Training For Trainer Tahfidz IKADI Sidoarjo

Ditulis oleh • Okt 28th, 2019 • Kategori: Kabar Ikadi
  • Sumo

Kemampuan menghafal Al Qur’an semakin lama semakin semakin dibutuhkan untuk siapa saja. Memahami hal ini, Ikatan Dai Indonesia (Ikadi) Sidoarjo menggelar pelatihan metode menghafal Al Qur’an Sahabat Tahfidz dari Griya Al Qur’an, Ahad (27/10). Pelatihan yang berjudul Training for Trainers Sahabat Tahfidz ini digelar di rumah makan Oshilova di Jalan Raya Ponti no 9 Wisma Sarinadi, Magersari Sidoarjo, diikuti sebanyak 20 dai dan daiyah IKADI Sidoarjo. Mereka nantinya diharapkan menjadi orang-orang yang mengawal berdirinya beberapa rumah tahfidz di Sidoarjo. Ahmad Faizin, Ketua Bidang Dakwah Ikadi Sidoarjo, mengatakan bahwa sebanyak 5 titik di kabupaten Sidoarjo yang akan dijadikan rumah tahfizd.

Lima titik itu ada di Kantor Ikadi Sidoarjo di Pondok Jati, Krembung, Vila Jasmin, Sukodono dan di Graha Insan Kamil. Ia kemudian mengatakan bahwa rumah-rumah tahfidz itu, nantinya akan menjadi embrio pondok pesantren tahfidzul Qur’an yang didirikan Ikadi Sidoarjo. “Karenanya, hari ini kami gelar pelatihan ini, untuk menyiapkan para peserta menjadi calon musrif dan musrifah,” ujarnya. Setelah mengikuti pelatihan metode Sahabat Tahfidz, ia mengaku sangat terbantu. “Metode menghafal Al Qur’an sangat banyak. Tapi setelah mengikuti pelatihan ini, saya merasa teknik ini sangat komprehensif. Ke depan kita berharap Lembaga ini bisa menjadi partner kita dalam pengembangan rumah tahfidz,” kata Faizin. Griya Al Qur’an, ia melanjutkan, adalah lembaga pengembangan Al Qur’an yang cukup berpengalaman dan berhasil melahirkan banyak penghafal. Terlebih, ujarnya, tagline ‘semudah menghafal surat pendek’, akan mengubah paradigma, yang awalnya merasa sulit, akan menjadi mudah menghafal Al Qur’an.
Dalam pelatihan ini, tim Sahabat Tahfidz Griya Al Qur’an menyampaikan materi tentang bagaimana metode “Sahabat”, metode yang didesain khusus dalam menghafal Al Qur’an. “Dengan metode ini, menghafalkan surat-surat panjang, akan terasa mudah, seperti kita menghafal surat-surat pendek dalam Al Qur’an,” kata Bairussalim, salah satu pemateri.
Selain itu, ia melanjutkan, peserta juga akan memahami berbagai model memori. “Peserta harus memahami berbagai memori, seperti memori sensorik, memori jangka pendek dan jangka panjang.
“Jika para penghafal Al Qur’an itu memahami bagaimana caranya menempatkan hafalannya di memori jangka Panjang, hafalannya akan sangat kuat dan bertahan dalam jangka panjang. Sehingga hafalan kita akan menempel kuat seperti hafalan surat Al Ikhlas kita,” katanya.

Harap mencantumkan alamat website ini jika Anda menyalin tulisan ini.
Kirim email pada penulis ini | Lihat seluruh tulisan oleh

Beri komentar