Surat Al Ikhlas

Surat pendek ini menyamai sepertiga Al-Qur’an sebagaimana yang disebutkan dalam beberapa hadits shahih. Hal ini tidak aneh jika kita tilik dari kandungannya. Tema utama surat ini adalah tentang hal yang paling prinsipil dalam Islam, yakni tauhid. Al-Ikhlash sendiri, yang menjadi nama bagi surat yang mulia ini, berarti keikhlasan hati dalam memurnikan tauhid kepada Allah SWT. Sementara tema tauhid merupakan sepertiga kandungan Al-Qur’an, dimana kandungan Al-Qur’an itu secara umum mencakup tiga perkara : tauhid (aqidah), syariah (hukum-hukum), dan akhlaq. Lanjut membaca

Infaq Dan Iman

Infaq adalah bagian yang tidak terpisahkan dari iman. Artinya bahwa salah satu bukti benarnya iman seseorang itu adalah meng-ifaqkan sebagian hartanya. Untuk itulah ketika Allah menjelaskan tentang orang-orang yang benar imannya salah satu buktinya adalah berjuang dengan hartanya. Allah berfirman: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar”. (QS. Al Hujurat: 15) Lanjut membaca

Menuju Jiwa Yang Bersih

Beribadah kepada Allah secara ikhlas, dengan cara melaksanakan berbagai amalan wajib atau sunnah. Hal ini dilakukan dengan pengertian bahwa manfaatnya bukan untuk Allah, tetapi untuk dirinya sendiri. Banyak orang mengira tatkala ia melakukan satu perintah, semisal shalat atau infak, maka ia menganggap bahwa ibadah tersebut adalah untuk Allah. Maha Suci Allah, dari pengetian seperti itu. Dia adalah Dzat yang tidak memerlukan bantuan siapa pun, atau membutuhkan sesuatu. Dia Maha Kaya lagi Maha Terpuji, tidak butuh kepada makhluk, bahkan makhluklah yang membutuhkan-Nya. Lanjut membaca

Jangan Melaknati

Dan beberapa hadits Nabi yang melarang hal tersebut di antaranya: Hadits Abu Dawud Tsabit bin ad-Dhahak berbunyi : ”Melaknat seorang mukmin adalah seperti membunuhnya.” (Mutafaqun ‘alaihi)  Hadits dari Abu Hurairah berbunyi : “Tidak pantas bagi seorang shiddiq (orang yang mengikuti kebenaran) menjadi tukang laknat.” (HR Muslim). Dan Hadits dari Abu Darda’ berbunyi : “Tukang-tukang laknat tidak akan menjadi pemberi syafaat dan pemberi kesaksian pada hari kiamat.” (HR Muslim). Hadits Abdullah bin Mas’ud berbunyi : “Seorang mukmin bukanlah tukang cela dan tukang laknat dan bukanlah orang yang suka berkata keji lagi kotor.” (HR Tirmidzi). Lanjut membaca

Maulid Dan Cinta

Dari Abdullah bin Mas’ud radliyallahu anhu, beliau bercerita: Seorang lelaki datang kepada Rasulullah sholallahu alaihi wasallam dan bertanya: Ya Rasulallah, bagaimanakah menurut Baginda bila ada seseorang yang mencintai sekelompok orang (mulia), namun ia tidak bisa seperti mereka? Maka Rasulullah SAW pun bersabda: “Seseorang akan bersama siapa yang dicintainya”.  (HR. Al Bukhari dan Muslim). Lanjut membaca

Pemutus Kesenangan Dunia

Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda: “Perbanyaklah mengingat pemutus segala kesenangan (yakni) maut.”  (HR. At-Tirmidzi dan Nasai). Rasulullah saw. yang teramat sayang kepada ummatnya memberikan bimbingan, bukan sekedar mengingat mati, tetapi memperbanyak ingat mati. Ini menunjukkan bukan sekedar penting atau berharga namun sangat penting atau teramat berharganya mengingat  kematian itu.  Mengapa demikian? Bukankah kematian merupakan saat yang paling menentukan sejauh mana kwalitas manusia itu? Lanjut membaca

Menguatkan Persaudaraan

Ada beberapa cara agar rasa ukhuwah atau persaudaraan kita tetap kuat diantara sesama muslim. Diantaranya adalah: Memberitahukan kecintaan kepada yang kita cintai. Hadits yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik bahwa Rasulullah bersabda: “ Ada seseorang berada di samping Rasulullah lalu salah seorang sahabat berlalu di depannya. Orang yang disamping Rasulullah tadi berkata: ‘Aku mencintai dia, ya Rasullah.’ Lalu Nabi menjawab: ‘Apakah kamu telah memberitahukan kepadanya?’ Orang tersebut menjawab: ‘Belum.’ Kemudian Rasulullah bersabda: ‘Beritahukan kepadanya.’ Lalu orang tersebut memberitahukan kepadanya seraya berkata: ‘ Sesungguhnya aku mencintaimu karena Allah.’ Kemudian orang yang dicintai itu menjawab: ‘Semoga Allah mencintaimu karena engkau mencintaiku karena-Nya.” Lanjut membaca

Menikmati Qiyamullail

Hidup tentram dengan kebeningan hati yang  mampu mencerna seluruh peristiwa dan pengalaman hidup dengan penuh makna kebaikan dan keindahan di bawah kesejukan dari naungan Rahmat Allah adalah impian setiap hamba Allah. Karena itulah Allah yang amat sayang kepada hamba-Nya sudah menunjukkan jalan untuk mewujudkannya. Allah menjamin siapa yang meretas jalan ini pasti Allah curahkan RahmatNya sehingga hidupnya jadi penuh makna, kebaikan dan ketentraman jiwa. Lanjut membaca

Agar Doa Terkabul

Ketika seorang anak menghadap orangtuanya dengan penampilan kurang serius, suaranya keras. Pantaskah? Jika sorang karyawan dipanggil menghadap atasannya, dipenuhi panngilan itu dengan lamban dan tidak antusias, dengan penampilan agak tinggi hati bahkan kurang perhatian terhadap pembicaraan atasannya. Pantaskah? Bagaimana dengan seorang hamba ketika berdoa kepada Allah, semaunya? Tanpa etika? Pantas?  Bukankah Allah Pencipta alama semesta, Pengatur dan Pemberi segala kenikmatan dunia ini?  Maka sesuai dengan keagunganNya, suatu keharusan bila  hendak berdoa  kepada Allah dengan etika yang terbaik pula. Jangan-jangan sisi ini yang dilalaikan dalam berdoa sehingga doa-doa tidak dikabulkan. Lanjut membaca

Bersholawat Kepada Nabi

Setiap kali kita mengucapkan sholawat untuk Nabi saw, kita pasti ingat kepada beliau. Dengan mengingat beliau, pasti timbul rasa cinta yang bertambah kepada beliau. Ketika itulah, akan tumbuh pula dalam hati kita semangat untuk menghidupkan sunnah beliau dalam kehidupan. Itulah barangkali rahasia dibalik perintah Allah kepada kita, orang-orang yang beriman, agar kita bersholawat kepada Nabi. “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bersholawat kepada Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, sampaikanlah sholawat dan salam kepadanya.” Dalam ayat ini, Allah sendiri yang mencontohkan mengucap sholawat sebelum memerintahkan hal serupa kepada kita, hamba-hamba-Nya yang beriman. Apakah pantas kita tidak bersholawat kepada Nabi sementara malaikat dan bahkan Allah sendiri melakukannya? Lanjut membaca