Mari Menggapai Lailatul Qadar

Ditulis oleh • Jun 5th, 2018 • Kategori: Taujih
  • Sumo

Yang terpenting dari upaya menggapai kemuliaan dan keberkahan lailatul qadar yang luar biasa itu, bukanlah dengan cara mencari tahu kapan terjadinya dan mengamati tanda-tandanya. Melainkan dengan mujahadah keras dan upaya optimal dalam mengisi setiap malam dengan berbagai amal ibadah yang seistimewa mungkin. Dan itulah yang diteladankan oleh Baginda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melalui i’tikaf sepuluh malam dan sepuluh hari penuh pada akhir bulan Ramadhan. Karena apabila kita meratakan upaya mujahadah dalam amal ibadah pada sepuluh malam terakhir Ramadhan, maka hampir bisa dipastikan insyaallah kita termasuk yang memperoleh kemuliaan dan keberkahan lailatul qadar, namun dengan kadar dan prosentasi yang berbeda-beda dan bertingkat-tingkat, masing-masing sesuai dengan kapasitas amal ibadah yang dilakukannya.Lalu, dengan amal ibadah apa sajakah keberkahan lailatul qadar bisah diraih? Apakah hanya dengan i’tikaf, qiyamullail dan tilawah Al-Qur’an saja? Apakah seperti kondisi seorang muslimah yang berhalangan misalnya masih berpeluang untuk mendapatkan lailatul qadar? Dan apa pula tanda-tanda orang yang beruntung memperoleh kemuliaan malam berlimpah berkah tersebut? Serta apakah yang bersangkutan bisa mengetahui, menyadari atau merasakannya?

Sebenarnya setiap hamba yang dipertemukan oleh Allah Ta’ala dengan bulan termulia Ramadhan khususnya sampai akhir, berarti ia telah diberi peluang istimewa, seperti yang lainnya, untuk bisa meraih kemuliaan dan keberkahan lailatul qadar. Tinggal apakah ia mau dengan sungguh-sungguh memanfaatkannya ataukah tidak. Dan untuk memperoleh kemuliaan Ramadhan secara umum serta keberkahan lailatul qadar secara khusus, jenis amal saleh apapun, sesuai kondisi, kemampuan dan kesanggupan masing-masing kita, sebenarnya tetap bisa dan berpeluang sama atau serupa untuk menjadi wasilah dan sarana. Meskipun tentu saja, amal-amal ibadah yang lebih lekat sebagai amal malam dan ibadah masjid seperti i’tikaf, qiyamullail, tilawah Al-Qur’an, dzikir, doa, istighfar, dan semacamnya, tetap merupakan wasilah-wasilah atau sarana-sarana prioritas utama untuk tujuan menggapai kemuliaan teristimewa dan keberkahan berlipat ganda tersebut. Karena memang itulah yang dituntunkan, dicontohkan dan diteladankan oleh Sang Nabi termulia dan tercinta shallallahu ‘alaihi wasallam. Sehingga bagi siapapun diantara kita yang berkeleluasaan kondisi, haruslah senantiasa bersungguh-sungguh dalam upaya pemrioritasan dan pengistimewaan ibadah-ibadah ritual spesial dimaksud.

Namun di saat yang sama, bagi tak sedikit orang Islam lain, dengan kondisi-kondisi tertentu yang cukup spesifik, pada hakekatnya jenis amal saleh apapun yang mereka bisa sesuai kondisi, kesiapan dan kesanggupan yang dimiliki, tetap dapat berfungsi sama atau serupa seperti amal-amal ibadah ritual diatas, dan sekaligus bisa menggantikan nilai atau pahala sebagian yang terhalang dari mereka, diantara amal-amal ibadah tersebut. Maka yang harus dilakukan oleh setiap kita, saat kondisi menghalanginya dari sebagian ibadah spesial tertentu yang diinginkannya atau yang seharusnya dilakukannya sebagai sarana meraih lailatul qadar, adalah dengan segera mengalihkan perhatian dan mengarahkan mujahadah kepada jenis-jenis atau bentuk-bentuk ibadah dan amal lain yang masih memungkinkan sesuai kondisinya itu, lalu hendaklah ia tetap yakin bahwa, nilai serta pahala yang akan ia dapat bisa saja sama, atau bahkan bisa juga lebih tinggi dan istimewa.

