena itu apabila pada hari itu salah seorang diantara kamu berpuasa, maka janganlah dia beromong kotor dan jangan pula berbuat keributan. Kemudian jika dia dicaci oleh seseorang atau diganggu, maka katakanlah kepadanya: ’Sungguh aku sedang berpuasa.” (HR. Bukhari dan Muslim) Lanjut membaca

Kalau Tidak Malu

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam ingin mengajarkan bahwa malu merupakan salah satu prasyarat untuk ketakwaan. Ketika seseorang ingin melakukan suatu kesalahan atau maksiat dan perasaan malu, maka kemudian ada dalam hati mereka keinginan untuk melakukannya menjadi hilang. Karena Nabi SAW pernah mengatakan “Jika engkau tidak punya rasa malu, berbuatlah sesukamu” (HR. Bukhari), Begitu pula karena perasaan malu yang tinggi kepada Allah yang Maha Agung, maka keinginan untuk taat selalu lebih kuat daripada keinginan untuk bermaksiat kepada Allah. Malu yang dimaksud oleh Rasulullah disini bisa diartikan dua hal. Lanjut membaca

Menundukkan Pandangan

Mengumbar pandangan mata dan mengarahkan pandangan kita pada hal-hal yang diharamkan oleh Allah bisa mempengaruhi hati kita. Diantara pandangan-pandangan mata yang paling berbekas dan berbahaya adalah  memandang lawan jenis yang bukan hak kita. Memanjakan pandangan mata yang diumbar dan tidak dikendalikan akan merusak hati kita. Ia ibarat panah beracun yang dilesakkan Iblis ke arah hati kita. Imam Ahmad meriwayatkan sebuah hadits Nabi dari Anas bin Malik, bahwasanya Rasulullah saw bersabda,”Pandangan mata adalah panah beracun yang dilesakkan oleh Iblis. Barangsiapa memejamkan matanya (dari yang haram) karena Allah, maka Allah akan memberikan pada hatinya lezatnya iman, yang akan ia dapat sampai ia berjumpa dengan-Nya.” Lanjut membaca

Balasan Cinta Kepada Allah

Dari Suhaib ar-Rumi, ia berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda:“Ketika penghuni surga sudah masuk, Allah bertanya, ‘Apakah kalian menginginkan sesuatu? (Bila ingin) pasti akan kuberi lebih.’ Mereka menjawab: ‘Bukankah Engkau telah mencerahkan wajah kami? Bukankah Engkau telah memasukkan kami ke dalam surga dan menyelamatkan kami dari neraka?’ Setelah itu, hijab penutup wajah Allah disingkap. Maka tidak ada suatu anugerah apa pun yang lebih mereka cintai selain memandang wajah Allah Azza wa Jalla. Lalu Rasulullah membaca ayat: “Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada balasan yang terbaik (surga) dan tambahannya” (QS. Yunus: 26). Lanjut membaca

Luasnya Ampunan Allah

Dari Anas bin Malik, berkata: “Aku telah mendengar Rasulullah SAW bersabda: Allah Ta’ala berfirman: “Wahai Anak Adam (manusia, sesungguhnya apa yang kamu minta dan harapkan kepada-Ku, niscaya Aku akan mengampuni dosa-dosamu dan Aku tidak peduli. Wahai Anak Adam, andaikata dosa-dosamu mencapai awan di langit (sejauh mata memandang ke langit), kemudian kamu meminta ampun kepada-Ku, niscaya Aku akan mengampunimu. Wahai Anak Adam, sesungguhnya andaikata kamu datang kepada-Ku dengan membawa dosa-dosa (kecil) sepenuh isi bumi, kemudian kamu bertemu dengan-Ku (mati dengan memohon ampun dan tanpa berbuat syirik), tidak menyekutukan-Ku dengan sesuatu apapun, niscaya Aku akan mendatangkan ampunan kepadamu sepenuh isinya pula.” (HR At-Turmudzi) Lanjut membaca

Karena Rahmat Allah

Dari Aisyiyah ra, Rasulullah shalallahu alaihi wassalam bersabda, “Tingkatkanlah amalmu dengan baik, atau lebih dekatlah kepada kebaikan, dan bergembiralah, karena amal seseorang tiada dapat memasukkannya ke surga.” Tanya para sahabat, “Amal Anda juga begitu, ya Rasulullah?’ Jawab Rasulullah, “Amalku juga begitu. Tetapi Allah melimpahiku dengan rahmat-Nya. Dan ketahuilah, bahwa amal yang paling disukai Allah ialah amal yang dikerjakan secara terus-menerus walaupun sedikit.” (HR. Bukhari, Muslim dan Nasa’i). Dalam hadits ini terdapat beberapa perintah atau nasihat yang bisa dipetik dalam rangka meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah swt: Lanjut membaca

Waktu Fajar

Rasulullah shalallahu alaihi wassalam bersabda: “Shalat yang paling berat pelaksanaannya bagi orang-orang munafik ialah shalat isya’ dan shalat Shubuh. Andai mereka tahu kebaikan pada keduanya, tentu mereka mengerjakannya kendati dengan merangkak”. (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Waktu Fajar adalah simbol terpacarnya semua kebaikan. Lambang kehidupan. Bukti gerak dan dinamisme. Deklarasi kemenangan. Fajar terjadi pada waktu sangat hening. Fajar moment pembagian rizki, Shalat Shubuh  bukti nyata kekuatan iman dan kesucian dari kemunafikan, sebab waktu itu saat yang cukup berat bagi jiwa manusia. Lanjut membaca