Jangan Suka Menunda

Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu dia berkata, “Rasulullah Saw pernah memegang bahuku sambil bersabda, ‘Jadilah engkau di dunia seolah-olah orang asing atau pengembara’. Ibnu Umar berkata, ‘Kalau datang waktu sore jangan menanti waktu pagi. Kalau tiba waktu pagi jangan menanti waktu sore. Gunakan sebaik-baiknya sehatmu untuk waktu sakitmu dan masa hidupmu untuk waktu matimu. (HR. Bukhari).

Imam Nawawi menyebutkan hadits ini dalam rangkaian hadits Arba’in, karena menyimpan makna dan pesan yang sangat penting, utamanya bagi seorang muslim. Pesan Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam kepada Ibnu Umar ra ini bukanlah termasuk nasihat khusus, tetapi merupakan pesan umum yang berlaku bagi siapapun dan  seyogyanya kita pahami sebagai arahan dan petunjuk yang akan meningkatkan kualitas dan produktivitas hidup kita. Lanjut membaca

Surah Al Balad

Surat Al-Balad terdiri atas 20 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah, diturunkan sesudah surat Qaaf. Dinamai Al Balad, diambil dari perkataan Al Balad yang terdapat pada ayat pertama surat ini. Yang dimaksud dengan kota di sini ialah kota Mekah. Berikut ini kajian surah Al Balad: Tadabbur ayat  1–2 : 1. Aku benar-benar bersumpah dengan kota Ini (Mekah), 2. Dan kamu (Muhammad) bertempat di kota Mekah ini.

Dalam ayat 1-2 Allah bersumpah dengan kota Mekah yang di dalamnya terdapat ka’bah yang menjadi kiblat bagi umat Islam di seluruh dunia dan tempat seorang besar yang diakui oleh lawan dan kawan atas kebesarannya, yaitu Nabi Muhammad saw. dilahirkan dan bertempat tinggal. Beliau adalah utusan Allah yang membawa agama Islam untuk disampaikan kepada seluruh manusia. Lanjut membaca

Imam Abu Hanifah

Diriwayatkan bahwa, Imam Abdullah bin Al-Mubarak (118-181 H.) bercerita: Aku pernah datang ke Syam untuk menemui (Imam) Al-Auza’i (88-157 H.). Aku dapati beliau di Beirut. Begitu berjumpa tiba-tiba beliau bertanya kepadaku: Hai orang Khurasan (Imam Ibnul Mubarak berasal dari Khurasan), siapakah ahli bid’ah berjuluk Abu Hanifah (80-150 H.) yang muncul di Kufah itu? Maka (demi mendengar pertanyaan diatas) aku bergegas pulang ke rumah dan langsung menelaah ulang kitab-kitab Abu Hanifah untuk mengambil/mencatat darinya sejumlah masalah (materi ilmiah pilihan) yang bagus-bagus. Lanjut membaca

Waspadalah Terhadap Pujian

Saudaraku, Jauhkanlah diri dari mencampurkan ketaatan kepada ALLAH dengan rasa senang terhadap pujian orang lain, karena hal itu akan berpotensi  menghilangkan pahala amal. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

قَالَ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرْكِ مَنْ عَمِلَ عَمَلاً أَشْرَكَ فِيهِ مَعِى غَيْرِى تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ

“Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman : ’Aku tidaklah butuh adanya tandingan-tandingan. Barangsiapa yang mengerjakan suatu amal dalam keadaan menyekutukan Aku dengan selain Aku, maka Aku akan meninggalkan dia dan sekutunya itu.’” (HR. Muslim) Lanjut membaca

Kalender Hijriyah Dan Identitas Umat

Tanggal 1 Muharram penanda pergantian tahun Hijriyah biasa disambut dan diperingati dengan beragam cara dan acara. Sebagai sebuah semangat, hal itu positif dan baik-baik saja. Tentu asalkan tidak berlebihan dan lebih-lebih tidak sampai melanggar. Tapi yang lebih penting dan lebih mendasar terkait tahun Hijriyah, sebenarnya bukanlah peringatan dan perayaannya. Melainkan justru bagaimana umat ini tersadarkan agar tetap dan senantiasa bangga dengan kalender Islaminyah tersebut. Karena apa arti semua gegap gempita peringatan dan perayaan, bila setelahnya bahkan banyak yang tidak tahu apa nama bulan selepas Muharram ini misalnya? Lanjut membaca

