Abu Hurairah

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dilahirkan 19 tahun sebelum Hijrah. Nama kecil beliau sebelum memeluk agama Islam tidak diketahui dengan jelas, tetapi pendapat yang mashyur adalah Abd Syams. Nama Islamnya adalah Abdur Rahman. Beliau berasal dari kabilah Ad-Dusi di Yaman. Abu Hurairah memeluk Islam pada tahun 7 hijriyah ketika Rasulullah saw berangkat menuju ke Khaibar. Ketika itu ibunya masih belum menerima Islam bahkan menghina Nabi. Abu Hurairah lalu bertemu Rasulullah dan meminta beliau berdoa agar ibunya masuk Islam. Kemudian Abu Hurairah menemui ibunya kembali, mengajaknya masuk Islam. Ternyata ibunya telah berubah, bersedia mengucapkan dua kalimat syahadat. Lanjut membaca

Kawara’an Ibnu Sirin

Saat-saat bertabur bahagia meliputi diri Sirin di Kota Nabi, ketika ia melangsungkan pernikahan dengan Shafiyah, mantan budak Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu. Delapan belas orang sahabat yang pernah ikut Perang Badar hadir dalam pernikahannya. Kebahagiaan pasangan suami istri ini semakin bertambah ketika kelak Allah menganugerahkan seorang anak kepada mereka. Anak itu mereka namai Muhammad. Muhammad bin Sirin sempat berjumpa dengan tiga puluh orang sahabat Nabi radhiyallahu ‘anhum. Ia telah mengambil banyak ilmu dan hikmah dari mereka. Tidaklah mengherankan jika Muhammad bin Sirin kemudian menjadi seorang ulama yang faqih, berakhlaq mulia dan penuh dengan keteladanan. Lanjut membaca

Pesan Terakhir

Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seseorang berseru mengucapkan salam. “Bolehkah saya masuk?” tanyanya. Tapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk, “Maaf, ayahku sedang demam,” kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu. Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya pada Fatimah, “Siapakah itu wahai anakku?” “Tak tahulah ayahku, orang sepertinya baru sekali ini aku melihatnya,” tutur Fatimah lembut. Lalu, Rasulullah shalallahu alaihi wassalam menatap puterinya itu dengan pandangan yang menggetarkan. Seolah-olah bahagian demi bahagian wajah anaknya itu hendak dikenang. “Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. Dialah malaikatul maut,” kata Rasulullah. Fatimah pun menahan ledakkan tangisnya. Lanjut membaca

Turunnya Al Quran

Dalam hadits A’isyah yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari, dikisahkan bahwa Nabi SAW. datang ke gua Hira’ yang terletak diatas sebuah bukit di pinggir kota Mekah untuk berkhalwat beberapa malam. Kemudian sekembali beliau pulang mengambil bekal dari rumah isteri beliau, Khadijah, datanglah Jibril kepada beliau dan menyuruhnya membaca. Nabi menjawab, “Aku tidak bisa membaca.” Jibril merangkulnya sehingga Nabi merasa sesak nafas. Jibril melepaskannya; sambil berkata lagi, “Bacalah.” Nabi menjawab, “Aku tidak bisa membaca”. Lalu dirangkulnya lagi dan dilepaskannya sambil berkata: “Bacalah.” Nabi menjawab, “Aku tidak bisa membaca” sehingga Nabi merasa payah, maka Jibril membacakan ayat 1 sampai ayat 5 Surat Al-‘Alaq. Lanjut membaca

Sang Pencari Kebenaran

Ketika dia mendengar kabar tentang kerasulan Nabi, dia mengutus saudara laki-lakinya menyelidiki lebih lanjut mengenai Nabi. Setelah puas menyelidiki, saudaranya pun melaporkan kepada Abu Dzar bahwa Nabi Muhammad itu seorang yang sopan, santun, dan baik budi pekertinya. Ayat-ayat yang ia bacakan kepada manusia bukanlah puisi dan bukan pula kata-kata ahli syair. Laporan itu masih belum memuaskan hati Abu Dzar. Akhirnya ia pun berangkat sendiri ke Makkah untuk mencari tahu tentang Muhammad. Pada suatu hari menjelang malam di Kota Makkah, ia dilihat oleh Ali. Oleh karena ia seorang musafir, Ali terpaksa membawanya ke rumahnya dan melayaninya dengan baik sebagai tamu. Ali tidak bertanya apapun dan Abu Dzar tidak pula memberitahu Ali tentang maksud kedatangannya ke Makkah. Lanjut membaca

