Hati Yang Kenal Dengan Allah

Ditulis oleh • Okt 14th, 2017 • Kategori: Hikmah
  • SumoMe

Begitu besarnya pengaruh hati dalam menentukan karakter dari manusia yang memilikinya sehingga Rasulullah pernah mengatakan bahwa di dalam tubuh setiap manusia ada segumpal daging yang disebut dengan hati. Apabila hati itu baik maka baiklah manusia yang memilikinya dan begitu juga sebaliknya apabila hati itu jelek maka jelek pulalah manusia yang memilikinya. Beruntunglah manusia yang memiliki hati yang baik. Karena dengan hati yang baik maka akan menghasilkan pemikiran, tindakan dan ucapan yang baik pula. Hanya manusia dengan hati yang baik yang akan memiliki akhlak yang baik. Sebaliknya, sudah dapat dipastikan bahwa tingkah laku yang jelek dan tidak terpuji hanya akan dilakukan oleh manusia-manusia yang memiliki hati yang jelek pula. Ucapan-ucapan yang tidak bermakna dan bahkan sering melukai hati dan perasaan orang lain hanya akan terucap dari mulut manusia-manusia dengan hati yang tidak baik.

Sering terjadi di tengah masyarakat perbuatan atau tindakan yang begitu kejam, sadis dan bahkan tidak dapat dipahami dengan akal sehat. Ini bisa terjadi karena para pelakunya memiliki hati yang kejam dan sadis pula. Pertanyaannya sekarang adalah bagaimana cara agar kita dapat memiliki hati yang baik atau bagaimana cara membuat hati menjadi lebih baik? Jawabannya adalah, jadikanlah hati itu kenal dan semakin kenal dengan Allah. Semakin kenal dan akrab dengan Allah maka hati akan semakin baik. Bagaimana bisa demikian? Karena Allah adalah Zat Yang Maha Baik, Allah begitu mencintai hamba-hamba-Nya yang senantiasa berusaha untuk berbuat baik. Karena itu, hati yang kenal dengan Allah maka akan selalu tersinari dengan cahaya Illahi. Hati yang selalu bersinar penuh cahaya kebaikan. Hati yang senantiasa membisikkan kepada pemiliknya untuk selalu berpikir, bertindak dan berbicara yang baik. Hati yang akan memicu dan memdorong pemiliknya untuk mempunyai akhlak yang baik.

Orang-orang yang memiliki hati yang baik maka akan disayang tidak hanya oleh manusia dan makhluk lainnya tetapi juga oleh Allah. Allah amat menyayangi hamba-hamba-Nya yang memiliki hati yang baik.  Ada suatu kisah yang terjadi pada seorang ulama terkenal Abdullah bin Mubarak. Setelah selesai melakukan tawaf, Abdullah bin Mubarak tertidur. Dalam tidurnya dia bermimpi mendengarkan pembicaraan dua malaikat. Malaikat pertama mengatakan bahwa alangkah banyaknya orang yang menunaikan ibadah haji pada tahun itu. Malaikat kedua menanggapi bahwa amat disayangkan semua amal yang dilakukan jemaah ini tidaklah sempurna sehingga tidak bernilai di hadapan Allah. Hanya saja, karena amal yang dilakukan oleh seorang tukang sepatu maka Allah berkenan menerima amal semua jemaah haji tahun itu. Begitu selesai melakukan ibadah haji, Abdullah bin Mubarak pergi mencari tukang sepatu yang disebutkan malaikat dalam mimpinya. Setelah bertemu dengan tukang sepatu tersebut, Abdullah bin Mubarak bertanya, apa amalan yang telah dilakukan yang membuat Allah begitu menyukai dan menghargai amalan tersebut sehingga dapat menyempurnakan amalan dari ribuan jemaah haji waktu itu. Si tukang sepatu menceritakan bahwa semenjak tiga puluh tiga tahun lalu dia mempunyai keinginan untuk melaksanakan ibadah haji. Untuk itu, setiap hari dia menabung dan setelah dihitung maka dirasa cukup untuk melaksanakan ibadah haji pada tahun itu. Beberapa hari sebelum berangkat, istrinya yang sedang hamil menciumi wangi masakan. Ternyata wangi masakan tersebut berasal dari rumah tetangga. Karena istrinya begitu menginginkan dan karena sayangnya melihat istri yang lagi hamil maka Abdullah menemui tetangganya untuk meminta sedikit dari masakan yang wangi tersebut. Si tetangga mengatakan bahwa demi Allah makanan ini tidak halal bagi keluarga Abdulllah karena yang dimasak adalah sisa bangkai binatang yang didapatkan. Si tetangga terpaksa memasak bangkai binatang ini karena sudah berapa hari dia dan anaknya tidak makan. Demi menghentikan tangis anaknya dan demi mempertahankan hidup maka dia terpaksa memasak bangkai yang didapat tadi. Rasulullah pernah mengatakan bahwa dalam keadaan darurat maka bangkai binatang dihalalkan untuk dimakan. Mendengar cerita dari tetangganya ini Abdullah berlinang air matanya dan memohon ampun kepada Allah karena dia telah lalai memberikan perhatian kepada tetangganya. Lalu dia bergegas pulang mengambil semua tabungannya dan menyerahkan kepada tetangganya. Dengan lembut dia berkata, “silahkan ambil uang tabungan ini, inilah hajiku.”

