Memilih Makanan

Ditulis oleh • Mei 23rd, 2019 • Kategori: Hikmah
  • Sumo

Hati-hati dengan makanan yang akan dimasuk kedalam perut kita. Kalau kita tidak pandai dalam memilihnya. Kita harus memastikan bahwah yang masuk kedalam perut kita adalah yang halal dan thoyyibah. Sebab kalau tidak begitu maka bisa-bisa makanan itu akan menjadi racun perut. Kasihan perut kita kalau dimasuki racun. Tapi yang dimaksud racun perut disini adalah racun yang datang dari makanan atau minuman. Bukan pengertian racun  sebagaimana yang biasa kita pahami selama ini. Racun perut yang dimaksud disini meliputi dua hal.

Pertama, segala jenis makanan yang haram. Meskipun sedikit, makanan yang haram akan meracuni hati kita. Makanan yang haram bisa dibedakan menjadi dua. Yang pertama, makanan yang secara dzatnya memang sudah haram, seperti daging babi, bangkai, darah, minuman keras, dan sebagainya. Yang kedua, makanan yang haram karena didapatkan dengan cara yang haram seperti mencuri, merampok, menipu, dan sebagainya. Semua jenis makanan yang haram ini akan menyebabkan hati kita menjadi keras. Jangankan makanan yang haram, makanan yang syubhat (yang masih belum jelas kehalalannya) pun bisa mengurangi kekhusyukan dan kenikmatan seseorang dalam beribadah.

Adapun racun perut yang kedua adalah makanan-makanan yang dikonsumsi dalam jumlah yang berlebihan, meskipun makanan tersebut halal. Imam Ahmad dan Turmudzi meriwayatkan sebuah hadits dari Al-Miqdan bin Ma’ad Yakrib bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,”Tidak ada ‘bejana’ anak cucu Adam yang lebih berbahaya daripada perut mereka (yakni ketika biasa diisi dengan makanan secara berlebihan). Cukuplah bagi seorang manusia beberapa suapan makanan yang bisa mengokohkan otot-otot dan persendiannya. Jika tidak bisa demikian, hendaknya ia mengisi sepertiga perutnya untuk makanan, sepertiga lagi untuk minuman, dan sepertiga yang lainnya untuk nafasnya.”

Kedua jenis racun perut diatas bisa mengakibatkan berbagai dampak buruk pada diri seseorang, antara lain: 1) membuat orang tersebut gampang berbuat maksiat, 2) membuat orang tersebut berat dan malas untuk beribadah dan melakukan ketaatan kepada Allah, 3) mengeraskan hati, 4) melemahkan pemahaman dan kecerdasan, 5) menguatkan nafsu seksual, dan 6) menggelorakan emosi. Dari sini tampak jelas betapa racun perut benar-benar berbahaya bagi kualitas ruhani seorang manusia. Dan ini tentunya bisa kita saksikan dengan mata kepala kita sendiri. Betapa banyak orang melakukan kemaksiatan seperti mencuri, korupsi, merampok, menipu dan sebagainya, hanya karena ingin memenuhi hasrat perutnya. Betapa banyak pula orang menjadi malas beribadah dan luntur komitmennya pada agama karena ia terbiasa memuaskan hasrat perutnya tanpa kenal batas.

Apakah kita tidak tahu bahwa syetan akan bisa menggoda dan memperdaya kita dengan mudah tatkala kita tidak bisa mengendalikan perut kita? Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,”Sesungguhnya syetan menggoda manusia melalui jalan peredaran darahnya. Oleh karena itu, persempitlah pergerakan syetan dengan banyak berpuasa (karena puasa bisa mempersempit jalan peredaran darah).” (Hadits Muttafaq ‘Alaih dari Ummul Mu’minin Shafiyyah radhiyallahu ‘anha)

Tidak hanya membahayakan kesehatan hati dan ruhani kita, mengkonsumsi makanan yang haram juga membahayakan kesehatan jasmani kita, karena tidaklah Allah mengharamkan suatu makanan kecuali pasti ada banyak madharat didalamnya. Demikian pula berlebih-lebihan dalam mengkonsumsi makanan juga berbahaya bagi kesehatan jasmani kita. Tidak sedikit bukan berbagai macam penyakit fisik yang timbul karena kelebihan gula, kelebihan kolesterol lemak dan kelebihan zat-zat makanan yang lainnya?

Karena itu wahai saudaraku, marilah kita semua berusaha untuk mengendalikan perut kita. Kalau kita sudah terlena dengan semua makanan lezat, maka kita tidak akan lagi memiliki kepekaan terhadap berbagai permasalahan yang melanda agama dan umat ini. Kita akan menjadi budak perut, yang tidak lagi memiliki kepekaan hati! Semestinya kita yang mengaku sebagai umat Islam ini mengambil teladan dari Rasulullah, yang keadaannya dinyatakan oleh Ummul Mu’minin Aisyah sebagai berikut: “Belum pernah keluarga Muhammad kenyang dengan roti gandum selama tiga hari berturut-turut, sejak kedatangan beliau ke Madinah sampai dengan beliau wafat.”

Sebagai penutup, marilah kita dengar nasihat seorang ulama dari generasi salaf yang bernama Ibrahim bin Adham. Beliau berkata,”Barangsiapa menjaga perutnya berarti ia menjaga agamanya. Dan barangsiapa bisa menguasai rasa laparnya pastilah ia memiliki akhlaq yang baik. Sesungguhnya maksiat kepada Allah itu jauh dari orang-orang yang lapar dan dekat dengan orang-orang yang terbiasa kenyang.” (MSD)

Harap mencantumkan alamat website ini jika Anda menyalin tulisan ini.
Kirim email pada penulis ini | Lihat seluruh tulisan oleh

Beri komentar