Isra’ Mi’raj

Kita memperingati Isra Mi’raj Nabi Muhammad sholallahu alaihi wassallam setiap tanggal 27 Rajab. Menurut ulama ada sekitar 16 shahabat Nabi yang meriwayatkan kisah tentang Isra Mir’aj. Diantaranya: Umar bin Khattab, Anas bin Malik, Abu Dzar, Ibnu ‘Abbas, Jabir, Abu Hurairah, Ubay bin Ka’ab, Hudzaifah bin Yaman, Shuhaib, Ibnu Umar, Ibnu Mas’ud, dan Ali bin Abi Thalib –radhiallahu ‘anhum. Imam Al-Albani mengumpulkan berbagai riwayat tentang Isra’ Mi’raj dan beliau bukukan dalam karya yang berjudul: Al-Isra wal Mi’raj. Berikut kumpulan riwayat mengenai Isra Mi’raj. Lanjut membaca

Ibnu Katsir

Imam Ibnu Katsir adalah seorang ulama Islam terkemuka yang hidup di abad kedelapan hijriah. Nama lengkapnya adalah Imadudin Abu al-Fida’ Ismail bin Umar bin Katsir bin Dhau’ bin bin Katsir bin Dzara’ bin Al-Qaisi Al-Bushrawi Ad-Dimasyqi Asy-Syafi’i. Lahir di desa Mujaidal dalam wilayah Bushra tahun 700 H/1301 M. Ibnu Katsir berasal dari keluarga yang terhormat. Ayahnya seorang ulama terkemuka di masanya. Dibesarkan dalam keluarga yang taat beragama, serta senantiasa menjunjung nilai-nilai keilmuan, Ibnu Katsir tumbuh sebagai sosok anak saleh yang bersemangat dalam mencari mutiara-mutiara ilmu yang berharga dimanapun berada. Dengan modal usaha dan kerja keras Ibnu Katsir menjadi sosok ulama yang diperhitungkan dalam percaturan keilmuan. Lanjut membaca

Imam Bukhari

Ketika imam Bukhari tiba di Baghdad, para ahli hadits disana berkumpul untuk menguji kemampuan dan kepintarannya. Mereka mengambil 100 buah hadits, lalu mereka bolak-balik sanad dan matannya. Matan hadits ini diberi sanad hadits lain dan sanad hadits lain dibuat untuk matan hadits yang lain pula. Sepuluh orang ulama tampil dan masing-masing mengajukan pertanyaan sebanyak 10 pertanyaan tentang hadits yang telah diputarbalikkan tersebut. Orang pertama tampil dengan mengajukan sepuluh buah hadits kepada Bukhari, dan setiap orang itu selesai menyebutkan sebuah hadits, Imam Bukhari menjawab dengan tegas: “Saya tidak tahu hadits yang Anda sebutkan ini.” Ia tetap memberikan jawaban serupa sampai kepada penanya yang kesepuluh, yang masing-masing mengajukan sepuluh pertanyaan. Lanjut membaca

Doa Yang Terkabul

Suatu hari ada Tiga orang yang berjalan menuju suatu tempat hingga mereka harus bermalam di sebuah gua. Tiba-tiba sebuah batu besar jatuh dari gunung, dan menutup seluruh pintu gua. Mereka berkata, “Tidak akan ada yang mampu menyelamatkan kita dari batu besar ini, kecuali jika kita berdoa kepada Allah dengan amal baik kita.” Orang pertama berkata, “Ya Allah, aku memiliki dua orang tua yang sudah lanjut usia. Aku tidak pernah mendahulukan keluarga atau budak untuk minum susu di sore hari sebelum mereka berdua meminumnya terlebih dahulu. Pada suatu hari, aku pergi terlalu jauh untuk  mencari kayu bakar sehingga aku tidak pulang terlambat dan mendapati kedua orangtuaku sudah tidur. Lalu, aku memerah susu untuk mereka, tapi mereka sudah tidur. Lanjut membaca

Bersiap Selalu

Setelah selesai prosesi pemakaman itu, Al-Imam Hasan Al-Basri -Rahimahullah- yang turut berdiri di tepi kubur itu menatap lembut orang yang berada di samping beliau sambil bertanya dengan suara pelan :”Sekiranya mayyit ini diberi kesempatan untuk hidup kembali, apa yang akan ia lakukan? Orang itu menjawab : “Ia akan bertaubat, beristighfar, shalat dan memperbanyak bekal kebaikan”. Al-Imam Hasan Al-Basri lalu bernasehat: “Dia sudah kehilangan kesempatan untuk melakukan semua itu. Sementara Kita masih diberi kesempatan, maka marilah kita gunakan kesempatan ini dengan sebaik baiknya…”. Salah satu kiat terbaik menghadapi kematian ialah : “Bersiap untuk wafat setiap hari..” dan Membayangkan “Bagaimana kalau saya mati hari ini..” Sungguh semakin sering kita membayangkan kematian itu semakin baik.