Mewaspadai Su’udzan

Ditulis oleh • Jul 31st, 2017 • Kategori: Kolom Ketua IKADI
  • SumoMe

Saudaraku, dalam perjuangan pensucian jiwa, ada dosa yang seringkali tidak terasa mengotori jiwa. Bahkan kadang tidak terasa itu sebagai dosa. Apa itu? Itulah Su’uzh-zhan (berprasangka buruk). Berikut ini beberapa contoh sangkaan buruk kepada orang lain: Bertemu dengan orang yang kaya raya, terbesit dalam hati : “Orang ini kayaknya koruptor atau penipu. Kalau dia tidak korupsi atau suka menipu, dari mana dia mendapatkan kekayaannya?! Bertemu dengan wanita cantik tidak berjilbab, apalagi kalau rada rada genit, terbesit dalam hati : “Wanita ini kayaknya biasa berzina, atau bisa diajak berzina”.  Kemudian saat melihat orang yang ada bekas sujud di dahinya, terbesit dalam hati : “Orang ini riya’, mau disebut sebagai ahli ibadah”. Ketika bertemu dengan orang yang dermawan, senang berinfaq dan bersedekah, terbesit dalam hati : “Orang ini tentu riya’, mau disebut sebagai dermawan”.

Membaca kiriman atau pembagian pelajaran dan nasehat di media sosial, termasuk selfi selfi inspiratif dan motivatif, terbesit dalam hati : Orang ini riya’, mau dipuji”. Bertemu dengan ulama atau ustadz, terbesit di hati : “Ustadz ini pasti besar nafsunya. Ustadz ini pasti genit”. Apalagi kalau ustadz itu berpoligami…!?!? Bertemu dengan janda, apalagi kalau janda itu cantik, terbesit dalam hati : “Ibu ini pasti mau cepat cepat menikah, bahkan mungkin dia mau menikah dengan siapa saja”. Menyimak ceramah ustadz yang mengisahkan pengalaman pribadinya, terbesit dalam hati : “Ustadz ini riya’, mau dipuji”. Membesuk orang sakit, apalagi yang sakitnya parah, terbesit dalam hati : “Orang ini pasti banyak dosanya, sehingga dihukum oleh Allah dengan penyakit seperti ini”. Bertemu dengan orang yang mempunyai kelebihan berat badan, apalagi kalau perutnya buncit, terbesit dalam hati : “Orang ini pasti banyak makan, rakus, malas jalan kaki, malas olah raga, banyak tidur”.

Bertemu dengan orang yang sangat kurus, terbesit dalam hati : “Orang ini pasti cacingan, atau kurang gizi”. Didatangi oleh orang miskin, terbesit dalam hati : “Orang ini pasti mau minta bantuan. Kalau tidak minta, pasti mau ngutang”. Membaca semua tulisan di atas, terbesit dalam hati: “Ini pasti pengalaman pribadi dari penulis. Dia pasti suka bersangka buruk, atau sering jadi obyek sangkaan buruk”.

Alangkah kotor hati yang selalu bersangka buruk kepada orang lain…Alangkah mudah, bahkan sangat cepat sangka buruk itu, karena ia tidak diucapkan, ia hanya dalam hati. Sangka buruk itu dosa…Sangka buruk itu dusta. Sangka buruk itu indikasi hati yang kotor. Orang yang selamat dari sangka buruk, itulah orang yang telah disucikan hatinya oleh Allah. Itulah orang mulia pilihan Allah…!  Ya Lathief…!!! Ampuni kami ya Rob..dari dosa sangka buruk ini…

Di-tag sebagai:

Harap mencantumkan alamat website ini jika Anda menyalin tulisan ini.
Kirim email pada penulis ini | Lihat seluruh tulisan oleh

Beri komentar