Keikhlasan

  • Sumo

Dari Amirul Mukminin Abu Hafsh Umar bin Khottob radhiyallahu ’anhu berkata: aku mendengar Rasullah shalallahu’alaihi wasallam bersabda: ”Sesungguhnya amal-amal itu sesuai dengan niatnya, dan sesungguhnya setiap amal seseorang itu tergantung niatnya, maka barang siapa yang hijrahnya itu kepada Allah dan Rasul-Nya, maka (pahala) hijrahnya (berpulang) kepada Allah dan Rasul-Nya, dan barangsiapa yang hijrahnya untuk suatu (kepentingan) dunia yang hendak dicapainya atau karena seorang perempuan yang hendak dinikahinya, maka hijrahnya (yang akan didapat) sesuai dengan apa yang diniatkan itu ” (HR. Bukhori dan Muslim)

Imam Thabrani meriwayatkan tentang sebab disabdakannya hadits ini (sababul wurud ) dengan sanadnya dari Ibnu Mas’ud, bahwa beliau berkata: ”Diantara kami (para shahabat yang hijrah) ada seorang pria yang sedang meminang seorang wanita bernama Ummu Qois, tetapi wanita tersebut menolak untuk dinikahinya kecuali kalau pria tadi mau berhijrah bersama-sama, lalu iapun hijrah dengan maksud agar bisa menikahi Ummu Qois. Pria tersebut kemudian dijuluki dengan ” Muhajiru Ummu Qois (seorang yang hijroh karena Ummu Qois).

Para Ulama telah sepakat akan keutamaan hadits ini, sehingga banyak diantara mereka yang  menjadikannya sebagai pembuka dari kitab-kitab mereka, seperti Imam Bukhori dalam kitab ” shahihnya ”. Imam Nawawi dalam tiga bukunya ” Al-Arbai’in An-nawawiyah, Al-Adzkar dan Riyadhushalihin ”. Imam Abu Daud berkomentar tentang pentingnya hadits ini: ”  Hadits ini setengah dari Islam, karena agama itu terdiri dari aspek lahir yaitu amal, dan aspek batin yaitu niat ”.

Kandungan utama dari hadits ini adalah tentang pentingnya niat dan ikhlas dalam beramal, yang dalam Islam ia merupakan pilar utama dalam ibadah bahkan menjadi ruhnya ibadah. Hal tersebut disebabkan karena amal seorang mukmin baru akan bernilai ibadah yang diterima oleh Allah jika memenuhi dua syarat; niat ikhlash (karena Allah) dan benar (sesuai dengan tuntunan Rasulullah saw), dan para ulama meyakini bahwa niat ikhlas (amal batin) lebih utama dari amal lahir/perbuatan, meskipun kedua-duanya mutlaq diperlukan adanya, Rasulullah shalallahu ’alaihi wasallam bersabda yang artinya: ”Sesungguhnya Allah tidak melihat tubuh kalian dan tidak juga bentuk kalian, akan tetapi melihat hati kalian ” (HR. Muslim)

Niat artinya bermaksud atau berkeinginan atau bertekad, dan ia merupakan amalan batin atau hati, yang karenanya tidak harus dilafadzkan. Sementara Ikhlas artinya menjadikan Allah sebagai niat utama atau tujuan utama atau sebab utama dalam melakukan suatu amal. Berdasarkan  pengertian ikhlas  tersebut, maka apabila seseorang dalam melakukan suatu amal ada kepentingan duniawi  yang baik yang menyertai, asalkan bukan menjadi niat utama, maka tetap diperbolehkan, seperti berdagang ketika menuaikan ibadah haji (QS. Al Baqarah:198), dan sebagaimana diisyaratkan Allah dalam firman-Nya yang artinya: ”Dan carilah pada apa yang Telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi  ” (QS. Al Qashas: 77)

Beberapa amal perbuatan yang tidak bertentangan dengan ke-ikhlasan :

  1. Berpenampilan baik, Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda: ”Tidak masuk surga seorang yang didalam hatinya ada sebesar dzarrah dari sifat sombong, berkata seorang laki-laki: sesungguhnya seseorang itu senang bila pakaiannya baik dan sandalnya baik, Rasulullah bersabda: Sombong adalah mengingkari kebenaran dan merendahkan/menghina manusia” (HR. Muslim, Abu Daud dan Ibnu Majah)
  2. Bergembira apabila dapat melaksanakan ketaatan dan bersedih apabila berbuat maksiat, Rasuluillah shalallahu ’alaihi wasallam bersabda: ” … Barang siapa yang bergembira karena kebaikannya dan bersedih karena keburukannya, maka ia adalah seorang mukmin ” (HR. Ahmad dan Tirmidzi)
  3. Memperlihatkan amal baik kepada orang lain dengan niat agar dicontoh, bersabda Rasulullah shalallahu ’alaihi wasallam: ”Barang siapa yang berbuat kebaikan, maka ia akan mendapatkan pahala dari kebaikannya itu dan pahala dari orang yang mengerjakan kebaikan itu sesudahnya tanpa mengurangai pahala orang itu sedikitpun  … ” (HR. Muslim, Tirmidzi dan Ahmad)
  4. Meminta amanah/jabatan, ketika tidak ada yang berkapasitas, seperti kisah nabi Yusuf ’alaihissalam ketika beliau meminta untuk dijadikan penanggung jawab keuangan negara, sebagaimana firman Allah: ”Berkata Yusuf: “Jadikanlah Aku bendaharawan negara (Mesir); Sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga, lagi berpengetahuan ”  (QS. Yusuf: 55)

