Kerinduan Sahabat Bilal

Ditulis oleh • Okt 30th, 2017 • Kategori: Kisah
  • SumoMe

Kecintaan Sahabat Bilal radhiyallahu anhu kepada Rasulullah sholallahu alaihi wassalam sangat luar biasa. Hingga tidak ada lagi sisa dalam hatinya untuk mencintai yang lainnya. Ketika Rasulullah SAW wafat, hatinya sangat sedih dan merasa sangat kehilangan yang luar biasa. Saking sedihnya berpisah dengan Rasulullah SAW, beliau tidak bisa lagi mengumandangkan adzan sebagaimana yang ia lakukan bersama Rasulullah SAW. Bahkan sahabat Bilal tidak tahan lagi untuk tinggal di kota Madinah. Beliau meminta izin kepada khalifah Abu Bakar ra. untuk meninggalkan Madinah dan memilih tinggal di negeri Syam.  Beliau menetap dan menikah disana. Hingga pada suatu hari beliau terjaga dari tidurnya dan menangis sejadi-jadinya yang membuat terkejut istrinya. Sebuah tangisan yang tidak biasa dari sahabat Bilal ra.

Melihat kejadian tersebut istrinya bertanya kepada Bilal suaminya: “ Apa yang membuatmu menangis wahai suamiku?” Kemudian sambil menangis sahabat Bilal menjawab: “aku telah bermimpi bertemu Rasulullah SAW. Dalam mimpi itu Rasulullah berkata: wahai Bilal apakah sudah keras dan gersang hatimu, sehingga engkau lama tidak mengunjungiku”. Mendengar penjelasan Bilal tersebut kemudian istrinya berkata: “Kalau begitu segeralah pergi ke Madinah untuk berziarah ke makam Rasulullah SAW”. Maka setelah selesai menyiapkan segala perbekalan yang dibutuhkan, bergegaslah Bilal pergi menuju ke Madinah.

Saat sudah memasuki kota Madinah, Bilalpun kembali berurai air mata. Terkenang kembali syahdunya saat-saat indah bersama Rasulullah SAW. Ketika melihat jalan-jalan dan rumah-rumah di kota Madinah, teringatlah kembali kenangan bagaimana saat bersama kekasihnya Rasulullah melewati jalan-jalan dan rumah-rumah tersebut. Semakin membuncahlah rasa rindunya untuk segera menuju makam Rasulullah SAW.  Dan ketika sudah sampai di makam Rasulullah, sahabat Bilal terduduk dihadapan makam Rasulullah. Dengan berurai air mata yang semakin deras sahabat Bilal mengucapkan Salam kepada Baginda Nabi sholallahu alaihi wassalam.

 Beberapa saat setelah berziarah ke makam Nabi SAW, bertemulah sahabat Bilal dengan khalifah Abu Bakar dan sahabat Umar bin Khattab ra. Khalifah Abu Bakar berkata kepada Bilal: “wahai Bilal mohon mengumandangkan adzan bagi kami seperti dulu pernah engkau lakukan untuk Rasulullah SAW” Kemudian Bilal menjawab: “maafkan aku wahai khalifah Rasulullah SAW, demi Allah aku tak mampu lagi mengumandangkan adzan lagi selepas wafatnya Rasulullah”. Begitu juga jawaban Bilal saat sahabat Umar bin Khattab memintanya untuk mengumandangkan adzan.

Tiba-tiba datang cucu Rasulullah sayidina Hasan dan Husain yang masih kecil menghampiri Bilal. Sambil menangis sahabat Bilal memeluk keduanya, terkenanglah kembali kakeknya Rasulullah SAW.  Terciumlah aroma wewangian dari kedua anak kecil itu sebagaimana wewangian milik Rasulullah SAW. Setelah melepas rindu diantara mereka, berkatalah Hasan dan Husain untuk  meminta Bilal untuk mengumandangkan adzan sebagaimana dulu saat Kakeknya masih ada. Kali ini sahabat Bilal tidak kuasa menolak permintaan cucu kesayangan Rasulullah ini. Maka naiklah Bilal ketempat dimana ia biasa mengumandangkan adzan di masa Rasulullah SAW dan bersiaplah beliau mengumandangkan adzan.

Maka ketika dengan lantang Beliau mengumandangkan “Allahu Akbar Allahu Akbar”. Terkejutlah penduduk Madinah mendengar suara ini. Suara itu mengingatkan mereka saat masih bersama Rasulullah SAW. Dan suara itu hilang bersama wafatnya Rasulullah SAW. Tapi  suara yang mereka rindukan bertahun-tahun itu akhir mereka dengar kembali. Ketika sahabat Bilal mengumandangkan “Asyhadu al Laailaha illallah” berhamburanlah mereka keluar rumah menuju masjid Rasulullah. Mereka berlarian sambil berkata: “Apakah Rasulullah telah bangkit kembali”. Dan puncaknya ketika sahabat Bilal mengumandangkan: “Asyhadu anna Muhammadar Rasulullah” maka pecahlah tangis mereka. Tangisan kesedihan berpisah dengan Rasulullah yang sangat mereka cintai.  Dan Sahabat Bilalpun tidak mampu lagi melanjutkan Adzan-nya karena tak kuasa menahan kesedihannya.

Di-tag sebagai:

Harap mencantumkan alamat website ini jika Anda menyalin tulisan ini.
Kirim email pada penulis ini | Lihat seluruh tulisan oleh

Beri komentar