Mengapa Enggan Jadi MC?

  • Sumo

Hidup atau redupnya suatu acara, lancar atau malah diharap segera bubarnya kegiatan banyak dipengaruhi bagaimana ‘playmaker forum’ berperanan. Dan sosok itu bernama MC (Master of Ceremony) alias pembawa acara. Pengalaman kami 23 tahun silam sejak 1994 menjadi MC di berbagai forum, menyeruakkan keinginan kadang greget juga melihat masih banyak kader dai, mahasiswa, pemuda yang kaku saat tampil atau sebagian malah menolak mentah-mentah walaupun katakanlah dibujuk orang se RT saat diminta sekedar jadi MC. Kenapa? Barangkali karena diyakini itu pekerjaan tak berpahala? Kami yakin tidak mungkinlah. Apa karena merasa tidak bisa? bisa jadi kebanyakan begitu.

Tetapi menurut kami setelah disimpulkan disebabkan 2 hal. Yaitu Kekuatan keinginan yang masih lemah dan belum terbiasa. Bukankah berbicara, menyampaikan, mengarahkan itu adalah kebaikan yang bermanfaat dan bagian dari dakwah itu sendiri? Ingatlah saat Alloh SWT bertanya kepada kita tentang Ahsanu Qoula di Al Qur’an Surat Fushilat. 41 ayat 33. Siapa yang Terbaik Kata-katanya? Ternyata bila dia melakukan 3 kriteria yaitu mengajak kepada jalan Alloh, mengamalkan Amal Sholeh dan percaya diri/gagah mengatakan Aku Seorang Muslim yang siap mengatakan dan mengamalkan kebaikan dimanapaun dan kapanpun.

Oleh karena itu dalam konteks uraian ini, kenapa sebagian kita enggan jadi MC kapanpun dan dimanapun? Tentu disisi lain adalah tak bijak apabila pada suatu komunitas MC nya bertahun2 itu2 saja. Kalau para ulama, tokoh, orangtua tak berfikir kaderisasi dan regenerisasi MC sudah barangtentu bukanlah orangtua yang bertanggung jawab, semoga kita diberi petunjuk oleh Alloh SWT agar memikirkan MC.  Ibarat Pilot, bila kita sering tampil MC di berbagai forum maka itu adalah jam terbang yang akan semakin mematangkan. Lantas alasan apa lagi kalau da’i dan para pemuda Islam tidak mau dimunculkan di ranah publik sekedar cuap cuap tanpa terbebani membawa materi yang berat layaknya dalam sebuah seminar ilmiah.

MC itu jembatan kebaikan yang menyambungkan banyak kebaikan, membuat lalu lintas arahan para pemberi nasehat dengan masyarakat dan seterusnya. Gara-gara stimulan/rangsangan saat jadi MC pula kami bisa mendesign program bagaimana Pesantren dapat 21 Motor Wakaf, 20 hadiah Umroh dan berbagai hasil fundrising untuk pembangunan peradaban Al Qur’an. MC bisa bebas berkreasi, berinovasi dan melakukan motivasi, provokasi bahkan agitasi. Karenanya insyaAlloh menjadi MC adalah keputusan yang menggiurkan di dunia akherat.

Asyik loh melihat orang tersenyum bahkan bangkit semangat gara-gara rekayasa kata-kata kita. Berjuta pintu amal sholeh bisa kita buka dengan silat lidah kita dan ini amazing. Kita banyak amal dengan sekedar menunjukkan amal apalagi kita turut melakukannya akan Doble bahkan Multiple pahala InsyaAlloh. Lantas masih adakah alasan lain kita tak tertarik dan tak semangat menjadi MC? bukankankah Alloh SWT memerintahkan kita menyampaikan dan mensyukuri karunia verbal kita? Coba baca dan renungi kembali QS. Al Baqarah ayat 151 dan 152. Wallohu ‘alam (Agus Rohmawan, pengurus IKADI Jember)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.