Kita Mencintai Ramadhan

  • Sumo

Saudaraku, Saat ini kita sedang akrab akrabnya dengan Ramadhan, ditandai dengan semangat beri’tikaf untuk mendapat Lailatul Qadar. Entah rumah kita lebih mewah dari masjid atau sebaliknya, tetapi saat ini kita lebih terpukau, tak ingin mengeluh dan lebih nyaman tinggal di rumah Allah beserta semua kurang lebihnya fasilitas yang mampu disediakan oleh takmir masjid. Ramadhan yang sebelumnya selalu kita tunggu dan dengan penuh bahagia kita mengucap ; “Marhaban Ya Ramadhan”, ternyata hanya sejenak membersamai kita. Bahkan saat kita sedang akrab akrabnya, justru Ramadhan akan pergi meninggalkan kita.

Patutlah orang-orang beriman bersedih ketika menyadari Ramadhan akan pergi, sebab dengan perginya bulan mulia itu, pergi pula berbagai keutamaannya: Doa sangat berpotensi untuk diterima, Setiap sedekah akan sampai pada Allah, Pahala kebaikan dilipatgandakan, Setan dibelenggu, Dosa akan dihapus. Mendapatkan Lailatul Qadar bagi yang sungguh sungguh mencarinya.

Adapun Lailatul Qadar, layaknya hadiah yang sangat  besar dari Allah, menandai waktu berpisahnya kita dengan Ramadhan telah tiba. Jika kita beruntung mendapatkan Lailatul Qadar yang nilainya lebih indah dari 1000 bulan atau setara dengan 83 tahun usia ibadah, maka seusai mendapatkannya, kita akan menjadi pribadi yang lebih taat pada Allah dan lebih kasih pada orang lain. Yang perlu diingat bahwa, dengan berakhirnya Ramadhan, bukan berarti berakhir pula semangat dan kebiasan ibadah kita. Hendaknya tetap ikhtiarkan kebiasaan baik kita selama Ramadhan, utamanya kebiasaan :

  1. Mencintai masjid dan banyak beribadah di rumah Allah tersebut sehingga Allah juga mencintai rumah kita. Bahkan Allah karuniakan rasa seolah masjid sangat dekat jaraknya dengan rumah kita, walau sebenarnya cukup jauh.
  2. Banyak bertilawah, sehingga Qur’an sudi menjadi sahabat kita, ditandai dengan ringannya kita tilawah beberapa juz dalam sehari dan mudahnya menghafal Qur’an.
  3. Banyak bersedekah agar terpotong keterikatan hati kita dengan harta sehingga hartalah yang bekerja untuk kita dan bukan kita yang bekerja untuk harta.

Ya Rahman, terimalah puasa kami, shalat kami, ruku’ kami, sujud kami, dan tilawah kami. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”. Ya Allah, Sungguh Engkau Maha Pengampun, mencintai ampunan, maka ampunilah aku”. (@msdrehem)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses