Lelaki Penghuni Surga

Sahabat Anas bin Malik ra. bercerita, suatu saat kami sedang duduk-duduk bersama Rasulullah SAW kemudian Beliau bersabda: “akan berlalu seorang penghuni surga”. Saat itu juga muncul seorang sahabat Anshar. Keesokan hari Rasulullah SAW mengatakan hal yang sama, dan muncul juga orang yang sama. Dan di hari ketiga Rasulullah SAW juga mengatakan hal sama dan muncul juga orang yang sama.  Ketika Rasulullah SAW berlalu, sahabat Abdullah bin Umar ra. membututi orang itu dan berkata; “Bolehkan aku tinggal bersamamu selama tiga hari?” Sahabat Anshar tadi berkata: “SilahkanLanjut membaca

Yakin Kepada Allah

Seorang lelaki pernah bertanya kepada Sahabat Ibnu Abbas ra: Siapakah yang akan meng-hisab (mengadili) manusia pada hari Kiamat? Beliau menjawab: Allah. Lalu si lelakipun langsung berujar: Kalau begitu berarti kita selamat, demi Tuhan Pemilik Ka’bah! Kemudian di sebuah kesempatan dikatakan kepada seorang a’rabi (Arab badui): Kamu akan mati. Dia bertanya: lalu kemana (setelah mati)? Dijawab: ya kembali kepada Allah. Maka diapun berkata: Jika (selama ini) kita tidak mendapatkan kebaikan kecuali dari Allah Ta’ala. Lalu mengapa kita harus takut berjumpa dengan-Nya? Saat seorang pemuda sedang mendekati kematian, ibunya menangis. Maka diapun berkata: Ibu, seandainya proses hisabku (pengadilanku) ada di tangan Ibu, apakah gerangan yang hendak Ibu lakukan? Ibunya menjawab: Ya tentu saja aku akan mengasihimu. Maka si pemudapun langsung menimpali: Kalau begitu, tenanglah Ibu.. Karena Allah lebih mengasihiku daripada Ibu!

Lanjut membaca

Bersyukur

Nabi Musa alaihi salam memiliki ummat yang jumlahnya sangat banyak dan umur mereka panjang-panjang. Mereka ada yang kaya dan juga ada yang miskin. Suatu hari ada seorang yang miskin datang menghadap Nabi Musa alaihi salam. Ia begitu miskinnya, pakaiannya compang-camping dan sangat lusuh berdebu. Si miskin itu kemudian berkata kepada Nabi Musa, “Wahai Nabi Allah, tolong sampaikan kepada Allah SWT permohonanku ini, agar Allah SWT menjadikan aku orang yang kaya. Nabi Musa alaihi salam tersenyum dan berkata kepada orang itu, “Saudaraku, banyak-banyaklah kamu bersyukur kepada Allah SWT. Si miskin itu agak terkejut dan kesal, lalu ia berkata, “Bagaimana aku mau banyak bersyukur, aku makan pun jarang, dan pakaian yang aku gunakan pun hanya satu lembar ini saja”! Akhirnya si miskin itu pulang tanpa mendapatkan apa yang diinginkannya. Lanjut membaca

Zuhudnya Seorang Sahabat

Abdullah bin Umar atau biasa disebut Ibnu Umar adalah putra Khalifah Umar bin Khattab. Pada masa mudanya, Ibnu Umar mendapat pendidikan dari lingkungannya yang dipenuhi nuansa islami. Dia dididik oleh ayahnya yang disiplin dan taat kepada agama. Pada Perang Badar dan Uhud, Ibnu Umar belum ikut perang. Pada Perang Khandaq, Ibnu Umar ikut serta. Semenjak inilah Ibnu Umar ikut perang. Usia beliau waktu itu baru lima belas tahun. Ibnu Umar pada suatu malam yang sunyi bermimpi. Dalam mimpinya itu, dia duduk di masjid sedang mengerjakan shalat. Kemudian melihat ada yang turun mendekati dia untuk mengajak pergi ke suatu tempat yang indah pemandangannya. Lanjut membaca

Kesederhanaan Umar

Dalam sebuah riwayat dikisahkan tentang sikap Umar ibn al-Khathab r.a. yang pada saat itu menjadi pemimpin umat Islam dalam melaksanakan praktik-praktik kesederhanaan hidup. Umar memakai pakaian yang bertambal sehingga sulit membedakannya secara fisik mana seorang pemimpin dengan gaya hidup masyarakat umum yang dipimpinnya. Beliau pun pantang menikmati kelezatan makanan jika kebanyakan rakyatnya belum merasakannya. Pada suatu hari, Umar menerima bingkisan makanan melalui seorang utusan yang dikirim oleh pemimpin dari sebuah daerah yang masih masuk dalam daerah kekuasaanya. Lanjut membaca

