Apakah Air Mani Najis

  • Sumo

Pertanyaan: apakah air mani yang diakibatkan Onani/Mastrubasi itu najis? Soalnya saya lihat di beberapa artikel kalau air mani itu suci katanya. Lalu kalau misal saya onani kemudian sprei kasur saya basah kena air mani tersebut apakah menjadi najis sprei kasur saya? Dan kalau misal celana saya basah karena kena air mani akibat onani kemudian saya duduk di sofa dan ada barang (seperti remote tv) tidak sengaja jatuh dan menyentuh celana saya yang terkena mani akibat onani apakah benda itu menjadi najis Ustadz? Dan apakah kalau ada orang yang menyetuh barang tersebut, orang tersebut menjadi terkena najis juga?

Jawaban: Ada perbedaan pendapat antara Ulama perihal suci atau najisnya mani, Dalam madzhab Syafi’i bahwa mani itu suci, Dalilnya adalah apa yang diriwayatkan oleh Imam Muslim bahwasanya ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata:

وَلَقَدْ رَأَيْتُنِى أَفْرُكُهُ مِنْ ثَوْبِ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَرْكًا فَيُصَلِّى فِيهِ

Sungguh aku dahulu menggosoknya (mengeriknya) dari baju Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian beliau shalat dengannya.” (HR. Muslim)

Kalau mani itu najis maka tidak cukup hanya menggosoknya, akan tetapi harus dengan membersihkan semuanya dengan air. Berkata Syeikhul Islam rahimahullahu:

الأصل وجوب تطهير الثياب من الأنجاس قليلها وكثيرها فإذا ثبت جواز حمل قليله في الصلاة ثبت ذلك في كثيره فإن القياس لا يفرق بينهما

Artinya: “Pada asalnya wajib membersihkan pakaian dari semua najis sedikitnya dan banyaknya, maka apabila diperbolehkan yang sedikit di dalam shalat maka diperbolehkan juga banyaknya, karena qiyas tidak membedakan antara keduanya”. (Majmu Al-Fatawa 21/589)

Namun yang lebih utama adalah membersihkan air mani dengan air karena meski suci mani adalah sesuatu yang menjijikkan, seperti halnya dahak. Sebagaimana ucapan Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma:

إِنَّمَا هُوَ بِمَنْزِلَةِ النُّخَام وَالْبُزَاقِ أَمِطْهُ عَنْكَ بِإِذْخِرَةٍ .

Artinya: “Dia (mani) itu seperti dahak dan ludah, hilangkanlah dengan idzkhirah (sejenis rumput yang harum baunya).” (Dikeluarkan oleh Ad-Daruquthny di dalam As-Sunan 1/225 no:448 , cet. Mu’assasatur Risalah)

Oleh karena itu terkadang ‘Aisyah radhiyallahu ‘anhaa membersihkan air mani tersebut dengan air, dari Sulaiman bin Yasaar rahimahullah beliau berkata:

سألت عائشة عن المني يصيب الثوب فقالت كنت أغسله من ثوب رسول الله صلى الله عليه و سلم فيخرج إلى الصلاة وأثر الغسل في ثوبه بقع الماء

Artinya: “Aku bertanya kepada ‘Aisyah tentang air mani yang mengenai pakaian, maka beliau menjawab: Dahulu aku mencucinya dari pakaian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, kemudian beliau pergi shalat dan bekas cucian di pakaiannya berupa noda air”. (Muttafaqun ‘alaihi)

Berkata Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma:

إذا احتلمت في ثوبك فأمطه بإذخرة أو خرقة ولا تغسله إن شئت إلا أن تقذر أو تكره أن يرى في ثوبك

Apabila kamu mimpi basah dan air mani mengenai pakaianmu maka usaplah dengan idzkhirah (sejenis rumput) atau secarik kain dan jangan dicuci kalau kamu mau, kecuali kalau kamu merasa jijik dan kamu tidak suka kalau hal itu terlihat pada pakaianmu” (Dikeluarkan oleh Abdurrazzaq dalam Al-Mushannaf 1/368 no: 1438)

Berkata At-Tirmidzy rahimahullahu:

وَحَدِيثُ عَائِشَةَ أَنَّهَا غَسَلَتْ مَنِيًّا مِنْ ثَوْبِ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- – لَيْسَ بِمُخَالِفٍ لِحَدِيثِ الْفَرْكِ لأَنَّهُ وَإِنْ كَانَ الْفَرْكُ يُجْزِئُ فَقَدْ يُسْتَحَبُّ لِلرَّجُلِ أَنْ لاَ يُرَى عَلَى ثَوْبِهِ أَثَرُهُ

Artinya: “Dan hadist ‘Aisyah dimana beliau mencuci mani dari pakaian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak bertentangan dengan hadist yang menyatakan bahwa ‘Aisyah menggosok mani tersebut, karena meskipun bila digosok sudah mencukupi akan tetapi dianjurkan untuk menghilangkan bekasnya” (Sunan At-Tirmidzy 1/201-202 )

Berkata Syeikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullahu:

أما المني فإنه طاهر لا يلزم غسل ما أصابه إلا على سبيل إزالة الأثر فقط

“Adapun mani maka dia suci, tidak wajib mencuci apa yang dikenainya kecuali hanya sekedar menghilangkan bekas saja” (Majmu’ Fatawa wa Rasail Syeikh ‘Utsaimin 11/222 no:169 )

Demikian, semoga Allah berkenan untuk memberikan kemudahan, taufiq dan ridho-Nya. Wallahu a’lam bishshawaab– Agung Cahyadi, MA

Sumber: konsultasisyariah.net

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.