Kesederhanaan Umar

Dalam sebuah riwayat dikisahkan tentang sikap Umar ibn al-Khathab r.a. yang pada saat itu menjadi pemimpin umat Islam dalam melaksanakan praktik-praktik kesederhanaan hidup. Umar memakai pakaian yang bertambal sehingga sulit membedakannya secara fisik mana seorang pemimpin dengan gaya hidup masyarakat umum yang dipimpinnya. Beliau pun pantang menikmati kelezatan makanan jika kebanyakan rakyatnya belum merasakannya. Pada suatu hari, Umar menerima bingkisan makanan melalui seorang utusan yang dikirim oleh pemimpin dari sebuah daerah yang masih masuk dalam daerah kekuasaanya. Lanjut membaca

Amal Yang Indah

Pemilik kisah (perempuan) bercerita: Sekitar tiga tahun lalu, aku mengunjungi seorang teman diantara teman-temanku yang paling spesial, tak lama sesudah pernikahannya, di tempat tinggalnya yang sangat sederhana: flat kecil di sebuah apartemen, yang tak jauh dari rumah keluarga suaminya. Lalu hubungan saling kunjungpun terputus antara aku dan dia. Digantikan dengan komunikasi via telepon yang berlanjut secara kontinyu. Dimana aku biasa bercerita kepadanya tentang kabarku. Begitu pula dengan dia. Sehingga aku tahu bahwa, kondisi ekonomi mereka sudah semakin membaik, dan bahwa suaminya telah memulai dengan beberapa usaha bisnis. Lanjut membaca

Sang Muadzin

Sesaat setelah Rasulullah saw mengembuskan napas terakhir, waktu shalat tiba. Bilal berdiri untuk mengumandangkan azan, sementara jasad Rasulullah saw masih terbungkus kain kafan dan belum dikebumikan. Saat Bilal sampai pada kalimat, “Asyhadu anna muhammadan rosuulullaah (Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah)”, tiba-tiba suaranya terhenti. Ia tidak sanggup mengangkat suaranya lagi. Kaum muslimin yang hadir di sana tak kuasa menahan tangis, maka meledaklah suara isak tangis yang membuat suasana semakin mengharu biru. Sejak kepergian Rasulullah saw, Bilal hanya sanggup mengumandangkan azan selama tiga hari. Setiap sampai kepada kalimat, “Asyhadu anna muhammadan rosuulullaah (Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah)”, ia langsung menangis tersedu-sedu. Begitu pula kaum muslimin yang mendengarnya, larut dalam tangisan pilu. Lanjut membaca

Buah Dari Kejujuran

Dikisahkan pada suatu waktu Mubarok -ayahanda Abdullah Ibnul Mubarok- bahwasanya ia pernah bekerja di sebuah kebun milik seorang majikan. Ia tinggal di sana beberapa lama. Kemudian suatu ketika majikannya -yaitu pemilik kebun tadi yang juga salah seorang saudagar- datang kepadanya lalu berkata, “Hai Mubarok, aku ingin satu buah delima yang manis.” Mubarok pun bergegas menuju salah satu pohon dan mengambilkan delima darinya. Majikan tadi lantas memecahnya, ternyata ia mendapati rasanya masih asam. Ia pun marah kepada Mubarok sambil mengatakan, “Aku minta yang manis malah kau beri yang masih asam! Cepat ambilkan yang manis!” Lanjut membaca

Lilin Umar Bin Abdul Aziz

Siapa yang tak kenal dengan Umar bin Abdul Aziz. Sosok pemimpin yang terkenal adil, arif, lagi berilmu. Banyak kisah-kisah teladan yang beliau tinggalkan untuk para peniti kebenaran. Salah satu kisahnya adalah sebagai berikut. Suatu hari datanglah seorang utusan dari salah satu daerah untuk menghadap kepada beliau. Utusan itu sampai di depan pintu Umar bin Abdul Aziz dalam keadaan malam menjelang. Setelah mengetuk pintu seorang penjaga menyambutnya. Utusan itu pun mengatakan,”Beritahu Amirul Mukminin bahwa yang datang adalah utusan gubernurnya.” Penjaga itu masuk untuk memberitahu Umar yang hampir saja berangkat tidur. Umar pun duduk dan berkata,”Ijinkan dia masuk.” Lanjut membaca