Karena harus diingat dan dicatat bahwa, sejatinya yang terpenting dalam amal dan ibadah seseorang itu bukanlah jenis dan bentuk amalnya, ataupun banyaknya hasil yang dapat dikumpulkan dalam bidang amal ibadah tertentu. Melainkan tingkat keimanannya, level kejujurannya, nilai kesungguhannya dan kualitas mujahadah (usaha keras)-nya dalam melakukan setiap amal atau ibadah yang sesuai dengan kondisi dan kesanggupannya, apapun jenis dan bentuk amal ibadah tersebut. Oleh sebab itu, jawaban Baginda Rasulillah shallallahu ‘alaihi wasallam berbeda-beda atas pertanyaan sama yang diajukan oleh beberapa orang sahabat radhiyallahu ‘anhum. Yakni pertanyaan tentang: apakah amal yang paling afdhal (utama) itu? Sehingga, karenanya, para ulamapun, seperti Imam Ibnul Qayyim misalnya, akhirnya menyimpulkan bahwa, pada hakekatnya tidak ada satu amal ibadahpun yang merupakan amal ibadah paling afdhal (utama) secara mutlak bagi siapapun dan dalam kondisi apapun. Akan tetapi yang benar dan yang tepat adalah bahwa, penentuan ke-paling afdhal-an amal ibadah itu lebih menyesuaikan dan mengikuti perbedaan kondisi dan situasi serta tingkat kesanggupan dan level totalitas orang perorang pelakunya.

Dan yang penting sekali untuk diingatkan kembali bahwa, yang istimewa atau diistimewakan dari lailatul qadar (malam kemuliaan) itu, sebagaimana pula bulan Ramadhan secara umum, adalah faktor momentum waktunya. Sehingga bila ditanyakan, siapakah muslim/muslimah yang beruntung dan berbahagia dipilih oleh Allah sebagai peraih medali keberkahannya, maka tiada lain, dialah orang yang bersungguh-sungguh dan bermujahadah dalam mengisi serta memanfaatkan detik-detik, menit-menit dan jam-jamnya, dengan amal-amal spesial dan ibadah-ibadah istimewa, sesuai kondisi dan kesanggupannya, seperti yang telah disebutkan dimuka. Itulah tanda utamanya. Terlepas apakah yang bersangkutan mengetahui, menyadari dan merasakannya ataukah tidak! Sehingga, dengan demikian, seperti telah disebutkan, seseorang yang berusaha sungguh-sungguh mengikuti jejak sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan cara meratakan mujahadah amal ibadah di seluruh waktu bulan Ramadhan, dan utamanya atau puncaknya pada sepuluh malam dan sepuluh hari terakhirnya, maka hampir bisa dipastikan bahwa, ia termasuk dalam golongan orang beriman yang terpilih sebagai peraih kemuliaan malam termulia sepanjang masa dan pengunduh keberkahan malam terberkah sepanjang sejarah. Meskipun kadar dan prosentase perolehan satu sama lain, bisa berbeda-beda, bertingkat-tingkat dan berlevel-level, sesuai perbedaan kelas keimanan dan ketaqwaan, tingkat keikhlasan dan kejujuran, serta level totalitas dan kesungguhan masing-masing dalam setiap amal serta ibadah yang mampu ditunaikannya. Semoga kita semua tergolong dalam deretan para pemenang berbahagia itu dengan raihan poin keberkahan tertinggi! Aamiin! (ust. Ahmad Mudzoffar Jufri)

Di-tag sebagai:

Harap mencantumkan alamat website ini jika Anda menyalin tulisan ini.
Kirim email pada penulis ini | Lihat seluruh tulisan oleh

Beri komentar