Di Keheningan Malam

Ditulis oleh • Nov 15th, 2019 • Kategori: Taujih
  • Sumo

Tatkala malam menghitam kelam. Mereka bermunajat mengadu pada Ilahi. Sampai malam hilang menjelang. Sementara orang-orang tidur mendengkur, rasa takutnya kepada Allah menerbangkan tidur mereka. Maka bangkitlah mereka. Sementara, orang-orang yang merasa aman di dunia  Lenyap dalam mimpi-mimpinya” Demikian senandung jiwa Abdullah bin Mubarak. Malam nan hening, beningkan hati ketika kemesraan bersama-Nya. Kala dekat berdua, segala beban menjadi ringan. Segala kalut yang membalut hati jadi terbukalah. Segala harap dan asa yang terbendung, maka tak lagi tersandung. Duhai terasa segar dalam raga ada sinar memantapkan jiwa. Sayang, kenapa masih banyak hamba Allah yang melewatkan saat-saat indah ini?

Kenapa semangat mereka masih terkubur oleh dengkur? Kenapa kehambaan mereka masih tersungkur oleh sebab dengkur? Kenapa saat-saat hebat itu dibiarkan hancur oleh dengkur? Jangan! Bangkitlah jangan sampai jadi penyesalan di hari kebangkitan. Bangkitlah karena keagunganNya. Bangkitlah karena rasa takut kepada Pemilik keperkasaaan yang tidak ada batasnya itu. Bangkitlah karena dengan sadar adanya rasa takut kepada Pemilik kehidupan yang ketentuanNya tak akan pernah terelakkan. Bangkitlah di malam-malam yang penuh kemuliaan dan segala bentuk keberuntungannya!

Rasa aman itu ketika dekat denganNya…. bukan dekat yang lain! Allah tidak memiliki sifat zalim, tapi selainnya ….. seperti halnya siapa diri kita. Segeralah bangkit untuk berdiri, sujud dan rukuk padaNya. Jangan lagi dihanyutkan oleh gelombang mimpi.

Dengarkan pula bisikan indah dari Imam Fudhail:

“Ketika matahari sudah tenggelam, aku jadi suka terhadap kegelapan

Karena seolah-olah aku dapat tinggal bersama Tuhanku di keheningan malam.

Dan ketika hari sudah terbit, aku menjadi sedih atas kedatangan manusia kepadaku.”

Tapi…. kemesraan di kesunyian malam bersama Allah terhalang oleh dosa-dosa di siang harinya karena dosa itu membuat hati jadi keras. Tidak lembut dan sensitif merasakan getaran-getaran kasih sayang Tuhannya juga bisa jadi penghalang untuk meraih rahmatNya. Untuk itulah Sufyan ats-Tsauri mengatakan : “Hanya karena satu dosa, aku kehilangan sholat malam selama lima bulan.”

Ia ditanya, “Apa dosa tersebut?” Ia menjawab, “Ketika aku melihat orang yang menangis,

aku berkata dalam hatiku, orang ini menangis karena ingin dipuji oleh orang lain.”

Benar, dosa jika telah mengotori hati, merusak fungsi pentingnya untuk membangkitkan kesadaran akan pentingnya beribadah kepada Allah. Merusak rasa butuh untuk mengkonsumsi makanan paling urgen bagi jiwa, zikrullah. Merusak hati dari merasakan kenikmatan ketika dekat pada Allah yang Maha Kasih itu. Jika demikian mimpi menjadi lebih indah dari pada bangun di tengah malam untuk mendekatkan diri pada Allah yang Maha Penyayang itu. Selimut lebih berharga dari pada taqarrub pada Allah yang telah memberi segalanya dalam hidup ini, termasuk selimut tidur itu.

Jauhilah dosa di siang hari, terasa lebih ringan bangun untuk shalat malam. Jauhilah dosa di siang hari, terasa rindu untuk segera bangkit bermunajat pada Allah yang senantiasa mendekat pada hambaNya di setiap malam. Jauhilah dosa di siang hari, sungguh akan terasa nikmatnya shalat malam itu. Subhanallah!

“Tatkala malam menghitam kelam

Mereka bermunajat mengadu pada Ilahi

Sampai malam hilang menjelang

Sementara orang-orang tidur mendengkur

Rasa takutnya kepada Allah

Menerbangkan tidur mereka

Maka bangkitlah mereka……….

Sementara,

Orang-orang yang merasa aman di dunia

Lenyap dalam mimpi….”

( Senandung jiwa Abdullah bin Mubarak )

Harap mencantumkan alamat website ini jika Anda menyalin tulisan ini.
Kirim email pada penulis ini | Lihat seluruh tulisan oleh

Beri komentar