Beranda | Hubungi Kami | RSS | Facebook |

Website Ikadi Jawa Timur

Tadabbur QS Al-Ghasyiyah

Ditulis oleh • Jun 28th, 2010 • Kategori: Kajian Al-Qur'an
  • Sharebar

Surat ini terdiri atas 26 ayat, termasuk surat-surat Makkiyah, diturunkan sesudah surat Adz Dzaariat. Nama Ghaasyiyah diambil dari kata Al-Ghaasyiyah yang terdapat pada ayat pertama surat ini yang artinya peristiwa yang dahsyat, tetapi yang dimaksud adalah Hari Kiamat. Nu’man bin Basyir ra berkata, “Rasulullah saw membaca surat Al-A’laa dan Al-Ghasiyah pada sholat  Jum’at dan sholat ‘Id (‘Idul Fithri dan Adha).” (HR. Muslim)

Pokok-pokok isi surat ini adalah keterangan tentang orang-orang kafir pada hari kiamat dan azab yang dijatuhkan atas mereka; keterangan tentang orang-orang yang beriman serta keadaan surga yang diberikan kepada mereka sebagai balasan; perintah untuk memperhatikan keajaiban ciptaan-ciptaan Allah; perintah kepada Rasulullah saw untuk memperingatkan kaumnya kepada ayat-ayat Allah karena beliau adalah seorang pemberi peringatan, dan bukan seseorang yang berkuasa atas keimanan mereka.

Tadabbur ayat 1-7: berita tentang datangnya Hari Kiamat dan makanan penduduk neraka.

“Sudah datangkah kepadamu berita (tentang) Al-Ghasyiyah? Banyak muka pada hari itu tunduk terhina, bekerja keras lagi kepayahan, memasuki api yang sangat panas (neraka), diberi minum (dengan air) dari sumber yang sangat panas. Mereka tiada memperoleh makanan selain dari pohon yang berduri, yang tidak menggemukkan dan tidak pula menghilangkan lapar.” (QS Al-Ghasyiyah: 1-7)

“Apakah telah datang kepadamu (wahai Muhammad) berita tentang datangnya Al-Ghasyiyah,  yaitu keadaan yang sangat dahsyat, yang membuat semua orang menjadi tak sadarkan diri . Pertanyaan pada awal surat ini menunjukkan tentang keheranan dan kekaguman yang mendalam karena yang ditanyakan adalah sesuatu yang  menakjubkan dan belum pernah terjadi. Inilah hari yang dijanjikan Allah (QS. Ibrahim: 5).

Dinamakan Al-Ghasyiyah karena pada hari itu wajah orang-orang kafir menghitam diliputi kehinaan seperti termaktub dalam firman Allah (QS. Al-Ankabut: 55). Demikian juga orang-orang munafiq akan mendapat kehinaan karena kehidupannya di dunia penuh dengan tipu muslihat; mereka  berpura-pura beriman, berpura-pura dalam ibadah dan berpura-pura baik kepada orang-orang beriman padahal sebetulnya tidak. Sudah sepantasnya mereka diliputi  kehinaan dan mereka  akan ditinggalkan orang-orang yang beriman dalam kegelapan. Akhirnya mereka pun sadar dan memanggil-manggil orang beriman untuk sekadar mendapatkan cahaya, akan tetapi sudah terlambat (QS. Al-Hadid:13). Pada hari itu tidak ada yang dapat menyelamatkan manusia kecuali amal kebajikan yang pernah ia kerjakan dulu di dunia. Sungguh rugi orang-orang yang tidak beriman, amalnya tidak diterima (QS.Ali-Imron: 31 dan QS. Al-Ashr: 2).

