Warisan Ramadhan

Ditulis oleh • Jun 24th, 2019 • Kategori: Taujih
  • Sumo

Ramadhan memang telah meninggalkan kita. Namun dia telah meninggalkan nilai-nilai yang amat berharga dan jangan sampai kita tinggalkan. Ada empat peninggalan ramadhan yang harus selalu dijaga. Yang pertama adalah nilai keimanan. Keimanan yang semakin memenuhi hati mampu menyuplai semangat ke segenap bagian tubuh untuk membuktikannya dalam bentuk ketaatan. Hati hanya layak mengagungkan Allah dan menghinakan diri hanya pada-Nya. Hati hanya layak pasrah dan tunduk pada Allah saja.  Semangat yang begitu besar seakan tak peduli dengan rasa lapar karena seluruh shooimin hatinya sudah terpaut kuat dengan ridlo Allah ’Azza wa Jalla.

Keikhlasan telah menjadi ruh yang menggerakkan seluruh harapan dan berbagai aspek kehidupan tertuju hanya kepada Allah. Inilah peninggalan ramadhan yang sangat mahal karena seluruh sisi kehidupan tanpa keikhlasan hanya sia-sia tak bermakna dan tidak bernilai bahkan bisa membahayakan bagi hidup duniawi dan ukhrawi.

Yang kedua adalah nilai ibadah. Suasana di bulan ramadhan tampak jelas semarak ibadah sampai tidak kenal waktu. Gelombang semangat ibadah menyapu habis kemalasan yang selama ini menghambat aktivitas-aktivitas ibadah. Anda pasti merasakan dan melakoni hal tersebut, luar biasa!

Terasa sekali ibadah itu bukan semata-mata kewajiban yang memberatkan tapi kebutuhan primer bagi jiwa yang hidup agar sehat dan tetap hidup.  Hidup jadi hidup dengan ibadah. Manusia sungguhan diuukur sejauh mana kualitas dan kuantitas ibadahnya.

Ramadhan telah membuka tabir penghalang sehingga jelas apa sebenarnya ibadah itu. Ibadah itu bukanlah beban yang merepotkan tapi justru adanya ibadah itu untuk meringankan, agar hidup semakin mudah dan bahagia karena Yang Maha Hidup menganugrahkan pertolongan dan rahmat-Nya. Ibadah itu ringan dan simpel. Hebat, kaum Muslimin memerankan diri sebagai hamba yang  khusyu’, gembira melakukan berbagai bentuk ibadah.

Yang ketiga adalah nilai akhlak. Subhanallah! penampilan penuh pesona mewarnai para shoimin. Menahan emosi..menahan marah, tapi memunculkan kelembutan, kasihsayang sehingga di mana-mana terasa ketentraman. Di rumah tercipta kebahagiaan. Di kantor semakin kental rasa kebersamaan. Di sekolah semakin kuat rasa persahabatan dan di manapun hamba yang sedang berpuasa menjadi penyejuk hati bagi yang dekat dengannya.

Ramadhan saat yang  mengkondisi para shoim untuk tampil terbaik dengan sifat-sifat mulia, jauh dari dengki dan sikap sewenang-wenang.

Dan yang keempat adalah nilai sosial. Di bulan Ramadhan rasa ukhuwah, persaudaraan amat terasa eratnya. Sikap sombong, meremehkan orang lain menjadi barang yang tak ada lagi di pasaran. Yang ada adalah sikap saling menghargai, saling sapa, senyum dan kerjasama dalam berbuat kebaikan. Sikap individualistis menjadi barang yang tidak laku lagi di pasaran. Yang ada adalah semangat berbagi dan saling tolong menolang.

Semua menyadari kekuatan itu bukan pada semangat menonjolkan diri  tapi ada pada kebersamaan. Betapa senangnya berbuka bersama baik di rumah, di kantor atau di masjid.

Ramadhan, cuma satu bulan. Tiba-tiba ia sudah pergi. Memang kita tidak akan mampu menahan waktu tapi tahanlah semangat ramadhanmu yang luar biasa itu! (MSD)

Harap mencantumkan alamat website ini jika Anda menyalin tulisan ini.
Kirim email pada penulis ini | Lihat seluruh tulisan oleh

Beri komentar