Akhlaq Mulia

  • Sumo

Dari Abu Hurairah ra. ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ‘Mukmin yang paling baik imannya adalah yang paling baik akhlaknya.” (HR Abu Dawud, Tirmidzi, Ahmad, dan Darimi). Hadits ini menegaskan tentang pentingnya akhlaq dalam Islam. Selaras dengan hadits ini, Rasulullah saw bersabda: “Tiada sesuatu pun yang lebih memberatkan timbangan seorang hamba mukmin pada hari kiamat dari akhlaq yang mulia.” (HR. At-Timidzi). Adapun akhlaq dalam Islam sangat luas cakupannya, mencakup akhlaq terhadap orang lain dan akhlaq terhadap lingkungan binatang, tumbuh-tumbuhan, dan alam pada umumnya.

Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya Allah swt telah mewajibkan berbuat ihsan dalam segala hal. Maka jika kalian membunuh (musuh dalam peperangan) hendaknya kalian lakukan dengan sebaik-baiknya, dan jika kalian menyembelih binatang, hendaknya kalian melakukannya dengan sebaik-baiknya. Hendaklah setiap orang dari kalian menajamkan pisau dan membuat nyaman hewan sembelihannya.” (HR. Muslim)

Demikian pula jika kita menyembelih hewan, hendaknya kita menajamkan pisau agar tidak menyakitinya. Seperti inilah Islam mengajarkan akhlaq yang baik. Tidak hanya kepada sesama manusia, tetapi juga kepada makhluk Allah yang lain.

Pentingnya Akhlaq Dalam Islam

Akhlaq memiliki kedudukan yang sangat penting dalam Islam. Setidak-tidaknya ada lima alasan untuk itu:

Alasan pertama, akhlaq merupakan ajaran Islam yang bersama aqidah disyariatkan terlebih dahulu pada awal-awal masa kerasulan. Ini menunjukkan betapa penting kedudukan akhlaq dalam Islam, hingga ia disejajarkan dengan aqidah. Dan kebanyakan ayat-ayat yang turun pada fase-fase awal ini, menganjurkan agar seorang muslim gemar menolong orang-orang lemah, peduli terhadap sesama, dan di sisi lain banyak mencela orang-orang yang suka menindas kaum lemah dan tidak memiliki kepedulian sosial (QS. Al-Baqarah: 83).

Alasan kedua, akhlaq langsung dikaitkan dengan kualitas keislaman dan keimanan seseorang. Hal ini tercermin dalam banyak hadits, antara lain:

 “Seorang muslim adalah seseorang yang muslim lainnya selamat dari (kejahatan) lidah dan tangannya.” (HR. Al-Bukhari)

 “Demi Allah, tidak beriman. Demi Allah, tidak beriman. Demi Allah, tidak beriman.” Para sahabat bertanya, “Siapa wahai rasulullah?” beliau menjawab, “Seseorang yang tetangganya tidak merasa aman dari kejahatannya.” (HR. Al-Bukhari)

 “Barangsiapa beriman kepada Allah swt dan hari akhir, hendaknya ia berkata-kata yang baik atau diam. Barangsiapa beriman kepada Allah swt dan hari akhir hendaknya ia memuliakan tetangganya. Dan barangsiapa beriman kepada Allah swt dan hari akhir, hendaknya ia memuliakan tamunya.”

Semua hadits di atas, juga masih banyak hadits lainnya, menyatakan bahwa seseorang baru disebut muslim dan orang yang beriman, apabila memiliki bentuk-bentuk akhlaq terpuji, serta jauh dari bentuk-bentuk akhlaq tercela.

Alasan ketiga, akhlaq yang baik bisa melebihi ibadah. Sebaliknya akhlaq yang buruk bisa menghapus pahala Ibadah. Dalam banyak hadits disebutkan, di antaranya hadits-hadits berikut ini:

 “Ada seorang pelacur melihat anjing pada suatu hari yang sangat panas, anjing itu mengelilingi sumur sambil menjulurkan lidah karena kehausan. Lalu dia melepas sepatunya, menuruni sumur itu, lalu memberi minum anjing tersebut, maka Allah swt Mengampuninya.” (HR. Muslim)

 “Maukah kalian saya tunjukkan sebuah amal yang lebih baik daripada puasa, shalat, dan sadaqah?” para sahabat menjawab, “Tentu, wahai Rasulullah.” Beliau bersabda, “Yaitu memperbaiki hubungan keluarga, karena rusaknya hubungan keluarga ibarat gunting yang memotong agama.” (HR. Abu Dawud)

Diceritakan kepada Rasulullah saw ada seorang wanita yang gemar shalat malam, berpuasa di siang hari, tetapi lidahnya sangat pedas suka menyakiti tetangganya. Rasul bersabda, “Tiada kebaikan padanya, dia berada dalam neraka.” Juga diceritakan kepada beliau, ada seorang wanita yang hanya shalat wajib, berpuasa hanya pada bulan ramadan, bersedekah hanya dengan susu kering, ia tidak memiliki amal apapun kecuali itu selain ia tidak menyakiti seorang pun. Rasul bersabda, “Dia berada dalam surga.” (HR. Al-Hakim)

Alasan keempat, akhlaq yang buruk adalah cerminan dari iman yang lemah dan hati yang kotor. Sebaliknya hati yang bersih dan penuh dengan keimanan, akan mengarahkan pemiliknya untuk selalu berakhlaq baik. Jadi akhlaq adalah sebuah indikator. Dalilnya adalah hadits-hadits yang baru saja kita lewati.

Sedangkan alasan kelima, akhlaq yang buruk merupakan kezhaliman kepada orang lain, yang akan menghabiskan amal baik. Rasulullah saw bersabda: “Tahukah kalian siapakah orang bangkrut itu?” Para sahabat menjawab, “Dia adalah orang yang uang dan kekayaannya telah habis.” Beliau menjawab, “Orang bangkrut dari umatku, adalah seseorang yang datang pada hari kiamat dengan pahala shalat, puasa, dan zakat. Tetapi pada saat yang sama ia gemar mencaci orang lain, menuduh orang lain berzina, memakan harta orang lain, menumpahkan darah orang lain, dan memukuli orang lain, maka pahala kebaikannya ia berikan kepada orang ini dan orang itu yang sewaktu di dunia ia zalimi. Ketika pahala kebaikannya telah habis, dosa orang-orang yang dizaliminya ditimpakan kepada dirinya, sehingga terlemparlah ia ke dalam neraka.” (HR. Muslim)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.