Berkat Kaum Dhuafa

  • Sumo

biarawanRasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda (yang artinya): “Apakah kalian (layak) ditolong (dimenangkan) dan diberi rezeki, kecuali karena adanya orang-orang lemah diantara kalian?” (HR. Al-Bukhari). Dan di dalam riwayat lain dengan redaksi: “Sungguh kalian  dimenangkan (ditolong) dan diberi rezeki, adalah berkat orang-orang lemah dari kalian” (HR. Ahmad). Lalu dalam riwayat lain lagi, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda (yang artinya): “Sungguh Allah menolong (memenangkan) ummat ini, adalah karena orang-orang lemahnya, berkat doa mereka, shalat mereka, dan keikhlasan mereka” (HR. An-Nasai).

Begitu pula beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda (yang artinya): “Apakah kalian tidak ingin aku beri tahu tentang sosok ahli Surga? (ialah) setiap orang lemah yang biasa direndahkan (tentu saja yang beriman), padahal (berkat kemuliaan derajatnya disisi Allah) seandainya ia bersumpah atas nama Allah, niscaya Dia akan mengabulkan isi sumpahnya. Lalu tidak inginkah kalian aku beri kabar tentang tipe ahli Neraka? (dialah) setiap orang yang kasar, merasa hebat lagi sombong” (HR. Muttafaq ‘alaih).

Ya, kaum duafa, orang-orang lemah dan kalangan tak berdaya dalam hidup ini memang umumnya tidak diperhitungkan keberadaannya, tidak diakui peran dan kontribusinya, bahkan mereka lebih sering direndahkan, dilecehkan, dihinakan, dan dijadikan sasaran korban beragam kedzaliman serta kesewenang-wenangan. Itulah sikap standar yang biasa berlaku di dalam kehidupan selama ini. Padahal, bila mengacu kepada standar dan parameter ilahi, kondisi sebenarnya justru bisa kebalikannya sama sekali. Dimana mereka kaum lemah dan duafalah sejatinya yang lebih mulia dan lebih agung dalam timbangan Allah, tentu saja dengan syarat keimanan. Sehingga, karenanya, justru merekalah yang boleh jadi paling besar berandil dan berkontribusi sebagai “pengundang” turunnya beragam rahmat kebaikan, karunia pertolongan, barakah kemenangan, dan berbagai rahmat, karunia dan barakah lain dari Allah Ta’ala. Karena memang merekalah yang paling pantas, paling layak dan paling berhak untuk Allah kasihani, rahmati dan berkahi. Namun manusia pada umumnya, begitu pula kaum muslimin pada khususnya, lebih sering melalaikan atau bahkan sama sekali tidak menyadari fakta ilahi itu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.