Menjadi Orangtua Asyik

  • Sumo

Orangtua hendaknya selalu meng-upgrade kemampuannya dalam berinteraksi dengan anak-anaknya. Belajar ilmu parenting itu sepanjang hidup. Karena tantangan yg dihadapi anak-anak kita berbeda dengan yang kita hadapi.  Sahabat Ali Bin Abi Thalib ra. memberi arahan kepada kita : “Ajarilah anak-anakmu sesuai dengan zamannya, karena mereka hidup di zaman mereka bukan pada zamanmu. Sesungguhnya mereka diciptakan untuk zamannya, sedangkan kalian diciptakan untuk zaman kalian”.( Ali Bin Abi Thalib Ra) Beliau memberi rumus 7 X 3 dalam mendidik anak.

Tujuh Tahun Pertama. Perlakukan anak sebagai raja.  Full dekapan kasih sayang, full perhatian. Bukan memanjakan. Jangan terlalu percayakan kepada asisten rumahtangga (ART) atau Kakek-nenek dalam mendidik anak. Pada umumnya kakek dan nenek bukan pendidikan yang baik. Biasanya Beliau tidak berdaya menghadapi cucunya.Semua keinginan cucunya akan dituruti. Ini akan menjadi bumerang. Kurang baik dalam perkembangan anak-anak kita. Apalagi pengasuhan anak full diserahkan kepada ART.Akibatnya anak lebih nyaman dalam dekapan ART-nya daripada ayah bundanya.Maka jangan heran banyak orangtua akan terkejut melihat anak-anaknya lebih happy dekat dengan ART-nya daripada orangtuanya.

Golden Age. Masa ini adalah masa emas. Pada masa ini saat kemampuan anak dalam menyerap informasi sangat tinggi.Perkembangan otaknya pada fase ini sangat tinggi. 50% kemampuan anak ditentukan pada 4 tahun pertamanya. 30% nya sebelum usia 8 tahun ( penelitian Gorden Dryden & Jeannette Vos)

Usia 8-14 tahun (Perlakukan anak sebagai tawanan)

Pada fase ini anak sudah difahamkan hak dan kewajibannya. Baik kewajiban menjaga imannya (Aqidahnya), syariah dan akhlaknya. Saatnya anak-anak belajar disiplin menjaga Shalat 5 waktunya, tahu batasan pergaulan laki-laki dan perempuan.Tahu tentang adab, baik kepada orangtua, guru atau orang yg lebih tua. Dari Amr bin Syu’aib, dari bapaknya dari kakeknya radhiyallahu ‘anhu, beliau meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Perintahkan anak-anak kalian untuk mengerjakan shalat ketika mereka berumur 7 tahun. Pukul mereka jika tidak mengerjakannya ketika mereka berumur 10 tahun. Pisahkanlah tempat-tempat tidur mereka.” (HR. Abu Daud no. 495)

Tentunya dengan pukulan yang tidak membahayakan, pukulan  yg dilandasi kasih sayang. Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mendidik ‘Umar bin Abi Salamah adab makan yang benar. Beliau berkata pada ‘Umar,  “Wahai anak kecil, sebutlah nama Allah (bacalah bismillah) ketika makan. Makanlah dengan tangan kananmu. Makanlah yang ada di dekatmu.” (HR. Bukhari no. 5376).

Usia 15 sampai 21 tahun (Perlakukan anak sebagai Sahabat)

Difase ini pada umumnya anak sudah Akil Baligh.Maka hendaknya orang tua memperlakukan anak sebagai sahabat sekaligus menjadi teladan yang baik bagi mereka.Ajaklah berdiskusi, bertukar pendapat, agar mereka nyaman dan terbuka dengan orangtua. Diantara tanda baligh: Anak laki-laki : Mimpi basah, tumbuh rambut kemaluan, muncul jakun dan suara membesar. Anak perempuan : haid, membesarnya buah dada dan pinggul (potensi membesar kesamping)

Ketika baligh tiba : Malu dan takut. Anak perempuan menjadi lebih sensitive, anak laki-laki lebih cenderung ke perasaan seksual. Gejolak kuat pada diri ( terasa semangat meletup-letup). Sehingga penasaran dan selalu ingin mencoba hal baru. Bagi anak perempuan, merasa butuh menjadi “pusat perhatian”. Bagi anak laki-laki, penting merasa “puas”. Emosi atau gampang tersinggung/marah. Tertarik pada lawan jenis. Tidak suka digurui, tapi butuh sahabat.

Selain itu orang tua juga harus membangun kesadaran anak bahwa mereka sudah memasuki usia akil baligh. Pada masa ini, selain mengalami perubahan fisik, anak juga mengalami perubahan mental, spiritual, sosial budaya dan lingkungan yang memungkinkan timbulnya masalah yang harus mereka hadapi.

Orang tua harus mampu memposisikan diri sebagai sahabat agar anak mau curhat dan bercerita mengenai apa yang sedang mereka hadapi untuk kemudian mencari solusi bersama. Pengawasan terhadap anak selalu kita lakukan tanpa disertai sikap yang otoriter agar anak tidak merasa terkekang.

Dengan begitu anak akan merasa disayangi, dihargai, dicintai dan akan tumbuh rasa percayadiri dan menjadi pribadi yang kuat sehingga mereka senantiasa mampu melakukan kebaikan dan menjauhi keburukan.

Selanjutnya, orang tua sudah harus mempercayakan tanggung jawab yang lebih berat kepada anak, hal ini penting agar kelak anak akan menjadi pribadi yang cekatan, bertanggung jawab, mandiri dan dapat diandalkan. Hal yang penting lainnya adalah membekali anak dengan keahlian yang akan mereka butuhkan kelak ketika mereka sudah terjun ke masyarakat. (BS IKADI Kab. Blitar)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.