Jujur

Ditulis oleh • Mar 26th, 2018 • Kategori: Adab
  • SumoMe

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda (yang artinya): “Sesungguhnya sifat jujur itu membimbing kepada kebajikan, dan kebajikan itu membimbing ke Surga. Sungguh seseorang yang selalu jujur akan dicatat disisi Allah sebagai ahli jujur (shiddiq). Dan sesungguhnya sifat dusta itu membawa kepada kejahatan, dan kejahatan itu membawa ke Neraka. Sungguh seseorang yang senantiasa berdusta itu akan dicatat disisi Allah sebagai ahli dusta (kadzdzab)” (HR. Muttafaq ‘alaih). Jujur berarti iman, dan hanya orang-orang beriman sajalah yang memiliki sifat jujur dengan kejujuran sejati, yang tanpa disertai keragu-raguan. Oleh karena itu, setelah menyebutkan beberapa sifat orang-orang mukmin, Allah Ta’ala menutup ayat-Nya dengan firman-Nya (yang artinya): “Dan mereka itulah orang-orang yang benar-benar jujur” (QS. Al-Hujuraat [49]: 15).

Jujur berarti benar atau sesuai dengan kebenaran. Jujur juga identik dengan kebajikan (lihat hadits diatas). Sehingga pada hakekatnya, tidak ada kejujuran di dunia kebatilan dan kejahatan. Jujur adalah kesesuaian antara lahir dan batin. Atau dengan kata lain, jujur adalah kesesuaian dan keserasian antara ucapan, tindakan dan keyakinan. Oleh karena itu, sifat jujur bertentangan dengan sifat munafik, yang berarti adanya pertentangan dan perselisihan antara lahir dan batin. Jujur berarti menjaga amanah, karena hanya orang-orang jujurlah yang menjaga dan menunaikan amanah. Oleh karena itu jujur berlawanan dengan sifat khianat, yang merupakan salah satu sifat dasar orang-orang munafik.

Jujur berarti setia dan menepati janji. Karena ingkar janji juga merupakan salah satu karakter dasar orang-orang munafik. Jujur adalah istiqamah dan komitmen dalam memenuhi tuntutan dan konsekuensi keimanan sampai akhir hayat, tanpa berubah sedikitpun (QS. Al-Ahzaab[33]: 23). Jujur berarti sungguh-sungguh dan tidak setengah-setengah dalam segala sesuatu. Atau dengan kata lain, jujur itu menuntut totalitas dalam segala hal. Perhatikan misalnya, hadits muttafaq ‘alaih yang berkisah tentang seorang nabi ‘alaihis-salam yang hendak berperang, dan melarang tiga kelompok orang diantara ummatnya, untuk ikut berangkat jihad bersama beliau, yaitu: lelaki yang baru saja melangsungkan akad nikah, orang yang sedang menyelesaikan pembangunan rumahnya, dan orang yang sedang menunggui proses kelahiran anak-anak kambing atau onta bunting yang baru dibelinya.

Jujur adalah yakin dan tidak ragu-ragu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda (yang artinya): “Tinggalkanla apa-apa yang meragukanmu, dan gantilah dengan hal-hal yang tidak meragukanmu. Karena kejujuran itu menanamkan ketenangan, sedangkan kedustaan itu menimbulkan keraguan/kecurigaan” (HR. At-Tirmidzi, An-Nasai, Ahmad, Ibnu Hibban dan Al-Hakim). Jujur berarti berani, dan orang-orang yang jujur adalah para pemberani. Sementara para pendusta dan pembohong itu penakut dan pengecut. Jujur juga identik dengan sikap terus terang, transparan dan tidak menutup-nutupi. (Ust. Ahmad Mudzoffar Jufri)

Harap mencantumkan alamat website ini jika Anda menyalin tulisan ini.
Kirim email pada penulis ini | Lihat seluruh tulisan oleh

Beri komentar