Hakekat Penyucian Jiwa

Ditulis oleh • Feb 29th, 2020 • Kategori: Mutiara Al-Qur'an
  • Sumo

Dalam Al Quran Surat Asy Syam termasuk golongan surat makiyah, terdiri dari 15 ayat. Dinamakan Asy-Syams diambil dari ayat pertama yaitu “Wasy-Syams” yang artinya “Demi matahari”. Pada bagian pertama ayat ini (1-7) Allah bersumpah atas nama makhluknya sebanyak sepuluh kali,  dan bagian kedua (ayat 8-10) Allah mejelaskan tentang sifat alami (thobi’iyah) yang telah Ia (Allah) anugrahkan kepada setiap manusia yaitu pengetahuan tentang baik dan buruk (taqwa dan fujur), dan bagian yang ketiga (ayat 11-15) dijelaskan tentang kenabian Shalih ‘alaihis salam dan mukjizat yang diberikan kepadanya serta sikap kaumnya.

Allah subhanahu wata’ala berfirman: “1. Demi matahari dan cahayanya di pagi hari, 2. Dan bulan apabila mengiringinya, 3. Dan siang apabila menampakkannya, 4. Dan malam apabila menutupinya, 5. Dan langit serta pembinaannya, 6. Dan bumi serta penghamparannya, 7. Dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), 8. Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. 9. Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, 10. Dan Sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.(Kaum) Tsamud Telah mendustakan (rasulnya) Karena mereka melampaui batas, 12. Ketika bangkit orang yang paling celaka di antara mereka, 13. Lalu Rasul Allah (Saleh) Berkata kepada mereka: (“Biarkanlah) unta betina Allah dan minumannya”. 14. Lalu mereka mendustakannya dan menyembelih unta itu, maka Tuhan mereka membinasakan mereka disebabkan dosa mereka, lalu Allah menyama-ratakan mereka (dengan tanah), 15. Dan Allah tidak takut terhadap akibat tindakan-Nya itu”. (QS Asy-Syams: 1-15).

Tafsir Bagian Pertama (Ayat 1-7)

Sumpah Allah atas nama makhluknya hingga sepuluh kali pada surat ini, tentunya mengandung hikmah yang sangat dalam, diantaranya Allah bersumpah atas nama matahari dan sinarnya yang terang dan kuat. Sungguh sangat banyak manfaat yang terdapat pada sinar matahari, semua makhluknya membutuhkannya tanpa terkecuali, bumi akan sangat dingin dan bisa membeku bila tidak ada sinar matahari, tumbuh-tumbuhan tidak bisa berasimilasi dengan sempurna dan tidak akan menghasilkan zat hijau daun yang sangat bermanfaat bagi manusia. Demikian juga manusia akan tidur sepanjang masa, tidak ada aktivitas bahkan bisa mati kaku dalam kebekuan. Maha suci Allah atas karunianya yang begitu besar.

Pada ayat 5-6 Allah bersumpah atas nama langit dan bumi. Langit adalah sebagai atap bumi, Allah meninggikannya tanpa tiang. Langitpun dihiasi dengan bintang-gumintang serta bulan, sehingga tampak indah dimalam hari bagai mutiara yang bertaburan, seperti terlukis dalam firman-Nya: Demikian juga bumi dihamparkan agar manusia tidak jatuh dan dapat tinggal diatasnya serta dapat   bercocok tanam (QS.Al-Baqarah:22)

Jadi pelajaran (Ibroh) dari sumpah Allah atas nama makhluknya adalah agar manusia merenungkan ciptaan-Nya, mengakui ke-Agungan-Nya dan agar senantiasa dapat mensyukuri segala nikmat-Nya

Pada ayat ke-7 Allah berfirman: “Dan demi jiwa (manusia) yang telah diciptakan dengan sempurna”. Allah menciptakan jiwa manusia dengan sempurna dan dalam keadaan fitrah seperti firman Allah berikut ini:

“Maka hadapkan wajahmu kepada agama yang lurus, fitrah Allah yang telah ditetapkan kepada setiap manusia, dan tidak ada perubahan pada ciptaan Allah, itulah agama yang lurus” (QS. Ar-Ruum:30)

Berkenaan dengan masalah fitrah, Rasulullah saw bersabda: “Setiap bayi yang baru lahir dalam keadaan fitrah (suci) maka kedua orang tuanya (bertanggung jawab) untuk menjadikan anaknya Yahudi atau Nashrani atau Majusi” HR.Bukhari

Dalam riwayat Muslim, Rasulullah saw bersabda: Allah Azza Wajalla berfirman:”Aku (Allah) menciptakan hamba-hamba-Ku dalam keadaan fitrah (hanif) kemudian datanglah syaithan menggelincirkan mereka dari agamanya”

Tafsir Bagian Kedua (Ayat 8-10)

Pada bagian kedua ini dijelaskan tentang dua sifat manusia, yaitu sifat fujur dan taqwa. Siapa yang menjaga dan melestarikan sifat taqwa dengan cara mensucikan jiwa dari berbagai macam bentuk kemaksiatan maka ia termasuk orang yang beruntung. Dan sebaliknya siapa yang membiarkan jiwanya bergelimang dalam kemaksiatan maka ia termasuk orang yang merugi.

Sebagai benteng penguat agar jiwa tetap terjaga kesuciaannya maka Nabi saw mengajarkan sebuah doa yang seyogyanya dibaca setiap muslim. Doa tersebut adalah: “Allahumma aati nafsii taqwaahaa, wa zakkihaa, anta khairu man zakkaahaa (Ya Allah karuniakan kepadaku ketaqwaan, sucikanlah ia karena Engkau sebaik-baik penyuci jiwa)”

Tafsir Bagian Ketiga (Ayat 11-15)

Bagian ketiga surat ini berbicara tentang nubuwah Nabi Shalih as. Allah swt mengutus nabi Shaleh kepada kaumnya dengan mu’jizat berupa unta.  Dihimbau kepada kaumnya agar jangan menyakiti unta tersebut dan membrikan kesempatan kepadanya untuk minum ditempat mereka mengambil air.(QS.Asy-Syuara’:155-156). Akan tetapi mereka tidak sabar dengan ujian tersebut sebingga mereka membunuhnya kemudian Allah mengazab mereka dengan azab seperti disebutkan pada surat al-Haqqah ayat:5

“Dan adapun kaum Tsamud maka Aku (Allah) adzab dengan suara yang keras sebingga gendang telinga mereka pecah”

Penutup

Hikmah tarbawiyah yang terkandung pada surat ini adalah sebagai berikut. Pertama, semua sumpah Allah dalam al-Qur’an atas nama makhluknya mengandung hikmah yang mendalam yaitu agar setiap mukmin merenungkan, mentabburi ciptaan Allah, mengagungkan Allah serta mensyukuri nikmat-Nya. Kedua, penyucian jiwa (tazkiyatun-nafs) adalah suatu keniscayaan, siapa saja yang mampu menjaga jiwanya tetap stabil (dalam ketaqwaan). Maka Ia termasuk orang yang beruntung di dunia dan di akhirat. Ketiga, taat kepada Allah dan Rasul-Nya adalah mutlak. Siapa yang mengingkari dan menentangnya maka Allah akan mengazabnya di dunia dan akhirat seperti yang dialami kaumnya Nabi Shalih (kaum Tsamud).

 

Harap mencantumkan alamat website ini jika Anda menyalin tulisan ini.
Kirim email pada penulis ini | Lihat seluruh tulisan oleh

Beri komentar