Menjaga Lidah

Ditulis oleh • Feb 13th, 2019 • Kategori: Taujih
  • Sumo

Rasulullah sholallahu alaihi wassalam bersabda:  “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari kiamat hendaklah berkata yang baik atau diam.”  (HR. Bukhari-Muslim). Pesan ini menekankan tentang pentingnya menjaga tutur kata, dan ucapan kita. Sesuai dengan pesan Nabi SAW ini, orang-orang beriman dianjurkan untuk berhati-hati dalam berkata-kata dan ucapan. Sebelum mengucapkan sesuatu seharusnya dipikirkan apakah ucapannya bisa menumbukan kebaikan atau bisa menimbulkan keburukan. Sangat banyak sekali orang yang berubah menjadi baik karena pengaruh ucapan. Tetapi banyak juga orang yang tergelincir karena ucapannya. Berapa banyak kejadian putusnya tali silaturrahim antar teman, sahabat bahkan keluarga berawal dari karena kesalahan dalam ucapan. Ada banyak kasus-kasus problem pernikahan dan rumahtangga yang muncul akibat kurang bisa menahan diri dalam hal ucapan.

Oleh karenanya itu sangatlah perlu untuk selalu menjaga lidah dan tutur kata agar lisan kita selalu berkata-kata  yang baik. Atau kalau tidak bisa demikian, maka lebih baik diam. Dalam konteks inilah Rasulullah SAW berpesan supaya menjaga lidah dan tingkah laku agar tidak mengganggu dan melampaui batas atau menyentuh hak dan wibawa orang lain. Inilah akhlaq atau perilaku yang amat dibutuhkan dalam pergaulan satu dengan lainnya dan juga dalam bermasyarakat.

Dahulu ada seorang Ulama di kota Basrah. Pada suatu hari beliau berceramah di hadapan murid-muridnya. Ada seorang murid duduk disampingnya, yang mulai sejak awal Ulama itu berbicara tidak pernah ia bertanya atau berkata-kata sepatah katapun, tidak seperti murid-muridnya yang lain. Maka bertanyalah Ulama itu kepada muridnya; “Mengapa engkau tidak berkata sepatah katapun?”  Muridnya itu menjawab: “Aku diam, maka aku selamat. Aku mendengarkan, maka aku tahu. Sesungguhnya manusia itu mempunyai bagian masing-masing di telinganya. Bagian itu untuknya, di lidahnya bagian itu untuk orang lain. Seseorang justru tertimpa celaka karena terpeleset lidahnya, dan tidaklah ia terkena bahaya lantaran terpeleset kakinya. Apabila ia terpeleset kakinya ia akan sembuh kembali dalam waktu yang tidak lama, tetapi apabila ia terpeleset gara-gara perkataannya bisa saja ia kehilangan kepalanya.”

Harap mencantumkan alamat website ini jika Anda menyalin tulisan ini.
Kirim email pada penulis ini | Lihat seluruh tulisan oleh

Beri komentar