Amal Yang Indah

Pemilik kisah (perempuan) bercerita: Sekitar tiga tahun lalu, aku mengunjungi seorang teman diantara teman-temanku yang paling spesial, tak lama sesudah pernikahannya, di tempat tinggalnya yang sangat sederhana: flat kecil di sebuah apartemen, yang tak jauh dari rumah keluarga suaminya. Lalu hubungan saling kunjungpun terputus antara aku dan dia. Digantikan dengan komunikasi via telepon yang berlanjut secara kontinyu. Dimana aku biasa bercerita kepadanya tentang kabarku. Begitu pula dengan dia. Sehingga aku tahu bahwa, kondisi ekonomi mereka sudah semakin membaik, dan bahwa suaminya telah memulai dengan beberapa usaha bisnis. Lanjut membaca

Sang Muadzin

Sesaat setelah Rasulullah saw mengembuskan napas terakhir, waktu shalat tiba. Bilal berdiri untuk mengumandangkan azan, sementara jasad Rasulullah saw masih terbungkus kain kafan dan belum dikebumikan. Saat Bilal sampai pada kalimat, “Asyhadu anna muhammadan rosuulullaah (Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah)”, tiba-tiba suaranya terhenti. Ia tidak sanggup mengangkat suaranya lagi. Kaum muslimin yang hadir di sana tak kuasa menahan tangis, maka meledaklah suara isak tangis yang membuat suasana semakin mengharu biru. Sejak kepergian Rasulullah saw, Bilal hanya sanggup mengumandangkan azan selama tiga hari. Setiap sampai kepada kalimat, “Asyhadu anna muhammadan rosuulullaah (Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah)”, ia langsung menangis tersedu-sedu. Begitu pula kaum muslimin yang mendengarnya, larut dalam tangisan pilu. Lanjut membaca

Buah Dari Kejujuran

Dikisahkan pada suatu waktu Mubarok -ayahanda Abdullah Ibnul Mubarok- bahwasanya ia pernah bekerja di sebuah kebun milik seorang majikan. Ia tinggal di sana beberapa lama. Kemudian suatu ketika majikannya -yaitu pemilik kebun tadi yang juga salah seorang saudagar- datang kepadanya lalu berkata, “Hai Mubarok, aku ingin satu buah delima yang manis.” Mubarok pun bergegas menuju salah satu pohon dan mengambilkan delima darinya. Majikan tadi lantas memecahnya, ternyata ia mendapati rasanya masih asam. Ia pun marah kepada Mubarok sambil mengatakan, “Aku minta yang manis malah kau beri yang masih asam! Cepat ambilkan yang manis!” Lanjut membaca

Lilin Umar Bin Abdul Aziz

Siapa yang tak kenal dengan Umar bin Abdul Aziz. Sosok pemimpin yang terkenal adil, arif, lagi berilmu. Banyak kisah-kisah teladan yang beliau tinggalkan untuk para peniti kebenaran. Salah satu kisahnya adalah sebagai berikut. Suatu hari datanglah seorang utusan dari salah satu daerah untuk menghadap kepada beliau. Utusan itu sampai di depan pintu Umar bin Abdul Aziz dalam keadaan malam menjelang. Setelah mengetuk pintu seorang penjaga menyambutnya. Utusan itu pun mengatakan,”Beritahu Amirul Mukminin bahwa yang datang adalah utusan gubernurnya.” Penjaga itu masuk untuk memberitahu Umar yang hampir saja berangkat tidur. Umar pun duduk dan berkata,”Ijinkan dia masuk.” Lanjut membaca

Pilihan Terbaik

Tidak seperti biasanya, hari itu Ali bin Abi Thalib pulang lebih sore menjelang asar. Fatimah putri Rasulullah menyambut kedatangan suaminya yang sehari suntuk mencari rezeki dengan sukacita. Siapa tahu Ali membawa uang lebih banyak karena kebutuhan di rumah makin besar. Sesudah melepas lelah, Ali berkata kepada Fatimah, “Maaf sayangku, kali ini aku tidak membawa uang sepeserpun.” Fatimah menyahut sambil tersenyum, “Memang yang mengatur rezeki tidak duduk di pasar, bukan? Yang memiliki kuasa itu adalah Allah Ta’ala.” “Terima kasih,” jawab Ali. Matanya memberat lantaran istrinya begitu tawakal. Padahal persediaan dapur sudah ludes sama sekali. Toh Fatimah tidak menunjukan sikap kecewa atau sedih. Lanjut membaca