Pilihan Terbaik

Tidak seperti biasanya, hari itu Ali bin Abi Thalib pulang lebih sore menjelang asar. Fatimah putri Rasulullah menyambut kedatangan suaminya yang sehari suntuk mencari rezeki dengan sukacita. Siapa tahu Ali membawa uang lebih banyak karena kebutuhan di rumah makin besar. Sesudah melepas lelah, Ali berkata kepada Fatimah, “Maaf sayangku, kali ini aku tidak membawa uang sepeserpun.” Fatimah menyahut sambil tersenyum, “Memang yang mengatur rezeki tidak duduk di pasar, bukan? Yang memiliki kuasa itu adalah Allah Ta’ala.” “Terima kasih,” jawab Ali. Matanya memberat lantaran istrinya begitu tawakal. Padahal persediaan dapur sudah ludes sama sekali. Toh Fatimah tidak menunjukan sikap kecewa atau sedih. Lanjut membaca

Bersyukur

Suatu hari ada seorang yang miskin datang menghadap Nabi Musa alaihis salam. Ia begitu miskinnya, pakaiannya compang-camping dan sangat lusuh berdebu. Si miskin itu kemudian berkata kepada Nabi Musa alaihis salam, “Wahai Nabi Allah, tolong sampaikan kepada Allah subhanahu wta’ala permohonanku ini agar Allah subhanahu wata’ala menjadikan aku orang yang kaya. Nabi Musa AS tersenyum dan berkata kepada orang itu, “Saudaraku, banyak-banyaklah kamu bersyukur kepada Allah subhanahu wata’ala. Si miskin itu agak terkejut dan kesal, lalu ia berkata, “Bagaimana aku mau banyak bersyukur, aku makan pun jarang, dan pakaian yang aku gunakan pun hanya satu lembar ini saja”! Akhirnya si miskin itu pulang tanpa mendapatkan apa yang diinginkannya. Lanjut membaca

Pencari Kebenaran

Ketika dia mendengar kabar tentang kerasulan Nabi, dia mengutus saudara laki-lakinya menyelidiki lebih lanjut mengenai Nabi. Setelah puas menyelidiki, saudaranya pun melaporkan kepada Abu Dzar bahwa Nabi Muhammad itu seorang yang sopan, santun, dan baik budi pekertinya. Ayat-ayat yang ia bacakan kepada manusia bukanlah puisi dan bukan pula kata-kata ahli syair. Lanjut membaca

Seputar Hijrah

Pada suatu malam, empat belas abad tahun yang silam, sekelompok pemuda kafir Quraisy mengepung sebuah rumah di kota Makkah. Mereka ingin memastikan bahwa pemilik rumah itu tidak akan melihat terbitnya sang surya lagi esok pagi. Ya, mereka akan membunuhnya malam itu. Para pemuda itu satu persatu mulai menyelinap masuk ke dalam rumah. Perlahan mereka segera menuju ke sosok laki-laki berselimut yang sedang tidur di atas sebuah ranjang. Setelah menyibakkan selimut tersebut, para pemuda itu terkejut. Mereka sama sekali tidak menyangka bahwa orang yang mereka temukan itu adalah Ali putra Abi Thalib yang sudah rela mempertaruhkan nyawanya sebagai perisai sang pemilik rumah, yang tak lain adalah baginda Rasulullah shalallahu alaihi wasallam. Lanjut membaca

Abu Hurairah

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dilahirkan 19 tahun sebelum Hijrah. Nama kecil beliau sebelum memeluk agama Islam tidak diketahui dengan jelas, tetapi pendapat yang mashyur adalah Abd Syams. Nama Islamnya adalah Abdur Rahman. Beliau berasal dari kabilah Ad-Dusi di Yaman. Abu Hurairah memeluk Islam pada tahun 7 hijriyah ketika Rasulullah saw berangkat menuju ke Khaibar. Ketika itu ibunya masih belum menerima Islam bahkan menghina Nabi. Abu Hurairah lalu bertemu Rasulullah dan meminta beliau berdoa agar ibunya masuk Islam. Kemudian Abu Hurairah menemui ibunya kembali, mengajaknya masuk Islam. Ternyata ibunya telah berubah, bersedia mengucapkan dua kalimat syahadat. Lanjut membaca