Jaga Makanan Kita

Berbagai cara pun kita lakukan untuk bisa menjaga dan merawat tubuh. Hanya saja, tanpa sadar kita seringkali lalai untuk memperhatikan perawatan tubuh kita dari sisi yang lain. Kita pasti sangat memperhatikan zat-zat gizi apa saja yang terkandung dalam makanan yang kita makan setiap saat. Kita sadar bahwa zat-zat gizi tersebut amat penting bagi tubuh kita. Jika gizi tercukupi, tubuh pun jadi sehat dan tidak cepat mengalami penuaan. Disamping kandungan kecukupan gizi, mestinya kita juga harus memperhatikan kehalalan dari makanan yang kita nikmati. Lanjut membaca

Hakekat Rezeki

Rezki adalah sesuatu yang telah di karuniakan oleh Allah SWT berupa Harta benda dan kekayaan, anak, istri, rumah, kesehatan dan yang Lainnya. Imam At Thobari mendefinisikan rezki sebagai berikut: “Sesuatu yang di makan oleh semua yang hidup (di muka bumi ini) yang menjadi sebab dia hidup dan yang menyehatkan dan menumbuhkan jasadnya”. Rezki setiap orang itu sudah ditentukan oleh Allah SWT sejak ia berada di rahim ibunya ketika genap berusia Empat bulan atau 120 Hari di dalam Hadits Nabi saw yang artinya: “Kemudian dikirim kepadanya malaikat, kemudian malaikat itu diperintahkan untuk meniupkan ruh padanya, dan di perintahkan untuk menentukan rezekinya, ajalnya, amalnya dan apakah dia termasuk orang yang celaka atau bahagia. (HR. Bukhari & Muslim} Lanjut membaca

Manakah Bekal Kita

Saudaraku, sungguh hidup di dunia ini tidak lama..Rasulullah shallallahu alaihi wasallam- menggambarkan bahwa umur umatnya berkisar antara 60 tahun hingga 70 tahun. Dan sedikit orang yang bisa melampui umur tersebut. Dan ternyata dalam waktu yang sebentar itu, kita memerlukan bekal yang banyak. Bahkan kadang kita harus BANTING TULANG demi mencari bekal untuk kehidupan ini yang hanya sebentar tersebut.

Saudaraku, jika untuk waktu kurang lebih 70 tahun saja kita harus BANTING TULANG untuk mencari bekalnya, lalu sudahkah kita juga telah banting tulang untuk menghimpun bekal kehidupan di alam barzakh yang bisa jadi sampai RIBUAN TAHUN lamanya dan untuk kehidupan di akhirat yang abadi, yang satu harinya sama dengan seribu tahun kehidupan dunia? sebagaimana yang Allah Ta’ala sebutkan: “Sesungguhnya sehari disisi Tuhanmu adalah seperti seribu tahun menurut perhitunganmu.”  (QS. 22:47). Lanjut membaca

Dua Dimensi Pekurban

Membahas ibadah kurban tidak cukup dibahas dari aspek pekurban ditinjau dari dimensinya dengan Allah swt, tapi juga harus dibahas dari aspek pekurban dan dimensi sosialnya.Kurban adalah ibadah harta, karena faktor terbesar yang dilibatkan dalam ibadah ini adalah harta.  Ibadah harta selalu membawa dua dimensi yaitu dimensi pelaku dengan Allah dan dimensi pelaku dengan masyarakat/dimensi sosial. Keduanya memiliki tolak ukur yang berbeda.

Dimensi pekurban dengan Allah diukur dengan ketulusan dan keikhlasan hatinya dalam melaksanakan ibadah berkurban dan kesesuaiannya dengan tuntunan syariat.Rasulullah bersabda : “Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya. Setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya. Siapa yang hijrahnya karena mencari dunia atau karena wanita yang dinikahinya, maka hijrahnya kepada yang ia tuju.” (HR. Bukhari dan Muslim) Lanjut membaca

Jalan Mencari Ilmu

Dalam mencari ilmu, seseorang harus mengikhlaskan niat semata-mata karena Allah. “Janganlah mempelajari ilmu untuk berbangga-bangga dihadapan para ulama, atau untuk berdebat dengan orang-orang bodoh, atau untuk memilih majelis yang terbaik (demi mendapat pujian orang). Siapa melakukan hal itu maka nerakalah tempatnya (HR Ibnu Hibban).” “Siapa yang mempelajari satu ilmu yang sepatutnya dilakukan karena mencari ridha Allah, namun dia tidak mempelajarinya kecuali untuk mendapatkan keuntungan duniawi, maka dia tidak akan mencium bau syurga pada Hari Kiamat (HR Ibnu Hibban).” Lanjut membaca