Totalitas Ibadah

Ditulis oleh • Mar 21st, 2019 • Kategori: Taujih
  • Sumo

Untuk menuju totalitas ibadah, kita dalam mengerjakannya seharusnya selalu mengirinya dengan hati yang Ikhlas, khusyu’, rasa cinta, rasa takut dan harap, muraqabah, tazkiyah, dzikrul maut, dan begitu seterusnya. Begitu juga ketika kita mengerjakan amal-amal ibadah yang wajib, sudah semestinya selalu diiringi dengan amal ibadah sunnah, selama ada sunnahnya.  Shalat wajib diiringi dengan shalat sunnah, Sedekah wajib diiringi dengan sedekah sunnah. Amal ibadah mahdhah seperti shalat, tilawah Al-Qur’an, sewajibnya disambung dengan amal ibadah umum, amal ibadah sosial seperti Birrul Walidain, silaturrahim, akhlak mulia, memberi nasehat, mendidik anak, mengajarkan ilmu yang bermanfaat dan seterusnya.

Semua amal ibadah seharusnya dimulai dengan dzikir dan juga dibarengi dengan dzikir. Kemudian dilanjutkan dengan dzikir yang bersambung sambung, terus menerus, sesuai sunnah Nabi. Dzikir dan do’a juga sepatutnya divariasikan. Bisa digabungkan antara semua bentuk dzikir yang sahih dengan membaca sebanyak mungkin do’a dari Al-Qur’an. Do’a dari hadits yang sahih, do’a dari para ulama terpercaya, do’a dari diri kita sendiri, dengan bahasa kita sendiri. Do’a do’a kita juga mesti dioptimalkan dengan menggabungkan do’a untuk diri sendiri, do’a untuk kedua orang tua, do’a untuk pasangan, do’a untuk keturunan. Do’a untuk semua saudara dan saudari dan keturunan mereka, keluarga terdekat, do’a untuk keluarga besar, do’a untuk para sahabat dan tetangga. Berdo’a untuk para guru kita yang muslim, do’a untuk semua muslim yang berjasa kepada kita, do’a untuk jamaah masjid, lembaga tempat kita berjuang, daerah, negeri dan bangsa kita, do’a untuk segenap ummat Islam baik yang hidup maupun yang telah wafat.

Do’a do’a ini juga menggabungkan antara memohon Syurga Firdaus, keselamatan dari api neraka, memohon ampunan, memohon agar amal kita diterima, memohon kekuatan iman, memohon taqwa dan akhlak mulia, memohon husnul khatimah, memohon kebahagiaan imani, memohon kesuksesan kesuksesan duniawi, memohon solusi atas problem problem yang sedang dihadapi, memohon hidayah, memohon persatuan Ummat Islam dalam kebenaran, memohon penguatan para pejuang di Jalan Allah, memohon kehancuran musuh musuh Islam dan seterusnya!

Amal ibadah kita sewajibnya selalu berdasarkan ilmu yang sahih, yang dalilnya kuat, bukan ikut ikutan semata. Sehingga pada saat kita beramal, kita melakukan penghayatan yang menyambungkan amal itu dengan hadits yang sahih, membayangkan pahalanya, fadhilahnya, membahagiakan diri dengannya. Pada saat kita beramal berdasarkan ajaran Rasulullah -Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam- semestinya kita menggelorakan cinta tulus dan kerinduan kepada beliau sebagai pemimpin dan teladan kita, orang yang paling kita cintai melebihi diri kita sendiri dan semua manusia. Penghayatan ini diiringi dengan shalawat yang berulang ulang sebanyak mungkin untuk Rasulullah -Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam- digabungkan dengan dzikir dzikir sunnah lainnya. Amal ibadah yang variatif dan terus menerus ini memerlukan perencanaan, pengawasan pelaksanaan, kerjasama dengan orang orang shaleh, kedisiplinan, introspeksi dan evaluasi, tindak lanjut dan peningkatan secara berkesinambungan, do’a dan saling mendo’akan hidayah dan istiqomah. (Ust. Muhammad)

Harap mencantumkan alamat website ini jika Anda menyalin tulisan ini.
Kirim email pada penulis ini | Lihat seluruh tulisan oleh

Beri komentar