Antara Dunia Dan Akhirat

  • Sumo

Setiap orang Islam pasti meyakini adanya kehidupan akhirat yang kekal. Karena Allah subhanahu wata’ala sudah menjelaskan hal itu melalui firman-Nya dalam Al Quran dan juga banyak dijelaskan dalam hadist-hadits Nabi. Tidak boleh ada keraguan sedikitpun dalam hati seorang Muslim mengenai hal ini. Alquran telah memberikan gambaran yang sangat jelas tentang kehidupan dunia. Allah swt berfirman:

Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu. (Q.s. Al-Hadid: 20).

Kehidupan dunia dengan segala gemerlapnya disebut oleh Allah sebagai permainan yang melalaikan. Orang yang bermain akan merasa senang dan bergembira. Tetapi setiap permainan ada akhirnya. Akan ada momen dimana permainan itu selesai dan kita kepada kondisi sebelumnya. Itulah saat dimana dunia ini binasa seperti tanaman yang menguning hingga mengering dan kemudian hancur seperti tidak pernah ada. Al-Baidhawi dalam tafsirnya menjelaskan: “Setelah Allah menyebutkan keadaan orang-orang yang beriman dan orang-orang yang kafir di akhirat, Ia menjelaskan mengenai betapa hina dan tidak berharganya segala urusan keduniawian karena tidak dapat membawa manusia menuju keberuntungan di akhirat. Allah menjelaskan bahwa dunia hanyalah khayalan yang tidak banyak manfaatnya dan akan segera binasa. Ia seperti permaian yang membuat manusia lelah sebagaimana anak-anak yang bermain hingga merasa kelelahan, tanpa mendapatkan manfaat apapun.” (Tafsir Al-Baidhawi:  5/270)

Karena dunia hanya sementara, maka seharusnya seorang Mukmin tidak tertipu dengannya seperti orang-orang kafir. Hal ini Allah siggung dalam Surah Al-A’la ayat 16-17,

بَلْ تُؤْثِرُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا (16) وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَى (17)

Tetapi kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan duniawi, Sedangkan kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal. (Q.s. Al-A’la:16- 17)

Nabi juga telah mengingatkan tentang bahaya salah orientasi kehidupan dalam suatu  hadis yang diriwayatkan oleh Abu Said al-Khudri R.a,

إِنَّ الدُّنْيَا حُلْوَةٌ خَضِرَةٌ وَإِنَّ اللَّهَ مُسْتَخْلِفُكُمْ فِيهَا فَيَنْظُرُ كَيْفَ تَعْمَلُونَ فَاتَّقُوا الدُّنْيَا وَاتَّقُوا النِّسَاءَ، فَإِنَّ أَوَّلَ فِتْنَةِ بَنِي إِسْرَائِيلَ كَانَتْ فِي النِّسَاءِ

Sesungguhnya dunia itu manis dan hijau, dan sesungguhnya Allah -‘Azza wa Jalla- menjadikan kalian khalifah untuk mengelola apa yang ada di dalamnya, lalu Dia akan melihat bagaimana kalian berbuat. Oleh karena itu, berhati-hatilah kalian terhadap dunia dan berhati-hatilah terhadap wanita, karena sesungguhnya fitnah pertama yang terjadi pada Bani Israel adalah karena wanita. (HR. Muslim)

Persepsi orang terhadap kehidupan dunia dan akhirat akan sangat mempengaruhi orienasi hidupnya. Tidak sedikit orang yang dalam kehidupannya hanya mengejar dunia dan sama sekali tidak memikirkan akhirat. Ada juga yang hanya menjadikan akhirat seperti bumbu pelengkap. Ia tidak menjadikannya sebagai prioritas aktifitas kesehariannya. Tipe orang seperti ini kelak akan tercengang, kaget dan menyesal tiada guna seperti yang disebutkan dalam Alquran,

وَأَنْفِقُوا مِنْ مَا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوْلَا أَخَّرْتَنِي إِلَىٰ أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُنْ مِنَ الصَّالِحِينَ

Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata: “Ya Rabb-ku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang salih? (QS. Al-Munafiqun: 10)

Sebaliknya, jika seseorang menyadari dan meyakini bahwa kehidupan yang sebenarnya adalah akhirat yang kekal, maka seluruh kehidupannya akan diorientasikan untuknya. Ia selalu berbuat semaksimal mungkin menyiapkan bekal menuju akhirat. Ia tidak pernah merasa cukup melakukan kebaikan, karena merasa bekalnya masih sangat sedikit sehingga ia harus terus menambahnya dengan melakukan lebih banyak lagi amal salih. Ia juga selalu belajar dan mencontoh orang-orang yang lebih baik dalam menyiapkan diri untuk akhirat.

Dan dalam konteks ini, para sahabat Rasulullah adalah contoh terbaik orang-orang yang hidupnya berorientasi akhirat dan berusaha mencontoh Rasulullah dalam menjalani kehidupan dengan beribadah dan beramal salih.

Dari Anas radhiyallahu anhu ia berkata, “Ada tiga orang mendatangi rumah istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk bertanya tentang ibadah beliau. Lalu, setelah mereka diberitahukan (tentang ibadah Rasululah), mereka menganggap ibadah beliau terlalu sedikit. Mereka berkata, “Kita ini tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam! Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah diampuni semua dosa-dosanya, yang lalu maupun yang akan datang.” Salah seorang dari mereka mengatakan, “Adapun saya, maka saya akan shalat malam selama-lamanya.”  Lalu orang yang lainnya menimpali, “Adapun saya, maka sungguh saya akan puasa terus menerus tanpa berbuka.” Kemudian yang lainnya lagi berkata, “Sedangkan saya akan menjauhi wanita, saya tidak akan menikah selamanya.” Ketika Rasulullah mendengar perkataan mereka, beliaupun mendatangi mereka, seraya bersabda, “Benarkah kalian yang telah berkata begini dan begitu? Demi Allah! Sesungguhnya aku adalah orang yang paling takut kepada Allah dan paling takwa kepada-Nya di antara kalian. Akan tetapi aku berpuasa dan aku juga berbuka (tidak puasa), aku shalat (malam) dan aku juga tidur, dan aku juga menikahi wanita. Maka, barangsiapa yang tidak menyukai sunnahku, maka ia tidak termasuk golongan.” (Muttafaq Alaih)

Para shahabat Nabi tersebut merasa amalnya sedikit dan tidak cukup untuk menjadi bekal ke akhirat, maka mereka kemudian berusaha mengejar ketertinggalannya dalam aspek spriritual. Bahkan mereka akhirnya jatuh kepada berlebih-lebihan dalam beribadah. Maka, Rasulullah kemudian meluruskan kesalahan mereka itu karena hal itu tidak dibenarkan dalam Islam. ™

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.