Itulah suatu amalan yang lahir dari seorang hamba Allah yang memiliki hati yang baik. Suatu amalan yang sangat disukai oleh Allah. Bahkan suatu amalan yang dengannya membuat banyak amalan lainnya diterima. Mengapa begitu tingginya penghargaan yang diberikan oleh Allah? Karena inilah suatu amalan yang lahir dengan dilandasi oleh keihlasan yang tinggi. Suatu amalan yang terjadi tanpa mengharapkan balasan apapun, termasuk pahala sekali pun. Suatu amalan yang muncul hanya sebagai bentuk syukur atas nikmat Allah yang begitu banyak yang telah dilimpahkan Allah kepada kita. Sebagai rasa syukur karena kita relatif lebih mudah untuk mendapatkan nikmat tersebut dibandingkan dengan sebagian saudara kita yang lain. Inilah suatu kesadaran yang muncul dari hati yang baik bahwa kenikmatan yang telah dititipkan Allah ini tentunya harus didistribusikan juga bagi hamba-hamba-Nya yang lain.

Seseorang yang beramal dengan keikhlasan yang tinggi maka dia tidak dipusingkan dengan balasan yang akan diterima. Dia tidak mengharapkan pujian dan penghargaan bahkan balasan pahala sekalipun. Dia yakin bahwa Allah menyukai orang-orang yang bersyukur. Karena itu, Dia hanya berusaha mengoptimalkan dan menyempurnakan akan kebaikan yang diberikan sebagai sarana untuk mensyukuri nikmat dan karunia Allah. Dia begitu yakin bahwa Allah Maha Lembut, Maha Bijak, Maha Menatap dan Maha Mengetahui. Jadi, barometer dari perbuatannya adalah apakah Allah suka atau tidak. Jika Allah suka maka dia dengan senang melakukan. Sebaliknya jika Allah tidak suka maka dia berusaha sekuat tenaga menghentikan atau menjauhi perbuatan itu. Ini bisa muncul jika didorong oleh hati yang baik. Alangkah indahnya amalan yang dilakukan oleh hamba-hamba Allah yang memiliki hati yang baik. Hati yang kenal dengan Allah. Hati yang disukai oleh Allah. Semoga kita dikaruniai memiliki hati yang demikian oleh Allah, Amin.

Di-tag sebagai:

Harap mencantumkan alamat website ini jika Anda menyalin tulisan ini.
Kirim email pada penulis ini | Lihat seluruh tulisan oleh

Beri komentar