Kebahagiaan Sejati

Ditulis oleh • Des 11th, 2019 • Kategori: Mutiara Hadits
  • Sumo

Rasulullah shalallahu alaihi wassalam bersabda: “Saat paling dekat antara hamba dengan Rabbnya adalah ketika sujud, maka perbanyaklah doa.” (HR: Muslim, Ahmad, Nasai, Baihaqi dan Abu Dawud) . Shalat adalah kesenangan para shalihin di dunia ini, karena ia menjadi wahana untuk bermunajat kepada Dzat yang tidak akan ditemukan ditemukan kebahagiaan kecuali dengan-Nya. Di dalamnya ada kenikmatan dengan mengingat-Nya, kegembiraan dalam bermunajat kepada-Nya, berdiri di hadapan-Nya, kelezatannya mendekatkan diri di hadapan-Nya dan tunduk di hadapan-Nya. Teristimewa dikala sujud yang menjadi saat yang paling dekat, mesra antara hamba dan Rabbnya.

Ibnu Qayyim rahimahullah berkata: “ Kedekatan yang disebut dalam Al-Qur’an dan sunnah adalah kedekatan khusus dari para penyembah, pemohon dan peminta-Nya. Ia merupakan buah ibadah dengan nama-Nya, Al- Bathin. Allah berfirman: ”Dan jika para hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, (katakanlah) bahwa Aku dekat. Aku mengabulkan doa orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku.” (QS. Al-Baqarah: 186)

Kedekatan Allah dengan orang yang berdoa, terungkap dalam ayat: ”Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-A’raf: 56). Penyebutan rahmat Allah dengan kata dekat adalah bertanda dekatnya Allah dengan orang-orang yang berbuat baik . Seakan-akan ungkapan itu berbunyi ”Sesungguhnya Allah dengan rahmat-Nya dekat dengan orang yang berbuat baik”.

Dalam hadits dari Abu Musa disebutkan bahwa para shahabat bersama Rasulullah dalam satu perjalanan. Kemudian kemudian terdengar suara mereka mengucapkan takbir dengan keras. Rasulullah seraya mengingatkan, ” Wahai manusia! Rendahkan suara kalian karena yang kalian seru tidak tuli dan tidak pula jauh. Yang kalian seru Maha Mendengar dan Mahadekat, lebih dekat dengan salah seorang diantara kalian ketimbang lehernya sendiri.’

Begitu dekatnya Allah kepada hamba yang berdoa dan mengingat-Nya? Sungguh beruntung orang-orang yang tekun berdoa dan mengngat-Nya. Maka tidak perlu berteriak ketika besrdoa. Karena Allah dekat dengannya, apalagi Ia Maha Mendengar. Dan kedekatan ini termasuk konsekwensi cinta; makin besar cintanya, makin dekatpula jarak antara san pecinta dan Yang Dicintai. Tidak ada yang lebih menyenangkan pecinta, melapangkan dadanya, membahagiakan hidupnya selain shalat. Ia benar-benar pecinta sejati.

Hamba yang sudah mencapai maqam ini akan merasa ringan setelah shalat. Merasa beban berat telah terlepas dari pundaknya. Ia mendapat suntikan semangat dan ketenangan baru hingga berharap terus berada di dalamnya. Shalat telah menjadi penyejuk mata baginya, kenikmatan jiwa, makanan hati, dan sebagai wahana untuk melepaskan segala beban dunia. Seakan-akan sebelum shalat ia berada di penjara, lantas mendapat kelapangan dalam ibadah ini. Maka para pecinta akan berucap ”Dengan shalat, kami bisa meraih ketenangan.” persis seperti ucapan sang teladan kita : ” Wahai Bilal, hiburlah kami dengan shalat.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud).

Seseorang yang mendapatkan ketenangan dan kesenangan dengan shalat tidak kan sanggup bersabar bila belum melakukannya. Shalat yang membuat hati tenang, lapang dan gembira adalah penghubung hamba dengan Allah ketika menghadap kepada-Nya, berdoa, bermunajat, dan mendekatkan diri padanya. Karena itu bagaimana mungkin shalat tidak bisa menyenangkan? Bagaimana mungkin seorang pecinta menyenangi selain shalat? Tak mungkin ia tergolong orang yang mengatakan, ”Kami shalat dan kami meresa terbebas dari shalat”.

Berbeda dengan orang lalai yang melakukan shalat dengan berat hati. Shalat baginya ibarat berdiri di atas bara apa, yang harus segera ditinggalkan dan dijauhi. Ia tidak mendapatkan kesenangan di dalam shalat. Hatinyapun tidak merasa nikmat dengan shalat. Berat!

Tapi seorang hamba yang mendapatkan ketenangan dan lapang hati dengan shalat akan merasa berat meninggalkannya. Hatinya tetap lapang meskipun ia dihimpit berbagai persoalan. Hatinya tetap berbunga-bunga meskipun banyak ancaman yang menghantuinya. Hatinya senantia tenang walaupun fitnah-fitnah hidup sedang menggoncangnya. Hati semakin mantap menatap masa depan meskipun ia sedang dihadang badai penghalang untuk meraih masa depannya. Bahkan hatinya semakin yakin sementara banyak orang semakin ragu meniti kejayaan, kebahagiaan hidup bersama Islam. Kenapa bisa demikian?

Bukankah ia semakin dekat dengan Sang Penguasa Hati? Bukankah dia semakin mesra dengan Sang Penguasa segala sesuatu? Bukankan ia semakin mencintai Sang Pemilik segala kesenangan dan kenikmatan hidup ini? Tentu ia yakin akan diberikan sesuatu yang membahagiakannya. Apapun yang diminta pasti diberikan. Rasulullah pasti benar ketika memberi nasehat kepada ummatnya: ”Saat Yang paling dekat antara hamba dengan Rabbnya adalah ketika sujud, maka perbanyaklah doa”.

Harap mencantumkan alamat website ini jika Anda menyalin tulisan ini.
Kirim email pada penulis ini | Lihat seluruh tulisan oleh

Beri komentar