Masih Adakah Takabbur Di Hati

Ditulis oleh • Jan 6th, 2018 • Kategori: Kolom Ketua IKADI
  • SumoMe

Saudaraku, Memandang rendah orang yang lebih miskin, itu Takabbur. Memandang rendah orang yang lebih bodoh, itu Takabbur. Memandang rendah bawahan, pembantu, murid, anak sendiri, itu Takabbur. Memandang rendah ahli dosa tanpa ada upaya untuk merubahnya, itu Takabbur. Memandang diri sudah banyak beramal, itu Takabbur. Memandang diri suci dari dosa, itu Takabbur. Memandang diri tidak butuh nasehat, itu Takabbur. Memandang diri hebat, itu Takabbur. Kita tidak tahu siapa yang lebih mulia di antara kita. Kita tidak tahu, kita ahli Syurga, Amin atau kita ahli Neraka, Na’udzubillah. Kita tidak tahu, mungkin orang gila, justru lebih mulia, daripada kita. Kasihan orang berbangga dengan hartanya. Kasihan orang berbangga dengan keturunannya. Kasihan orang berbangga dengan jabatannya. Kasihan orang berbangga dengan ilmunya. Kasihan orang berbangga dengan ibadahnya.

Takabbur itu penyakit yang bisa mematikan iman. Takabbur sumber kebiasaan memaki, menghina orang lain. Takabbur sumber arogansi, apriori, kemalasan belajar. Takabbur sumber sifat dendam dan balas dendam. Takabbur sumber kemalasan beribadah dan beramal. Saatnya sucikan diri dari Takabbur. Niatkan semua ibadah untuk therapy ini. Setiap melihat orang yang lebih tua, ucapkan dalam hati: “Dia lebih dulu beramal shaleh dari saya”. Setiap melihat orang yang lebih muda, ucapkn dalam hati: ”Saya lebih dulu berbuat dosa dari dia”. Do’akan selalu sesama muslim yang kita lihat dan kita ingat, dengan semua kebaikan. Ingat selalu sabda Rasul SAW : “Tidak masuk Syurga orang yang di hatinya ada sebesar dzarrah dari takabbur.” *Kalau dipuji orang, berdo’alah dengan do’a Umar bin Khattab RA: ”Ya Allah, Jadikan aku lebih baik dari sangkaan mereka, dan ampuni aku atas dosa-dosaku yang mereka tidak ketahui”. Ya Rahman…, Jauhkan kami sifat takabbur ini..”

Harap mencantumkan alamat website ini jika Anda menyalin tulisan ini.
Kirim email pada penulis ini | Lihat seluruh tulisan oleh

Beri komentar