Imam Abdur Rozzaq, Ibnul Mundziri dan Al-Hakim meriwayatkan atsar dari Imron Al-Juwaini bahwa beliau bercerita: ”Umar bin al-Khattab lewat didepan pendeta kemudian dikatakan kepada pendeta tersebut, ‘Ini adalah Amirul Mu’minin.’ Kemudian Umar memperhatikan keadaan pendeta tersebut dengan seksama; dimana pendeta tersebut sangat menderita karena ia tidak senang lagi dengan dunia (hidupnya didalam gereja saja). Melihat keadaan pendeta tersebut Umar menangis, para sahabatnya berkata, “Kenapa engkau menangisinya padahal ia seorang nashrani?” Umar menjawab, ”Justru itulah saya menangis, karena saya kasihan dia bersusah payah beribadah (menurut ajaran nashrani) akan tetapi ia tetap akan masuk neraka.”

Adapun didalam neraka terdapat minuman yang mendidih yang dapat merobek lambung dan memutuskan usus. Serta makanannya  penuh dengan duri, yang tidak mengenyangkan dan juga tidak membikin gemuk.

Tadabbur ayat 8-16: Allah menjelaskan tentang kenikmatan-kenikmatan yang akan diperoleh oleh penduduk surga.

“Banyak muka pada hari itu berseri-seri, merasa senang karena usahanya, dalam surga yang tinggi. Tidak kamu dengar di dalamnya perkataan yang tidak berguna. Di dalamnya ada mata air yang mengalir. Di dalamnya ada takhta-takhta yang ditinggikan, dan gelas-gelas yang terletak (di dekatnya), dan bantal-bantal sandaran yang tersusun, dan permadani-permadani yang terhampar.” (QS Al-Ghasyiyah: 8-16)

Wajah mereka berseri-seri diliputi rasa senang dan bahagia, karena perjalanan hidupnya mendapat ridho Allah Azza wa Jalla; yaitu amal perbuatannya sesuai dengan harapan Allah. Kemudian mereka dimuliakan dengan menempati surga yang paling tinggi, tidak terdengar didalamnya perkataan yang sia-sia, didalamnya  ada mata air yang senantiasa mengalir; ada juga empat macam sungai yaitu sungai yang airnya sangat jernih dan sejuk, sekali teguk hilang semua dahaga, kemudian sungai madu murni, lalu sungai khamar yang sangat nikmat dan tidak memabukkan, dan sungai susu yang rasanya sangat lezat (QS.Muhammad: 15). Demikian juga ada dipan yang diatur rapi, gelas-gelas  yang tersusun  rapi diletakkan ditepi sungai atau mata air agar mudah dijangkau oleh penduduk surga, bantal-bantal tertata rapi, serta permadani yang dihamparkan.  Sungguh semua itu merupakan balasan dan kemuliaan dari Allah.

Tadabbur ayat 17-20: mentadabburi ciptaan Allah

Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana dia diciptakan. Dan langit, bagaimana ia ditinggikan? Dan gunung-gunung bagaimana ia ditegakkan? Dan bumi bagaimana ia dihamparkan? (QS Al-Ghasyiyah: 17-20)

Ketika  Allah mengungkap tentang hari kiamat dan terbaginya manusia menjadi dua golongan; golongan yang selamat dan bahagia (orang-orang mu’min yang bertakwa) dan golongan yang terhina dan sengsara (kaum kafir), kemudian Allah menawarkan solusi terbaik untuk dapat mengimani adanya hari kiamat yaitu lewat tadabbur terhadap ciptaan-Nya. Apakah manusia (orang-orang kafir) tidak pernah memperhatikan bagaimana unta itu diciptakan, langit ditinggikan, gunung dipancangkan serta  bumi dihamparkan?

Unta adalah binatang gurun yang paling kuat, sabar, tahan lapar dan haus. Unta adalah kendaraan gurun penghalau badai. Disamping tenaganya kuat, dagingnya pun sangat enak.

Perhatikan juga, wahai manusia, bagaimana langit yang menjadi atap bagi bumi, ditinggikan tanpa tiang, dan malam harinya dihiasi dengan bulan dan bintang-bintang.

