Haji, Perjalanan Penuh Makna

  • Sumo

Ibadah Haji adalah pembiasaan jiwa untuk melakukan berbagai nilai-nilai terpuji, seperti penyerahan diri kepada Yang Maha Menentukan segalanya, tindakan-tindakan berbuah keselamatan, serta mengerahkan semua kemampuan, jerih payah dan harta di jalan jalan Allah. Demikian pula tolong-menolong (ta’awun), kenal-mengenal (ta’aruf) serta melaksanakan syi’ar-syi’ar ubudiyah (penghambaan) kepada Allah yang Maha Bijaksana. Semua itu merupakan proses pembersihan jiwa (tazkiyatun nafs), yang akan memunculkan pribadi istimewa, dan bahkan nantinya akan mampu menghantarkan kita semua menuju harapan yang tak akan membawa kekecewaan sedikitpun juga.

Perjalanan haji adalah perjalanan orang-orang terpuji. Mengapa demikian? Bekal yang mereka bawa sudah dibersihkan dari barang-barang yang tidak halal. Sangat tidak pantas tentu saja menghadap Allah dengan bekal dana yang didapatkan dari cara yang tidak halal. Hal semacam ini tentu tidak akan dilakukan oleh seorang hamba yang tunduk merendah pada Allah Yang Maha Suci.

Perjalanan haji dijalani dengan penuh keridhaan, dengan mengeluarkan bekal dan infaq tanpa ragu-ragu. Tidak pelit namun juga tidak boros. Memperbanyak infaq tidak termasuk pemborosan karena mengeluarkan bekal di jalan haji merupakan infaq di jalan Allah. Jelas Allah pasti melipatgandakan balasannya. Ibnu Umar pernah berkata: “Termasuk kedermawanan seseorang adalah kebaikan bekalnya dalam perjalanannya. Haji yang paling utama ialah yang paling ikhlas niatnya, paling bersih nafkahnya dan paling baik keyakinannya”.
Nabi shallallahu ’alaihi wasallam bersabda: “Haji yang mabrur tidak ada balasannya melainkan Surga.” Beliau ditanya, ”Wahai Rasulullah, apa kemabruran haji itu?” Nabi menjawab, “Perkataan yang baik dan memberikan makanan.” (HR. Ahmad dan Al-Hakim)

Subhanalah! Perjalanan haji bagaikan langkah-langkah penyelamatan karena semakin menjauhkan pelakunya dari segala hal yang sia-sia. Meninggalkan perkataan yang jorok (rafats), termasuk juga berbicara seputar masalah hubungan laki-laki dan perempuan dan hal-hal yang mengarahkan dan membangkitkan dorongan seksualitas, dilarang selama melakukan ibadah haji. Luar biasa! Hati akan semakin fokus, lurus dan menjurus pada hal-hal bagus yang diridhai oleh Allah Yang Maha Indah.

Perjalanan haji adalah perjalanan indah menuju Allah, yang akan membuat hati pelakunya menjadi sensitif untuk menjauhi setiap yang berbau pelanggaran (fusuq) kepada Allah Yang Maha Perkasa. Ia akan semakin menyadari betapa kecil dan hinanya ia di hadapan Allah Yang Maha Agung. Bahkan hatinya telah berkomitmen, sangatlah tidak patut seorang hamba yang lemah dan hina dina ini melanggar sekecil apapun dari aturan-aturan-Nya. Bahkan ia mampu tidak melakukan jidal, yakni berlebih-lebihan dalam bertengkar dan berbantah-bantahan sehingga dapat menimbulkan antipati dan mengacaukan ketenangan pelaksanaan ibadah haji. Sebagaimana firman Allah: “Barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh berkata kotor, berbuat fasik dan berbantah-bantahan dalam masa mengerjakan haji….” (QS Al-Baqarah:197)

Perjalanan haji merupakan pejalanan hamba dengan penampilan sederhana. Kepada para jamaah haji, Allah memberikan pujian dengan berkata, “Lihatlah para penziarah rumah-Ku. Mereka mendatangi-Ku dalam keadaan lusuh dan berdebu dari segala segala penjuru yang jauh.” (HR. Ahmad dan Al-Hakim)

Perjalanan haji juga akan mengikis sifat kikir dari hati pelakunya. Betapa tidak! Dengan penuh keridhaan, seorang jamaah haji menyembelih hewan qurban yang berkualitas tinggi, harganya mahal dan tanpa ia tawar ketika membelinya. Sehingga, sepulang dari haji telah terpola dengan indah pada benaknya: apa yang bisa saya berikan dan saya korbankan untuk membantu saudara saya?

Dengan perjalanan haji, seorang hamba akan menjadi sadar bahwa semua perbuatan jahat pasti kembali kepada pelakunya. Berbuat jahat kepada orang lain sebenarnya berbuat jahat kepada diri sendiri. Dan hanya orang-orang bodoh yang mau menganiaya diri sendiri dengan cara menganiaya orang lain. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah ditanya, “Apakah kemabruran haji itu?” Beliau menjawab, “Teriakan talbiyah dan penyembelihan unta.” (HR. Tirmidzi dan Al-Hakim)

Selamat jalan saudara-saudaraku, para tamu Allah. Selamat menempuh perjalanan yang sangat istimewa, perjalanan yang penuh makna. Semoga Anda semua meraih haji mabrur. Haji yang menjadikan pelakunya sebagai pribadi terpuji. Kami merindukan kedatanganmu, wahai pribadi-pribadi terpuji.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.