Cinta Nabi Pada Umatnya

Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seseorang berseru mengucapkan salam. “Bolehkah saya masuk?” tanyanya. Tapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk, “Maaf, ayahku sedang demam,” kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu. Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya pada Fatimah, “Siapakah itu wahai anakku?” “Tak tahulah ayahku, orang sepertinya baru sekali ini aku melihatnya,” tutur Fatimah lembut. Lanjut membaca

Kecintaan Yang Mendalam

Sesaat setelah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalla wafa, waktu shalat tiba. Bilal berdiri untuk mengumandangkan azan, sementara jasad Rasulullah saw masih terbungkus kain kafan dan belum dikebumikan. Saat Bilal sampai pada kalimat, “Asyhadu anna Muhammadan Rosuulullaah (Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah)”, tiba-tiba suaranya terhenti. Ia tidak sanggup mengangkat suaranya lagi. Kaum muslimin yang hadir di sana tak kuasa menahan tangis, maka meledaklah suara isak tangis yang membuat suasana semakin mengharu biru. Lanjut membaca

Ketika Hati Terpaut Islam

Ketika dia mendengar kabar tentang kerasulan Nabi, dia mengutus saudara laki-lakinya menyelidiki lebih lanjut mengenai Nabi. Setelah puas menyelidiki, saudaranya pun melaporkan kepada Abu Dzar bahwa Nabi Muhammad itu seorang yang sopan, santun, dan baik budi pekertinya. Ayat-ayat yang ia bacakan kepada manusia bukanlah puisi dan bukan pula kata-kata ahli syair. Laporan itu masih belum memuaskan hati Abu Dzar. Akhirnya ia pun berangkat sendiri ke Makkah untuk mencari tahu tentang Muhammad. Lanjut membaca

Kekuatan Keikhlasan

Dikisahkan ada seorang laki-laki ahli ibadah di zaman dahulu kala. Ketika ia mengetahui bahwa di desanya atau desa sebelah terdapat sebuah pohon yang dikeramatkan dan disembah oleh warga, iapun bergegas untuk menebang pohon tersebut, dengan niat ikhlas karena Allah. Di terngah jalan menuju pohon tersebut, ia dihadang oleh syetan/jin yang menyamar sebagai seorang laki-laki. Syetan itu berusaha menghalangi si ahli ibadah. Lanjut membaca

Ka’b Bin Malik

Abdullah bin Ka’b bin Malik r.a. berkata, “Aku mendengar Ka’b bin Malik r.a. menceritakan kisahnya ketika tidak mengikuti Perang Tabuk bersama Rasulullah. Ka’b berkata, ‘Aku tidak pernah absen dari peperangan bersama Rasulullah SAW., kecuali pada Perang Tabuk. Aku juga absen dari Perang Badar, namun Rasulullah tidak pernah mencela orang yang tidak mengikutinya, karena saat itu, Rasulullah saw. keluar bersama kaum muslimin untuk menghadang kafilah dagang Quraisy. Lanjut membaca

Terkabulnya Doa

Abu Abdurrahman, Abdullah bin Umar bin Khaththab r.a. berkata, “Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda, ‘ada tiga orang dari kaum sebelum kalian berjalan-jalan hingga mereka bermalam di sebuah gua. (Tiba-tiba), sebuah batu besar jatuh dari gunung, dan menutup pintu gua. Mereka berkata, “Tidak akan ada yang mampu menyelamatkan kita dari batu besar ini, kecuali jika kita berdoa kepada Allah dengan amal baik kita.” Lanjut membaca

Seorang Tabib

Imam Hasan Al Basri bercerita: pada suatu hari aku dan seorang pemuda yang ahli ibadah berjalan-jalan keliling kota Basrah, dan memasuki beberapa pasar kota itu. Di satu pasar kami menjumpai seorang Tabib yang sedang duduk diatas kursi dan di depannya ada banyak orang Laki-laki, perempuan dan anak-anak. Mereka semua membawa mangkok berisi air, dan mereka meminta obat untuk penyakitnya masing-masing. Lalu pemuda teman saya tadi menghampiri Tabib itu dan bertanya: “Tuan Tabib, apa anda punya obat yang dapat menghapus dosa-dosa dan menyembuhkan penyakit hati?” Lanjut membaca

Ketabahan Ummu Sulaim

Dikisahkan, anak Abu Thalhah dari Ummu Sulaim meninggal dunia. Lalu, Ummu Sulaim berkata kepada keluarganya, ‘Jangan beri tahu Abu Thalhah tentang kematian anaknya. Biar aku yang memberitahunya. ’Kemudian, Ummu Sulaim menyajikan makan malam kepada Abu Thalhah. Abu Thalhah pun makan. Setelah itu, Ummu Sulaim berdandan dengan sangat cantiknya, sehingga Abu Thalhah ingin bersanggama dengannya. Lanjut membaca

Ketegaran Seorang Pemuda

Shuhaib radliyallahu anhu berkata bahwa, Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda, “Dahulu, ada seorang raja dari kalangan bangsa sebelummu (umat Nabi terdahulu). Sang raja mempunyai tukang sihir. Ketika usia si tukang sihir semakin tua, ia berkata kepada raja, ‘Aku telah lanjut usia. Karena itu, kirimkan seorang pemuda yang akan kuajari ilmu sihir.’ Maka, raja itu mengirim seorang pemuda untuk diajari ilmu sihir. Di tengah perjalanan menuju rumah si tukang sihir, pemuda itu bertemu seorang pendeta. Sang pemuda singgah di tempatnya dan mendengarkan ucapannya. Lanjut membaca

Ganti Lebih Baik

Sayyidah Ummu Salamah radliyahu ‘anha adalah salah satu istri Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam. Sebelum menikah dengan Rasulullah saw, beliau adalah seorang istri dari salah satu sahabat Rasulullah saw, yaitu Abu Salamah. Beliau bersama suaminya termasuk orang yang masuk Islam pada periode awal. Ketika suaminya Abu Salamah wafat di Madinah, Ummu Salamah sedih. Namun, seketika beliau tersadar dengan sabda Rasulullah saw, jika seseorang tertimpa musibah, maka ucapkan: Lanjut membaca