Perhatikan juga bagaimana Allah memancangkan gunung-gunung  sebagai  pasak-pasak bumi, dan perhatikan juga bagaimana bumi dihamparkan agar manusia bisa tinggal diatasnya dan bisa bercocok tanam.

Dengan merenungkan semua ciptaan Allah maka kita akan senantiasa merasakan keagungan Sang Khaliq. Demua yang terjadi dan yang belum terjadi sudah  ditentukan sejak bumi dan langit ini diciptakan.

Tadabbur ayat 21-26: anjuran untuk berda’wah dan ancaman Allah bagi orang-orang kafir, bahwa sesungguhnya mereka semua akan kembali kepada Allah untuk dihisab amal perbuatannya.

“Maka berilah peringatan, karena sesungguhnya kamu hanyalah orang yang memberi peringatan. Kamu bukanlah orang yang berkuasa atas mereka. Tetapi orang yang berpaling dan kafir, maka Allah akan mengazabnya dengan azab yang besar. Sesungguhnya kepada Kami-lah kembali mereka, kemudian Sesungguhnya kewajiban Kami-lah menghisab mereka.” (QS Al-Ghasyiyah: 21-26)

“Berilah peringatan (wahai Muhammad). Sesungguhnya engkau hanyalah bertugas memberi peringatan, engkau bukanlah orang yang berkuasa atas mereka”. Para dai, muballigh, muallim dan murabbi hendaklah merenungkan ayat ini.  Dengan apakah mereka memberi peringatan dan untuk apa serta metode apa yang paling tepat untuk menyampaikan peringatan itu?

Qudwah yang paling tepat untuk ditiru adalah Rasulullah saw. Beliau berdakwah dengan hati dan penuh kesabaran. Allah menggambarkan sifat dan karakter Rasulullah saw dalam banyak ayat,  seperti tertera dalam QS. Ali Imron:159, Al-Fath: 24, Al-Ahzab: 21, dan Al-Qolam: 4.

Berilah peringatan tentang datangnya hari kiamat dan tentang kehidupan yang hakiki di akhirat kelak. Sampaikanlah risalah nabi Muhammad saw dengan penuh keikhlasan, mudahkanlah jangan mempersulit, dan berilah berita gembira jangan membuat mereka lari.

Adapun mereka yang ingkar bukan tanggung jawab kita, mereka akan berurusan dengan Allah  kelak di akhirat. “Kamu bukanlah orang yang berkuasa atas mereka. tetapi orang yang berpaling dan kafir, maka Allah akan mengazabnya dengan azab yang besar. Sesungguhnya kepada Kami-lah kembali mereka, kemudian sesungguhnya kewajiban Kami-lah menghisab mereka”.

Kesimpulan

Hikmah tarbawiyah yang dapat dipetik dari surah al-Ghasyiyah antara lain:

1. Peringatan sejak dini akan datangnya hari kiamat agar manusia mempersiapkan bekal yang penuh untuk menghadapinya, dan sebaik-baik bekal adalah taqwa.

2. Kenikmatan yang hakiki adalah kenikmatan akhirat, bersungguh-sungguhlah untuk meraih kenikmatan  tersebut dengan berlomba-lomba dalam kebajikan.

3. Kehidupan yang paling hina adalah kehidupan di neraka. Oleh karena itulah waspadalah terhadap maksiat.

4. Tadabbur terhadap ciptaan Allah adalah suatu keniscayaan karena dengannya kita akan dapat merasakan keagungan Allah.

5. Berdakwah adalah mengajak manusia kepada jalan Allah (Islam) dengan cara yang bijak  tanpa paksaan  dan tekanan.

6. Semua manusia akan bertanggung jawab dihadapan Allah pada hari kiamat terhadap amal perbuatannya selama di dunia.

Harap mencantumkan alamat website ini jika Anda menyalin tulisan ini.
Kirim email pada penulis ini | Lihat seluruh tulisan oleh

Satu Buah Tanggapan »

  1. keren banget deh,,,,,

Beri komentar