Kota Makkah

  • Sumo

Al Qur’an surat Al-Balad terdiri atas 20 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah, diturunkan sesudah surat Qaaf. Dinamai Al Balad, diambil dari perkataan Al Balad yang terdapat pada ayat pertama surat ini. Yang dimaksud dengan kota di sini ialah kota Makkah.

Tadabbur ayat  1–2 : Keutamaan kota Makkah

  1. Aku benar-benar bersumpah dengan kota Ini (Mekah), 2. Dan kamu (Muhammad) bertempat di kota Mekah ini.

Dalam ayat 1-2 Allah bersumpah dengan kota Mekah yang di dalamnya terdapat ka’bah yang menjadi kiblat bagi umat Islam di seluruh dunia dan tempat seorang besar yang diakui oleh lawan dan kawan atas kebesarannya, yaitu Nabi Muhammad saw. dilahirkan dan bertempat tinggal. Beliau adalah utusan Allah yang membawa agama Islam untuk disampaikan kepada seluruh manusia.

Tentang keutamaan kota Makkah dan keharamannya, Allah berfirman dalam surat Al-Baqoroh: 126: “Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berdoa: “Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini, negeri yang aman sentosa, dan berikanlah rezeki dari buah-buahan kepada penduduknya yang beriman diantara mereka kepada Allah dan hari kemudian. Allah berfirman: “Dan kepada orang yang kafirpun Aku beri kesenangan sementara, Kemudian Aku (Allah)  paksa ia menjalani siksa neraka dan Itulah seburuk-buruk tempat kembali”.

Dan Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya negeri ini telah diharamkan oleh Allah sejak diciptakan bumi dan langit, ia akan tetap haram sampai hari kiamat, tidak boleh ditebang pohon-pohonannya dan tidak boleh memungut apapun yang ditemukan, bahwasanya Allah telah menghalalkan bagiku satu saat di siang hari (saat Fathu Makkah), kemudian kembali diharamkan Allah sampai hari kiamat.”

Tadabbur ayat 3-4 :

  1. Dan demi bapak dan anaknya. 4. Sesungguhnya kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah.

Kemudian Allah bersumpah demi bapak (Adam) dan anaknya (keturunannya), bahwa sesungguhnya Dia telah menciptakan manusia yang selalu berada dalam susah payah, berjuang semenjak permulaan hidupnya sampai akhir hayatnya dan di akhirat nanti masih harus memikul beban yang berat dan menghadapi kesulitan yang tidak dapat diatasinya kecuali dengan pertolongan Allah SWT.

Para ahli tafsir berkata:”Yang dimaksud dengan susah payah pada ayat tersebut adalah payahnya seorang ibu yang sedang mengandungnya, payah saat melahirkan, payah saat mendidiknya, payah saat belajar, payah saat mencari pekerjaan dan payah saat sakaratul maut”.

Tadabbur ayat 5-7 : Harta yang ditumpuk tidak akan bisa menghalangi siksaan Allah

  1. Apakah manusia itu menyangka bahwa sekali-kali tiada seorangpun yang berkuasa atasnya? 6. Dan mengatakan: “Aku Telah menghabiskan harta yang banyak”. 7.  Apakah dia menyangka bahwa tiada seorangpun yang melihatnya?

Apakah dia  menyangka dengan harta yang ia kumpulkan dapat menghalangi kekuasaan dan kehendak Allah? Diapun mengatakan dengan sombongnya: aku telah menghabiskan harta yang banyak. Apakah dia menyangka bahwa perbuatannya tidak dilihat dan diawasi oleh Allah, dan Allah tidak akan menghisab perbuatannya baik yang besar maupun yang kecil?

Al-Hasan Al-Bashri menafsirkan ayat ke-5 sebagai berikut: “Manusia mengira bahwa ia tidak akan dituntut harta kekayaannya, dari mana ia dapat dan ke mana ia belanjakan. Karena ia merasa bahwa ia telah menafkahkan harta yang banyak sekali.

Tadabbur ayat  8-10 : Allah mengaruniakan kepada manusia

  1. Bukankah kami telah memberikan kepadanya dua buah mata, 9. Lidah dan dua buah bibir. 10.  Dan kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan.

Tidaklah Kami (Allah) jadikan untuknya dua mata untuk melihat, lisan (mulut) untuk berbicara, dan Kami jelaskan kepadanya jalan kebaikan dan jalan keburukan.

Rasulullah saw. bersabda dalam sebuah hadits qudsi: “Allah berfirman: ‘Hai anak Adam Aku telah memberimu nikmat yang amat banyak, engkau tidak akan dapat menghitungnya dan menyukurinya. Dua mata untuk engkau melihat dengannya dan aku beri tutup maka gunakan untuk melihat apa yang Aku halalkan dan apabila engkau melihat benda yang Aku haramkan maka tutuplah matamu. Juga Aku beri kepadamu lidah juga Aku beri dan Aku beri alat penutupnya, maka gunakanya untuk mengucapkan apa yang Aku perintahkan dan halalkan bagimu, jika ada sesuatu yang aku haramkan maka tutuplah rapat-rapat lidahmu, juga Aku berikan kepada kamu kemaluan dan Aku beri tutup, maka pergunakanlah kemaluanmu itu untu apa yang Aku halalkan dan jika ada sesuatu yang Aku haramkan maka tutuplah. hai anak Adam engkau tidak sanggup menanggung murka Ku dan tidak kuat menerima siksa pembalasan Ku”.

