Berperilaku Yang Terbaik

  • Sumo

Islam menghendaki agar umatnya tampil menjadi yang terbaik. Dalam hadits nabi Dari sahabat Abu Ya’la Syaddad bin Aus ra, dari Rasulullah saw, beliau bersabda, “Sesungguhnya Allah mewajibkan sikap ihsan dalam segala hal. Maka jika kalian hendak membunuh, lakukanlah dengan ihsan. Dan jika mau menyembelih binatang lakukanlah dengan ihsan. Tajamkanlah pisau hunusmu dan tenangkan binatang sembelihanmu.” (HR. Muslim)

Hadits Nabi saw yang sedang kita kaji ini adalah salah satu prinsip penting yang diajarkan oleh Islam, yakni hendaknya kita berusaha hidup secara ihsan, yang bermakna bekerja secara maksimal dan profesional dalam aktivitas kehidupan. Seorang muslim wajib berusaha menjadikan pesan hadits ini sebagai prinsip dan orientasi hidupnya.

Dalam hadits ini Nabi saw bersabda “Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala mewajibkan sikap ihsan dalam segala hal”. Ihsan secara bahasa berarti berbuat baik. Adapun secara istilah ihsan memiliki makna sebagaimana yang dijelaskan dalam hadits lain :  أن تعبد الله كأنك تراه فإن لم تكن تراه فإنه يراك (رواه مسلم)  (bahwa engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya, dan jika engkau tidak melihat-Nya (karena Allah memang tidak bisa dilihat dengan mata) maka yakinlah bahwa Allah melihatmu (HR. Muslim). Berdasarkan hadits ini, ihsan mengandung dua unsur utama. Pertama, kesadaran untuk selalu menghadirkan suasana dzikrullah (ingat kepada Allah) dalam kehidupan kita, seolah-olah kita melihat-Nya. Kedua, kesadaran bahwa Allah dimanapun dan kapanpun selalu melihat dan menyaksikan perbuatan kita.

Kedua kesadaran ini jika dipadukan akan membentuk kesadaran maksimal serta menghasilakn output yang optimal. Dalam tataran riil, ihsan dapat mendorong lahirnya kedewasaan sikap dalam bentuk kedisiplinan, efektivitas, produktivitas dan profesionalisme. Sikap dan perilaku seperti ini menjadi kebutuhan setiap orang, apalagi dalam tatanan kehidupan sosial yang sangat kompleks dimana segala hal semestinya diatur dengan manajemen yang rapi, terencana dan terukur sehingga menghasilkan efek kemanfaatan yang lebih besar.

Lebih jelas lagi dalam konteks ihsan ini, Nabi saw memberi contoh : jika seseorang hendak membunuh atau menyembelih binatang, maka ia harus melakukannya dengan ihsan. Pisau potongnya harus dihunus dengan setajam-tajamnya dan binatang yang akan disembelih harus dirawat dengan baik lalu ditelentangkan saat disembelih. Ini tidak lain agar kita bisa menghormati binatang dan pada saat disembelih ia tidak merasakan sakitnya hunusan pisau yang menebas lehernya.

Nilai dan anjuran Islam dalam hal-hal yang senada dengan ihsan sangatlah banyak namun sekali lagi belum sepenuhnya disadari dan dipraktekkan dalam tatanan kehidupan luas, baik oleh pribadi ataupun masyarakat. Hanya orang-orang tertentu saja yang sudah berazam (berkomitmen kuat) untuk menata kehidupannya menjadi lebih baik dengan semangat pengabdian dan menjalankan syarit Islam. Semoga kita tergolong diantara mereka. Amin.

Diantara riwayat yang mengandung pesan senada berbunyi: “Sebaik-baik manusia adalah orang yang memiliki kontribusi terbesar bagi orang lain”. Dalam riwayat lain: “Diantara tanda kebaikan keislaman seseorang adalah jika ia mampu menghindari hal-hal yang tidak bermanfaat baginya”. Dan dalam riwayat yang lain lagi: “Allah sangat senang jika seseorang mengerjakan sesuatu dengan itqan (profesional)”. Semua pesan ini mendorong kita untuk menjadi manusia paripurna generasi khairu ummah.

Dari sekelumit penjelasan diatas dapatlah kita ambil beberapa pesan penting antara lain sebagai berikut.

Pertama, Islam mensyariatkan dan mewajibkan kita untuk bersikap ihsan dalam segala hal, seperti perintah Allah dalam QS An-Nahl (16): 90 dan QS Al-Baqarah (2): 195, karena ihsan akan melahirkan kebaikan dan kebajikan, menebarkan nuansa keindahan dan kedamaian serta membuka keberkahan dan keridhaan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Kedua, ada tiga macam ihsan yang harus kita wujudkan dalam kehidupan. 1) ihsan an-niyyat, yakni ihsan dalam niat dan motivasi hidup, 2) ihsan al-ghayat, yakni ihsan dalam tujuan yaitu semata-mata untuk beribadah kepada Allah, 3. ihsan al-’amal, yakni ihsan dalam cara kita bekerja dan menyelesaikan persoalan.

Ketiga, kemenangan, kesuksesan dan kebahagiaan pada dasarnya tidak bisa datang dengan tiba-tiba. Kita harus mewujudkan tiga macam ihsan di atas, menata niat dan motivasi hidup, membangun cita-cita dan harapan, merencanakan kebaikan dan kemenangan dan berusaha merealisasikannya secara optimal. Dengan mewujudkan sistem yang mendukung, lingkungan dan budaya yang kondusif serta kerja keras yang tak kenal rasa lelah, insyaallah ini merupakan pilihan yang tepat untuk mengembalikan jati diri kita sebagai khairu ummah, sehingga kita dengan penuh ’izzah akan bisa berseru  “Isyhaduu biannaa muslimuun (Saksikanlah bahwa Kami adalah orang-orang muslim sejati)”.

Keempat, setidaknya ada enam kata kunci untuk meraih kesuksesan: 1) niat : menata motivasi dan niat dengan penuh keikhlasan karena Allah Subhanahu wa Ta’ala semata, 2) ilmu : menuntut ilmu dan pengalaman sebanyak-banyaknya, 3) jiddiyah : berusaha dan bekerja secara maksimal dan profesional, 4) istiqamah : menjaga semangat dan komitmen diri, 5) doa : memperbanyak doa kepada Allah karena doa adalah senjata orang beriman, 6) tawakkal : menyerahkan sepenuhnya hasil usaha kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala Yang Maha Agung. Kita wajih berusaha tetapi Allah-lah yang menentukan. Keenam langkah ini insyaallah akan membawa kita pada kemenangan dan kesuksesan yang barakah. Tugas kita masih berat. Langkah kita penuh liku-liku dan cobaan. Jalan itu masih panjang. Namun optimisme dan cita-cita tidak boleh mati. Harapan itu masih ada dan akan selalu ada, insya Allah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.