Ramadhan Dan Sabar

Ditulis oleh • Mei 13th, 2019 • Kategori: Hikmah
  • Sumo

Sekarang kita semua sedang berada di bulan Ramadhan. Di bulan Ramadhan ini merupakan waktu paling tepat untuk melatih kesabaran kita. Sabar untuk taat berpuasa, menegakkan sholat, berinfaq dan bersedekah. Sabar untuk tidak berbohong, tidak menggunjing, tidak marah-marah, dan tidak menyakiti orang. Dan sabar dalam menghadapi setiap musibah yang menimpa diri kita. Semoga Allah menjadikan kita semua hamba-hamba-Nya yang sabar. Karena di bulan inilah bulan yang paling tepat untuk melatih kesabaran kita dalam seluruh aspek kehidupan. Sabar sendiri ada tiga amcam: 1) sabar untuk taat kepada Allah, 2) sabar untuk meninggalkan maksiat, 3) sabar terhadap musibah yang menimpa.

Taat

Di bulan Ramadhan kita dilatih untuk sabar dalam ketaatan. Inilah bulan taat, yang biasanya tidak ke masjid sekarang ke masjid. Yang biasanya tidak baca Al-Qur’an sekarang baca Al-Qur’an. Yang biasanya tidak shalat malam sekarang melaksanakan shalat malam. Yang biasanya tidak i’tikaf sekarang melakukan i’tikaf. Yang biasanya tida suka berbagi kinipun jadi dermawan.

Jelas ini bulan full taat, full ibadah, meningkatkan ruhiyah kita. Namun semua itu butuh kesabaran untuk mampu mejalankannya. Dan yang paling jelas adalah berpuasa itu butuh kesabaran ekstra. Sabar tidak makan, sabar tidak minum, sabar tidak bersenang-senang dengan istri demi menjalankan ketaatan pada Allah, dan lain-lain.

Meninggalkan Maksiat

Di bulan ini kita juga dilatih kesabaran untuk menjauhi maksiat. Dan ingat, maksiat yang dilakukan di bulan Ramadhan akan merusak pahala puasa kita. Oleh karenanya puasa itu sebenarnya bukan hanya menahan diri dari lapar,  dahaga  dan bersenang-senang dengan istri saja, namun harus pula mampu menahan gejolak nafsu kita  untuk tidak bermaksiat kepada Allah. Terkait dengan masalah ini, para ulama menyatakan, agar kita mampu menguasai kedua mata sehingga tidak memandang hal-hal yang tidak pantas bagi seorang mukmin. Menguasai kedua telinga agar tidak asyik mendengarkan omongan yang bernilai maksiat. Menguasai lisan agar tidak mudah mengeluarkan kata-kata kotor, dusta  dan keji. Menguasai kaki agar tidak melangkah kepada hal-hal yang buruk. Tentu semuanya sangat butuh kesabaran.

Musibah

Sebagian orang menganggap bahwa ketaatan dan menjauhi maksiat adalah musibah. Contohnya puasa, sebagian orang tidak mau menjalankannya karena takut penyakit maag-nya kumat, padahal justru puasa itu menyehatkan. Disini dibutuhkan kesabaran untuk menyingkirkan ketakutan yang tidak beralasan tersebut.

Sementara di sisi yang lain, banyak pula yang mengatakan bahwa bulan Ramadhan ini merupakan bulan barakah karena bisnis bisa melonjak drastis keuntungannya. Hati-hati, ini juga butuh kesabaran agar para pebisnis tidak tenggelam pada bisnis belaka sehingga melupakan ibadah-ibadah Ramadhan terutama infaq dan zakatnya.

Dalam hidup ini kita pasti pernah mengalami musibah, yang sejatinya merupakan ujian dari Allah Ta’ala, sebagaimana firman-Nya:

”Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS Al-Baqarah: 155)

Dalam menghadapi segala bentuk musibah, semestinya sikap seorang mukmin adalah bersabar, sebagaimana dinyatakan dalam ayat diatas. Dan orang-orang yang sabar dalam menghadapi musibah adalah mereka yang disifati oleh Allah dalam kelanjutan ayat diatas:

”(Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nya-lah kami kembali.” (QS Al-Baqarah: 156) (MSD)

Di-tag sebagai:

Harap mencantumkan alamat website ini jika Anda menyalin tulisan ini.
Kirim email pada penulis ini | Lihat seluruh tulisan oleh

Beri komentar