Tadabbur ayat 11-18 : Kiat-kiat untuk meraih kebahagian di dunia dan di akhirat

  1. Tetapi dia tiada menempuh jalan yang mendaki lagi sukar. 12. Tahukah kamu apakah jalan yang mendaki lagi sukar itu? 13.  (yaitu) melepaskan budak dari perbudakan, 14.  Atau memberi makan pada hari kelaparan, 15.  (kepada) anak yatim yang ada hubungan kerabat, 16.  Atau kepada orang miskin yang sangat fakir. 17.  Dan dia (Tidak pula) termasuk orang-orang yang beriman dan saling berpesan untuk bersabar dan saling berpesan untuk berkasih sayang. 18.  Mereka (orang-orang yang beriman dan saling berpesan itu) adalah golongan kanan.

Diterangkan bahwa menempuh jalan yang mendaki lagi sukar itu ialah dengan mengerjakan amal yang terpuji yaitu memerdekakan budak dari perbudakan atau memberi makan pada saat terjadi kelaparan kepada anak yatim yang ada hubungan kerabat. Dengan demikian mereka telah menunaikan dua kewajiban sekaligus; yaitu kewajiban terhadap anak yatim dan kewajiban kerabat. Atau memberi makan orang miskin yang sangat fakir yang tidak ada jalan baginya akan mendapat uang, karena ia tidak kuat dan sangat lemah. Mereka juga beriman dan kemudian saling berpesan untuk bersabar menghadapi kesulitan ketika menegakkan agama Allah dan saling berpesan untuk berkasih sayang sesama manusia. Orang-orang yang demikian itu adalah “Ashabul Yamin” penghuni surga. Orang-orang inilah yang dimaksud Allah dengan firman-Nya: (yang artinya) “Dan golongan kanan, alangkah bahagianya golongan kanan itu. Berada di antara pohon bidara yang tidak berduri, dan pohon pisang yang bersusun-susun (buahnya), dan naungan yang terbentang luas, dan air yang tercurah dan buah-buahan yang banyak, yang tidak berhenti (buahnya) dan tidak terlarang mengambilnya, dan kasur-kasur yang tebal lagi empuk.” (QS. Al-Waqi’ah: 27-34)

Wajib saling menasehati antara sesama muslim

Diantara indikator keimanan seseorang adalah punya kepedulian terhadap sesama muslim. Telah disebutkan dalam Al-Qur’an diantaranya adalah saling nasehat-menasehati dalam kebenaran (tawashau bil haq), dalam kebenaran (tawashau bis shabri), dengan penuh kasih sayang (tawashau bil marhamah) .

Khususnya bagi para da’i tiga metode ini sangat membantu dalam  menyebarkan syiar Islam. Yang dimaksud dengan menasehati dalam kebenaran adalah kebenaran yang bersumber dari al-Qur’an dan sunnah Rasulullah saw. Disamping itu, dunia dakwah penuh dengan ujian dan cobaan sehingga perlu kesabaran. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.

Saling menasehati juga harus dilakukan dengan penuh kasih sayang, karena muslim yang satu dengan yang lain adalah bersaudara. Rasulullah saw mengumpamakan mereka seperti satu jasad. Sebagaimana sabdanya: “Terlihat orang-orang beriman satu dengan yang lain, dalam berkasih sayang, dalam mencintai, dan berlemah lembut seperti jasad yang satu, apabila salah satu jasad (tubuh) sakit maka yang lainpun akan merasakan demikian.” (HR.Bukhari)

Oleh karena itulah sikap lemah lembut dalam menyampaikan kebenaran hendaklah menjadi prioritas utama, ber-husnuzhon terhadap sesama adalah sebagai modal awal pembuka komunikasi, karena mukmin yang satu dengan yang lain adalah bersaudara.

Tadabbur ayat 19-20 : Balasan bagi orang-orang yang ingkar

  1. Dan orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat kami, mereka itu adalah golongan kiri. 20. Mereka berada dalam neraka yang ditutup rapat.

Dalam ayat ini Allah menerangkan bahwa orang-orang yang kafir kepada ayat-Nya adalah golongan kiri yang berada di dalam neraka yang ditutup rapat. Maka oleh sebab itu mereka tidak akan dapat melepaskan dirinya dan bebas dari azab api neraka itu. Dalam ayat yang lain Allah berfirman: (yang artinya) “Dan golongan kiri, siapakah golongan kiri itu. Dalam (siksaan) angin yang amat panas dan air panas yang mendidih dan dalam naungan asap yang hitam. Tidak sejuk dan tidak menyenangkan. Sesungguhnya mereka sebelum itu hidup bermewah-mewah. Dan mereka terus menerus mengerjakan dosa yang besar. Dan mereka selalu mengatakan: “Apakah apabila kami mati dan menjadi tanah dan tulang belulang, apakah sesungguhnya kami benar-benar akan dibangkitkan kembali?, apakah bapak-bapak kami yang terdahulu (dibangkitkan pula)?” (QS. Al Waqi’ah: 41-48)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.