Yatim Sebelum Yatim

Saudara-saudari sekalian, Banyak ibu dan ayah yang super sibuk dengan rutinitasnya di luar rumah. Anak-anak menjalani kehidupan kesehariannya tanpa ekspresi cinta dan bukti perhatian yang cukup dari orang tua. Putera-Puteri itu hidup dalam dunianya sendiri, tanpa didampingi orang tuanya. Putera-Puteri itu memilih sendiri sahabat-sahabatnya tanpa arahan orang tua mereka. Putera-puteri itu tidak punya kesempatan untuk “berbicara” kepada orang tuanya. Lanjut membaca

Kiat Mendidik Anak

Mewujudkan anak shaleh-shalehah, memerlukan perjuangan agar bisa mengundang rahmat dan berkah Allah SWT. Perjuangan ini menuntut terpenuhinya paling tidak lima syarat, yaitu :

  1. Kemauan keras dan ikhlas untuk mendidik anak menjadi shaleh-shalehah.
  2. Kesepakatan suami/isteri dalam cara didik anak yang tepat.
  3. Teladan keshalehan dari orang tua.
  4. Konsistensi dalam mendidik anak disertai hati penuh cinta dan sikap bijak.
  5. Lingkungan dan pergaulan anak yang mendukung pendidikan keshalehan.

Lanjut membaca

Anak Kita Tanggung Jawab Kita

Saudara-saudari sekalian, Ingat, putra-puteri kita adalah darah daging, buah hati, dan penyejuk jiwa kita. Cinta dan kasih sayang kepada mereka, tertanam kuat dalam jiwa semua ibu dan ayah. Bahkan tak jarang suami merasa bahwa cinta isteri kepada putera-puterinya, lebih besar dari pada cinta istri kepadanya. Atau sebaliknya, isteri merasa bahwa ia selalu dipersalahkan jika putera-puterinya sakit, nakal atau bermasalah. Tak jarang suami isteri berselisih karena masalah anak anaknya. Lanjut membaca

Mengelola Marah

Saudaraku, rasa marah antar suami isteri adalah wajar selama tidak mengantar kepada dosa, tidak berlebihan dan tidak berlangsung lama. Demikian pula dengan rasa marah antara orang tua dengan anak, antar saudara, antara menantu dengan mertua, dan seterusnya.Rasa marah itu bersumber dari kekecewaan. Kekecewaan disebabkan oleh harapan yang belum tercapai. Rasa marah itu bisa bersifat pendidikan jika digunakan dengan benar dan baik, bisa efektif merubah kepada yang lebih baik. Lanjut membaca

Kuatkan Pondasi Rumah Tangga

Saudaraku, Rumah tangga akan goyah jika pondasinya lemah. Suami isteri akan bertengkar karena berbeda pendapat. Padahal beda pendapat dapat diatasi kalau keyakinannya sama. Keyakinan inilah yang perlu disepakati dan diperkuat, agar semua perbedaan dapat lebur dalam kesatuan keyakinan yang kuat. Dasar-dasar keyakinan itu antara lain: Pertama, suami isteri dipertemukan oleh Allah dalam ikatan suci, adalah nikmat yang wajib selalu disyukuri. Yang kedua, rumah tangga adalah ibadah yang membahagiakan, dalam rangka meraih ridha Allah SWT. Yang ketiga, ibadah & shalat yang rutin dan ikhlas, rasa cinta yang diungkapkan, serta keterbukaan dalam bingkai komunikasi yang indah, harus jadi kebiasaan setiap saat. Lanjut membaca

Rumah Tangga Itu Keadilan

Saudaraku, membangun rumah tangga Islami berarti membangun sikap adil dalam perhatian, pembagian, dan pemberian. Adil terhadap diri sendiri dan pasangan. Adil terhadap pasangan dan anak-anak kita. Adil terhadap semua anak. Adil terhadap orang tua dan mertua. Adil terhadap semua orang yang berada di bawah tanggung jawab kita. Adil terhadap tetangga. Adil terhadap saudara-saudara dan ipar-ipar. Lanjut membaca

Istri Butuh Penghargaan

Saudaraku, hidup  bersuami isteri memerlukan fondasi iman, cinta dan kasih sayang. Hidup bersuami isteri memerlukan ilmu, keterampilan dan seni. Hidup bersuami isteri memerlukan saling simpati, empati dan komunikasi. Hidup bersuami isteri memerlukan kelembutan, keterbukaan dan pengertian. Suami pada umumnya selalu ingin dilayani, diberi, dan diperhatikan. Isteri pada umumnya selalu ingin dipuji, disanjung, dimengerti, dimaklumi, dipahami, disayang, dan dilembuti. Lanjut membaca

Rumah Tangga Itu Komunikasi

Saudaraku, hidup berumah tangga berarti hidup untuk berjuang. Berjuang bersama untuk sebuah cita-cita mulia, yaitu: Rumah tangga Surgawi di dunia dan rumah tangga sempurna di surga firdaus di akhirat nanti, Aamiin. Perjuangan ini memerlukan ilmu, iman, cinta, konsensus, komitmen, dan konsistensi. Semua kata kunci ini bertumpu pada “komunikasi” yang baik. Lanjut membaca

Panggilan Untuk Jiwa

Saudaraku, ada baiknya kita selalu memberi peringatan dan penguatan pada diri sendiri: wahai jiwa yang tidur, bangunlah. Wahai jiwa yang malas, bangkitlah. Wahai jiwa yang kotor, bersihkanlah. Wahai jiwa yang lemah, berlatihlah. Wahai jiwa yang sakit, berobatlah. Wahai jiwa yang lalai, sadarlah. Wahai jiwa yang bodoh, belajarlah. Wahai jiwa yang keras, melunaklah. Wahai jiwa yang pemarah, peramahlah. Wahai jiwa yang takabbur, tawadhu’lah. Wahai jiwa yang pendendam, pemaaflah. Wahai jiwa yang gelisah, tenanglah. Wahai jiwa yang pendosa, bertaubatlah. Lanjut membaca