Meneladani Tarbiyah Nabi

Ditulis oleh • Feb 1st, 2018 • Kategori: Taujih
  • SumoMe

Untuk menjadi orang yang baik dan benar tidaklah hanya milik generasi para Sahabat radliyallahu anhum yang hidup pada zaman Nabi Saw. Buktinya tidak semua orang yang hidup pada waktu itu bukan menjadi pengikut Nabi Saw. Bahkan malah ada juga yang menjadi penentangnya dan mereka mati dalam keadaan sebagai penentang Rasulullah Saw. Dengan demikian tidaklah benar bila ada orang yang mengatakan: “itu kan hidup zaman Nabi, wajar saja kalau para sahabat begitu baik, mereka hidup zaman Nabi”. Untuk mengetahui bagaimana para sahabat bisa memiliki keimanan yang kuat dan istiqomah, sekurang-kurangnya ada empat hal yang menjadi kuncinya. Sebagai muslim yang ingin terus memperbaiki diri, sangat penting kita mengetahuinya agar dapat mengupayakan dan menerapkannya dalam kehidupan ini.

Kemauan Yang Kuat. Adanya kemauan atau keinginan yang kuat untuk menjadi muslim merupakan faktor yang paling dominan. Kemauan yang besar ini merupakan kesadaran diri yang paling berharga. Dengan kesadaran diri ini membuat mereka punya rasa memiliki terhadap Islam sebagai agamanya sehingga dia akan selalu mempertahankannya. Untuk memiliki keimanan yang kuat dan istiqomah dengan segala aplikasinya. kitapun zaman sekarang ini harus memiliki kemauan yang kuat untuk menjadi baik. Tanpa keinginan atau motivasi yang kuat, seseorang tidak bisa melakukan sesuatu secara maksimal, bila sesuatu yang baik dilakukan, dia akan goyah dengan godaan dan tantangan yang akan dihadapinya. Hal ini seperti yang diperlihatkan oleh sahabat Bilal bin Rabah ra. yang siap mempertahankan iman meskipun harus menghadapi siksaan yang bertubi-tubi. Begitu juga dengan sahabat Yasir dan Sumayyah yang siap mati demi mempertahankan iman.

Pembinaan yang berkelanjutan. Ibarat pohon, kesadaran atau kemauan yang kuat untuk menjadi muslim yang sejati adalah merupakan akar. Sedangkan pohon itu tidak akan hidup dan bertahan serta dapat menghasilkan daun yang rindang dan buah  tanpa disiram dan dipupuk. Pembinaan yang intensif dan berkesinambungan merupakan siraman air dan pupuknya. Oleh karena itu setelah orang-orang kafir Quraisy masuk Islam dan menjadi sahabat Rasul, maka Rasulullah Saw melakukan pembinaan yang intensif dan berkesinambungan kepada mereka.

Dalam sejarah awal dakwah Islam, pembinaan yang intensif dan berkesinambungan terhadap para sahabat mendapat perhatian yang begitu besar dari Rasulullah Saw meskipun sangat sulit untuk bisa kumpul dengan para sahabat. Rasulullah tidaklah putus asa dalam menghadapi kesulitan itu. Alternatif yang dilakukan oleh beliau adalah kumpul dengan para sahabat dan membina mereka pada waktu malam saat manusia sedang tidur dan bubar sebelum fajar saat manusia belum bangun dari tidurnya. Ini dilakukan oleh Rasulullah Saw di rumah sahabat Arqam bin Abi Arqam yang dalam sejarah Islam kemudian disebut dengan Darul Arqam.

Dalam membina para sahabat itu, Rasul menekankan pada aspek memperkenalkan Al-Qur’an kepada para sahabat agar mereka hidup bersama Al-Qur’an, mensucikan jiwa mereka dari sifat-sifat tercela dan mengajarkan kitab dan hikmah, dari pembinaan yang intensif inilah para sahabat dikikis sifat dan sikap kejahiliyahannya hingga memiliki sikap dan prilaku yang Islami, Allah Swt berfirman yang artinya: Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul diantara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan kepada mereka kitab dan hikmah. Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata (QS 62:2

Keteladanan Yang Meyakinkan. Keteladanan yang baik dari para pembimbing umat merupakan sesuatu yang mutlak diperlukan guna memantapkan keyakinan mereka terhadap kebenaran Islam. Meskipun seseorang sudah tahu bahwa ajaran Islam harus dilaksanakannya, dan dihadapan Allah masing-masing orang bertanggungjawab atas apa yang diperbuatnya di dunia. Tetap saja tanpa keteladanan yang baik, seseorang masih kurang mantap keislamannya. Itu sebabnya, Rasulullah Saw tidak hanya mengajarkan Islam kepada para sahabatnya, tapi beliau juga menjadi teladan atas dalam perwujudan ajaran Islam dalam kehidupan nyata. Allah Swt berfirman yang artinya: “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan kedatangan hari akhir dan dia banyak menyebut Allah” (QS 33:21).

Kerjasama Yang Solid. Hal lain yang sangat penting untuk mendapat perhatian dalam melahirkan generasi terbaik adalah tantangan, hambatan dan godaan yang tidak kecil. Saking besar dan beratnya tantangan dan hambatan tersebut, Rasulullah Saw menyadari bahwa hal itu tidak mungkin bisa dihadapi oleh seorang diri. Itu sebabnya beliau amat menekankan agar para sahabat memiliki rasa kebersamaan dan persatuan yang kokoh sehingga dapat saling bekerjasama dalam mengokohkan keimanan dikalangan sesama mereka. Sebagai salah satu contoh yang terjadi pada masa Rasul adalah ketika Bilal mendapat siksaan yang bertubi-tubi dari tuannya karena mempertahankan iman dan itu hanya bisa diselamatkan dengan cara membebaskan Bilal dari status budak, maka sahabat Abu Bakar yang memiliki kekayaan yang banyak tidak segan-segan mengeluarkan hartanya guna membebaskan Bilal.

Harap mencantumkan alamat website ini jika Anda menyalin tulisan ini.
Kirim email pada penulis ini | Lihat seluruh tulisan oleh

Beri komentar