Diantara indikasi/tanda keikhlasan

Buruk sangka terhadap diri sendiri dan tidak berbangga dengan keberhasilan, Allah berfirman: ”Dan orang-orang yang memberikan apa yang Telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka ”

Maksudnya: Karena tahu bahwa mereka akan kembali kepada Tuhan untuk dihisab, maka mereka khawatir kalau-kalau pemberian-pemberian (sedekah-sedekah) yang mereka berikan, dan amal ibadah yang mereka kerjakan itu tidak diterima Tuhan.

Tidak adanya perubahan sikap, ketika dipuji maupun dicela atas amal yang telah ia lakukan, karena ia memang hanya mengharapkan ridho dari Allah semata, dan karenanya tidak pernah mengharapkan pujian seseorang atau takut dari celaannya

Lebih senang untuk menyembunyikan amal baiknya, karena takut riya’

Urgensi dan manfaat Keikhlasan

Keikhalsan adalah salah satu syarat bagi diterimanya amal ibadah. Sebagaimana telah diketahui, bahwa amal ibadah seorang muslim akan diterima, apabila amal tersebut benar (sesuai tuntunan Rasulullah shalallahu ’alaihi wasallam), dan dikerjakan dengan niat untuk mencari ridho Allah (ikhlash ), firmanAllah: ”Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya ” (QS. Al Bayyinah: 5)

Keikhlasan adalah faktor  yang akan senantiasa menjaga semangat dan istiqomah dalam beramal. Yang demikian itu karena seorang yang beramal dengan ikhlas meyakini bahwa Allah sajalah yang akan memberi pahala atas amal yang dikerjakannya, untuk itu apabila ada yang memuji atas keberhasilannya atau ada yang mencela atas kegagalannya tidak akan menambah atau melemahkan semangatnya, Allah berfirman: ”Jika kamu berpaling (dari peringatanku), Aku tidak meminta upah sedikitpun dari padamu. upahku tidak lain hanyalah dari Allah belaka, dan Aku disuruh supaya Aku termasuk golongan orang-orang yang berserah diri (kepada-Nya) ” (QS. Yunus: 72)

Keikhlasan adalah faktor penyebab teraihnya ridho Allah. Allah berfirman: ”Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, Maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya “. (QS. Al Kahfi: 110)

Keikhlasan adalah faktor yang mempermudah taraihnya taufiq dan pertolongan Allah. Allah telah berjanji untuk menolong setiap yang mau bersungguh-sungguh untuk mecari ridho-Nya dengan firmannya: ”Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) kami, benar- benar akan kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan kami. dan Sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik ”  (QS. Al Ankabut: 69)

Keikhlasan adalah faktor yang  dapat menyelamatkan dari musibah. Hal tersebut nampak jelas dalam kisah para Nabi yang Allah selamatkan dari musibah-musibah yang mereka hadapi, dan demikian jugalah janji Allah terhadap orang-orang beriman: ”Kemudian kami selamatkan rasul-rasul kami dan orang-orang yang beriman, Demikianlah menjadi kewajiban atas kami menyelamatkan orang-orang yang beriman ” (QS. Yunus:103)

Keikhlasan adalah faktor yang akan senantiasa dapat menjauhkan diri dari segala penyakit hati seperti senang dipuji, berbangga dan sebagainya. Seorang yang ikhlas dalam beramal akan senatiasa meyakini bahwa keberhasilan dan kesuksesan yang diraihnya tidak mungkin terjadi tanpa ada pertolongan dan taufiq dari Allah, untuk itu ia tidak akan membanggakan diri dengan keberhasilannya apalagi sombong

Keikhlasan adalah faktor yang akan dapat menyebabkan terkabulnya do’a. Sebagaimana dalam hadits shahih Rasulullah shallahu ’alaihi wasallam yang mengisahkan tiga orang laki-laki yang terjebak didalam gua, kemudian masing-masing berdo’a dengan wasilah/perantara amal-amal baik yang telah mereka lakukan dengan ikhlas, kemudian Allah segera berkenan untuk mengabulkan do’a mereka    

Keikhlasan adalah faktor yang menjamin teraihnya pahala dari setiap amal baik meskipun sekedar membuang duri dari jalan atau sekedar bermanis muka ketika bertemu dengan seseorang (ACA)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.