Menemukan Lailatul Qadar

  • Sumo

Hari ini kita telah memasuki puasa yang keduapuluhsatu. Sebuah riwayat menyebutkan bahwa pada sepuluh hari yang terakhir Rasulullah mengencangkan ikat pinggang beliau dan menjauhi istri-istri beliau untuk meningkatkan intensitas ibadah kepada Allah. Selama sepuluh hari yang terakhir tersebut, Rasulullah tenggelam dalam kesibukan beribadah di masjid, yang sering disebut sebagai i’tikaf.

Pada sepuluh hari yang terakhir pulalah besar kemungkinan Lailatul Qadar akan datang, sebagaimana diberitakan oleh Rasulullah. Lailatul Qadar adalah malam yang lebih baik nilainya daripada seribu bulan. Pada malam itu, segenap malaikat yang mulia turun ke bumi mulai dari awal malam sampai dengan terbitnya fajar. Itulah malam yang diberkati.

Karena keutamaannya yang sedemikian besar itulah, semua orang sangat bersemangat dalam memburunya. Ada yang memburunya pada satu malam saja, biasanya malam dua puluh tujuh, dengan keyakinan atau setidak-tidaknya harapan besar bahwa Lailatul Qadar jatuh pada malam tersebut. Ada juga yang memburunya pada malam-malam ganjil sepanjang sepuluh hari yang terakhir. Sementara yang lainnya lagi memburunya pada keseluruhan malam-malam sepuluh hari yang terakhir, baik yang ganjil ataupun yang genap.

Anggaplah perburuan ini kita umpamakan seperti memburu satu ikan pilihan. Ikan tersebut adalah Lailatul Qadar. Kolam tempat kita memburu ikan tersebut adalah keseluruhan malam-malam bulan Ramadhan. Dan berbagai bentuk ibadah yang kita lakukan bisa kita umpamakan sebagai jaringnya. Nah, kita akan menangkap ikan pilihan tersebut dengan jaring yang kita miliki. Bagaimanakah caranya agar kita bisa menangkap ikan tersebut?

Logika sederhananya, makin besar ukuran jaring yang kita pakai berarti makin besar peluang kita untuk bisa menangkap ikan tersebut. Dan menurut ilmu statistik, peluang kita seratus persen alias pasti dapat jika jaring yang kita pakai sama luasnya dengan luas kolam. Ini artinya kalau kita ingin memastikan diri mendapatkan Lailatul Qadar maka tidak bisa tidak kita harus memburunya pada keseluruhan malam-malam bulan Ramadhan. Mulai dari tanggal satu Ramadhan sampai dengan akhir Ramadhan. Sederhana bukan? Ya, memang sederhana teorinya akan tetapi seringkali tidak mudah prakteknya. Godaannya selalu saja ada.

Rasulullah dahulu seringkali ditanya oleh para sahabat tentang kapan jatuhnya Lailatul Qadar. Akan tetapi Rasulullah tidak pernah memberikan kepastian kapan Lailatul Qadar akan datang. Beliau hanya memberikan kemungkinan-kemungkinan. Dari sini kita bisa menangkap sebuah hikmah yang agung, yakni beliau menginginkan agar kita benar-benar memaksimalkan setiap malam bulan Ramadhan, tidak hanya malam-malam tertentu. Andai saja beliau memastikan tanggal berapa Lailatul Qadar akan datang, pastilah umat beliau hanya akan beribadah dengan giat pada malam itu saja. Mereka pasti berpikir kalau sudah mendapatkan malam itu pastilah sudah setara dengan giat beribadah pada keseluruhan malam bulan Ramadhan, bahkan lebih.

Yang pasti, sekarang kita tinggal memiliki sepuluh malam bulan Ramadhan. Biarkanlah tanggal satu sampai dua puluh Ramadhan lewat meninggalkan kita. Sekarang mari kita tatap yang ada di depan kita: sepuluh hari yang terakhir. Mari kita optimalkan sepuluh yang tersisa ini. Tiada lagi kata maaf dan berbagai bentuk apologi. Kita harus benar-benar fight. Kencangkan ikat pinggang. Tambatkan diri dengan masjid, beri’tikaf. Dekatkan diri kepada Allah, bermesraan dengan-Nya, pada sepuluh hari yang amat menentukan ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.