Nasehat Tanpa Kata-Kata

Ditulis oleh • Sep 12th, 2017 • Kategori: Taujih
  • SumoMe

Barisan pusara berjajar diatas tanah yang tandus. Sebagian diantaranya masih tertancap dengan kokoh, sementara yang lainnya sudah rapuh dan hampir-hampir tertelan oleh tanah. Pada salah satu dari ratusan pusara itu tertulis: ‘Abdullah. Wafat Hari Senin Tanggal 9 Maret 1980’. Itu berarti dibawah gundukan tanah berpusara itu Almarhum Abdullah telah terbaring selama hampir tiga puluh tahun.Tidak hanya Abdullah. Dibawah ratusan pusara itu pasti terbaring pula jasad-jasad manusia selama kurun waktu yang berbeda-beda. Semuanya diam tanpa sepatah katapun terucap. Semuanya membisu, dibawah gundukan-gundukan tanah yang mengering. Namun dibalik kebisuan itu ada nasihat yang begitu jelas: kematian.

Kematian adalah akhir dari segala yang dinikmati dan diderita oleh setiap orang di dunia ini. Begitu seseorang didatangi oleh kematian, ia akan segera berpindah pada sebuah kehidupan baru, yaitu kehidupan alam kubur. Alam kubur inilah persinggahan sebelum memasuki kehidupan akhirat. Diceritakan dalam beberapa hadits keadaan seseorang ketika dijemput oleh kematian: Ketika seorang mukmin berada diantara dunia dan akhirat, para malaikat dari langit turun kepadanya. Wajah mereka putih bersih, secerah mentari. Mereka membawa kafan dan balsam yang berasal dari surga. Lalu mereka duduk sangat dekat dengan si mukmin itu, mengucapkan salam, dan berkata,”Wahai jiwa yang suci, keluarlah menuju ampunan dan keridhaan Allah.” Maka ruhnya pun keluar sebagaimana alir mengalir. Lalu para malaikat itu mengambil ruhnya dan meletakkannya didalam kafan. Daripadanya keluar bau yang sangat wangi. Selanjutnya mereka mengangkat ruh tersebut keatas. Setiap malaikat yang dilalui pasti bertanya,”Ruh siapa ini?” Mereka menjawab,”Fulan bin Fulan”, dengan menyebut nama paling bagus yang pernah dipakainya di dunia.

Begitulah, sampai mereka tiba di batas akhir langit bumi. Mereka meminta langit berikutnya dibuka, dan dikabulkan. Demikianlah seterusnya sampai pada langit yang ketujuh. Allah Azza wa Jalla berfirman,”Tulislah catatan hamba-Ku ini dalam ‘Illiyyin, dan kembalikanlah ia ke bumi. Sesungguhnya aku menciptakannya dari tanah dan akan kukembalikan lagi ke tanah. Dari tanah pula akan Aku keluarkan mereka sekali lagi.” Ruh itupun dikembalikan lagi ke bumi. Lalu datanglah dua malaikat kepadanya, menanyainya tentang tuhannya, agamanya dan rasulnya. Ia pun menjawabnya dengan benar, sehingga terdengarlah suara dari langit: “Ia benar. Berikanlah kepadanya kasur dan pakaian dari surga, serta bukakan untuknya pintu surga.” Setelah itu dilapangkanlah kuburnya sejauh mata memandang. Ditampakkan kepadanya keindahan surga. Dan datanglah amal-amal shalihnya sewaktu di dunia dalam wujud seseorang yang rupawan dan menyenangkan, lalu berkata,”Berbahagialah dengan kemudahan yang diberikan kepadamu. Inilah hari yang dijanjikan kepadamu.”

Adapun ketika seorang pendosa berada diantara dunia dan akhirat, ruhnya akan dikembalikan ke jasadnya. Kemudian dua malaikat datang kepadanya, menanyainya tentang tuhannya dan agamanya. Namun ia hanya bisa menjawab,”Ah…ah… aku tidak tahu.” Maka terdengarlah suara dari langit,”Ia pendusta! Sediakan untuknya tempat di neraka dan pakaian darinya. Serta bukakan untuknya pintu neraka.” Selanjutnya ditampakkan kepadanya dahsyatnya neraka. Disempitkan kuburnya. Dan datanglah kepadanya amal-amal buruknya sewaktu di dunia dalam wujud seseorang yang amat menakutkan.

Demikianlah gambaran singkat seseorang yang mengalami kematian. Nasibnya hanya akan ditentukan oleh iman dan amalnya selama hidup di dunia. Yang beriman dan beramal shalih akan bahagia. Sebaliknya yang kufur dan gemar berbuat dosa akan celaka. Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang selamat. Amin. (Ustadz Muhammad Shaleh Drehem)

Di-tag sebagai:

Harap mencantumkan alamat website ini jika Anda menyalin tulisan ini.
Kirim email pada penulis ini | Lihat seluruh tulisan oleh

Beri komentar