Yang Mendustakan Agama

Ditulis oleh • Jan 27th, 2018 • Kategori: Mutiara Al-Qur'an
  • SumoMe

أَرَأَيْتَ الَّذِي يُكَذِّبُ بِالدِّينِ  Apakah engkau melihat orang yang mendustakan catatan kehidupan [agama]? Allah bertanya, ‘Tidakkah kau lihat, tidakkah kau saksikan orang yang menyangkal din yang benar, jalan hidup yang benar, cara ibadah yang benar, cara perilaku yang benar? Secara historis, banyak orang yang secara khusus teridentifikasi sekaitan dengan turunnya surat ini, termasuk Abu Sufyan. Mereka adalah orang-orang yang telah dimintai tolong oleh orang yang tersingkir dari masyarakat, atau anak yatim. Mereka adalah orang-orang kaya, yang sanggup memberikan pertolongan.

Surat ini diawali dengan kalimat tanya untuk menarik perhatian pembacaanya. Kemudian Allah  SWT sendiri yang menjawab pertanyaan tersebut satu per satu.  Tujuanya ialah agar pembaca benar-benar memperhatikan dan meresapi makna yang terkandung di dalamnya. Biasanya setiap ayat yang didahului dengan pertanyaan mengandung nilai yang sangat penting untuk segera dipahami dan diamalkan.

فَذَلِكَ الَّذِي يَدُعُّ الْيَتِيمَ  Itulah orang yang menghardik anak yatim. Ciri pertama orang yang mendustakan agama adalah Menghardik anak yatim, Dalam ayat diatas Allah menjawab secara lugas bahwa pendusta agama ialah orang yang tidak mau menyantuni anak yatim. Maksudnya adalah Mereka yang mengahardik anak yatim, menzalimi hak-haknya, dan tidak memberinya makan, tidak berbuat baik kepada mereka.

وَلَا يَحُضُّ عَلَى طَعَامِ الْمِسْكِينِ  Dan tidak mendorong memberi makan orang miskin. Ciri kedua adalah tidak mendorong orang lain memberi makan orang miskin. Yang dimaksud disini adalah orang-orang yang tidak memiliki kepedulian terhadap orang miskin, Perkataan “yahudldlu” di sini mempunyai asal arti menganjurkan dengan kuat, mengajak, menggemarkan, menganjurkan, menyuruh, mendorong diri sendiri (sebelum mendorong orang lain). Jadi, perkataan “yahudldlu” menunjuk pada adanya komitmen batin yang tinggi, yakni usaha mengangkat dan menolong nasib kaum miskin.  Berarti bahwa indikasi ketulusan dan kesejatian dalam beragama ialah adanya komitmen sosial yang tinggi dan mendalam kepada orang bersangkutan.

Ayat ke 3 ini tidak berbicara tentang kewajiban ”memberi makan” orang miskin, tapi berbicara ”menganjurkan memberi makan”.  Itu berarti mereka yang tidak memiliki kelebihan apapun dituntut pula untuk berperan sebagai ”penganjur pemberi makanan terhadap orang miskin” atau dengan kata lain, kalau tidak mampu secara langsung, minimal menganjurkan orang-orang yang mampu untuk memperhatikan nasib mereka. Karena itu peran ini sebenarnya bisa dilakukan oleh siapapun, selama mereka bisa merasakan penderitaan orang lain. Ini berarti pula mengundang setiap orang untuk ikut merasakan penderitaan dan kebutuhan orang lain, walaupun dia sendiri tidak mampu mengulurkan bantuan materiil kepada mereka.

Anak-anak yatim dan faqir miskin adalah bagian dari kelompok masyarakat yang sangat dicintai oleh Rasulullah SAW, bahkan dalam sebuah hadits dinyatakan Rasulullah sangat dekat dengan mereka. Perhatian mereka sangat diutamakan, sebagaimana tersebut dalam sebuah ayat :

          ويسئلونك عن اليتمى قل اصلاح لهم خير وان تخالطهـــم فاخوانكم

                Dan mereka bertanya kepadamu tentang anak yatim katakanlah ; Mengurus urusan mereka secara patut adalah baik, jika kamu menggauli mereka, maka mereka adalah saudaramu” ( Al-Baqarah: 220 ).

الَّذِينَ هُمْ يُرَاؤُون  Mereka yang ingin dilihat (melakukan perbuatan karena riya). Ciri ketiga orang yang mendustakan agama adalah riya dalam beramal shalih, Ayat ini Allah menegaskan bahwa ada sebagian orang yang melakukan amal kebaikan, termasuk shalat, untuk memperlihatkan amalnya kepada manusia. Tindakan seperti ini disebut riya’. Sikap riya’ adalah lawan dari ikhlas. Keikhlasan diperlukan dalam setiap amal kebaikan agar memperoleh pahala yang sempurna dari Allah.

Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dari hadits riwayat Jundub RA bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda: “Barangsiapa yang memperdengarkan amal baiknya maka Allah akan memperdengarkannya dan barangsiapa yang memperlihatkan amal baiknya maka Allah akan memperlihatkan amal baiknya di hadapan orang lain”.

Maknanya adalah barangsiapa yang senang memperdengarkan amal baiknya maka Allah akan menyingkapnya dan menjelaskan serta mambuka kedoknya di hadapan masyarakat bahwa orang tersebut tidak ikhlas dalam berbuat namun dia ingin memperdengarkan kebaikannya agar manusia memujinya atas ibadah yang telah dikerjakannya begitu pula dengan orang yang memperlihatkan amal baiknya maka Allah pun akan memperlihatkan amal tersebut di hadapan orang lain dan menyingkap kedoknya baik cepat atau lambat.(Al-Bukhari, no: 6499 dan Muslim, no: 2987

وَيَمْنَعُونَ الْمَاعُونَ  Dan selalu menghalangi orang lain berbuat baik. Ciri keempat adalah orang yang senantiasa menghalang-halangi yang lain berbuat baik. Paling tidak, yang dapat dilakukan seseorang secara lahiriah adalah bersedekah dari kekayaannya, memberikan sebagian harta bendanya kepada orang lain untuk membantu mereka. Pada waktu itu ayat ini merupakan perintah kepada setiap orang untuk berbagi. Ma’un dalam penggunaan bahasa Arab sehari-hari berarti ‘piring untuk menyajikan makanan’, dan dengan perluasan makna menjadi berarti setiap barang yang berguna.

Harap mencantumkan alamat website ini jika Anda menyalin tulisan ini.
Kirim email pada penulis ini | Lihat seluruh tulisan oleh

Beri komentar