Mari Nilai Diri Sendiri

  • Sumo

Hal terberat dari diri kita adalah “menilai” diri sendiri, karena ego kita akan berjuang memaklumi dan membela kesalahan dan kekurangan kita. “Hisablah dirimu di dunia, maka akan ringanlah hisab di akhirat nanti”. Ibarat perjalanan, hidup ini perlu pemberhentian sejenak untuk melihat kebelakang. Untuk evaluasi, kemudian berlanjut berjanji yang dibuat pada diri sendiri untuk memulai sesuatu yang baik dan menghentikan kebiasaan yang buruk.

Mari menilai diri kita sendiri dalam aspek berikut ini :

Cakrawala pandang/wawasan: Bagai elang yang terbang, makin tinggi maka semakin luas pandangannya (Eagle Eye). Semakin berumur semestinya makin luas bahan pertimbangan dalam menilai dan mensikapi masalah kehidupan, tidak gegabah dan sembrono dalam mengambil keputusan.

Keyakinan: Bagai pohon yang dalam pertumbuhan dan perkembangannya maka akarnya makin menghunjam kedalam tanah, batang dan cabangnya makin menjulang keatas. Semakin berumur semestinya makin kuat keyakinan kita kepada Allah dan makin kokoh dalam mensyiarkan kebenaran Islam, bukan tambah ragu dan bimbang.

Hati. Bagai tanah gembur yang mendapatkan hujan, makin lama semakin subur dan menumbuhkan tanaman dengan beranekaragam manfaatnya. Semakin berumur semestinya makin mudah menerima dan mengambil hikmah dari peristiwa yang terjadi sehingga hati menjadi lembut dan bercahaya, bukan makin keras dan ngeyelan.

Perilaku/akhlaq. Bagai group orchestra yang makin sering berlatih dan tampil maka semakin selaras dan kompak. Semakin berumur semestinya perilaku/akhlaq kita semakin selaras antara lisan, hati dan perbuatan dan kokoh tidak mudah terpengaruh oleh sanjungan maupun cacian.

Waktu/kesempatan. Bagai kuda pacu yang makin dekat garis finish maka semakin cepat larinya. Semakin berumur semestinya semakin semangat dalam merespon dan menjalankan perintah kebaikan, bukan malah malas-malasan dan menunda-nunda serta cari-cari alasan.

Kemandirian. Semakin banyak makan asam garam dan menghadapi banyak gelombang kehidupan mestinya makin percaya diri dalam menghadapi masalah sehingga tetap terjaga wibawa/muru’ahnya dengan tetap mengembangkan diri/tarbiyah dzatiyah.

Kemanfaatan. Bagai buah-buahan makin tua maka semakin matang dan siap saji serta siap santap. Semakin berumur semestinya semakin matang pribadinya (makin nampak sifat terpujinya/sifat mahmudah: syukur, sabar, tawadhu’, tawakal, qana’ah dan wara’) dan matang sosialnya (makin terealisasikannya peran mushlih/ perbaikan sosial dan rahmatan lil ‘alamin/penebar rahmat bagi seluruh alam).

Mari membiasakan diri untuk menilai diri agar terjaga kesimpulan bahwa :

  1. Nilai kita masih kurang dari sempurna, sehingga memicu dan memacu kita dalam proses memperbaiki diri secara sungguh-sungguh dan terus menerus.
  2. Kita harus tetap menjaga rasa syukur atas pencapaian nilai kita, bagaimanapun kondisinya karena ternyata kita masih diberi waktu dan kemampuan untuk melangkah lebih baik lagi kedepan.
  3. Kita harus tetap menjaga optimisme dalam menempuh masa depan, bagaimanapun misterinya karena ternyata yang dinilai oleh Allah adalah amal/kerja kita, bukan hasilnya.

Menjadi tua itu otomatis, menjadi dewasa itu autotaktis. Teruslah melangkah sampai Sang Pemilik Waktu memanggil kita pulang”.  (H. Suratno/Ketua IKADI Kab. Madiun)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.